(Masih) Ada Bara Dalam Sekam

Erhaje88

Indonesia adalah salah satu negara yang kaya raya dan makmur. Bukit, gunung dan sawah ladang terhampar luas. Rempah rempah dan bahan mineral juga tersedia melimpah ruah. Bukan hanya alamnya saja yang kaya, tetapi budayanya pun kaya. Dari Sabang sampai Merauke, memiliki budaya dan bahasa yang berbeda.

Rais Aam PBNU dari waktu ke waktu (Facebook/Abdir Rahman)

Begitu kayanya, bangsa Eropa datang dan menjajah Indonesia. Di awali dengan rempah rempah yang mahal di Eropa, sedangkan di Indonesia sangat murah, membuat mereka ingin menguasai Indonesia. Di tambah lagi kependudukan Jepang yang memanfaatkan Indonesia agar menjadi sekutunya dalam perang melawan Amerika dan sekutunya.

Perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka sangatlah kuat. Kita bangsa yang merdeka hasil dari jerih payah para pahlawan yang telah mengorban jiwa dan raganya untuk kita.

Slogan “MERDEKA” dikumandangkan di segala penjuru. Kaum nasionalis dan agamis pun ikut berjuang dalam memerdekakan bangsa Indonesia.

Tatkala Indonesia merdeka, dirumuskanlah Pancasila sebagai dasar negara. Pada piagam Jakarta, Indonesia meletakkan syariat Islam pada sila pertama. Tapi, Indonesia bagian Timur akan mengancam memisahkan diri. Maka akhirnya, syariat Islam dihilangkan dalam sila pertama.

Tapi, bukan berarti Indonesia anti syariat Islam. Terbukti, di dalam Undang-Undang banyak mengatur tentang syariat Islam yang berkenaan dengan muamalah dan ibadah. Hal ini adalah ijtihad, dimana bangsa Indonesia adalah satu kesatuan. Yang tinggal di Indonesia bukan hanya umat Islam tapi ada umat agama lain.

Di NU sendiri, di dalam kitab fiqih, tidak ada pembahasan tentang negara Islam secara detail. Yang ada adalah gerakan politik umat Islam. Sehingga NU memang sejak dulu tidak bercita cita menjadikan Indonesia negara Islam.

Tatkala Pancasila harus dijadikan asas tunggal setiap ormas, NU paling depan menerimanya tanpa paksaan. NU menyadari, Pancasila adalah hasil ijtihad para Ulama dalam menjaga bumi pertiwi. Pancasila mampu menyatukan berbagai macam agama dan ideologi, sehingga kita tidak terjebak dalam perang sektarian. Para Kyai NU telah mewasiatkan agar NU menjaga Pancasila sampai hari kiamat. NU akan selalu konsisten setia menjaga Pancasila dan menjadi garda terdepan NKRI.

Memasuki era milenium, tahun 2000 ke atas, Indonesia sangat riuh sekali. Tiap memasuki bulan Desember, ada yang membuat gaduh "mengucapkan selamat hari perayaan buat agama lain itu HARAM", lalu beramai-ramai orang perang komentar, perang dalil, perang ayat, perang hadits dan seterusnya. Puncak keramaian ini pada Desember 2013.

Di tahun ini 2014, ada ormas yang mengharamkan upacara bendera, dan lagi-lagi ramai perang komentar sesama masyarakat khususnya muslim.

Ada ormas tertentu yang selalu membuat kekacauan dan kerisauan masyarakat, dan celakanya lagi itu orang yang gemar beradu komentar tersebut kurang akan ilmu dan pemahaman tentang agama Islam.
Indonesia ini adalah negara yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, adat istiadat serta berbeda-beda pula agamanya. Negara melindungi setiap penganut agama (Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu).

Tugas kita sebagai masyarakat dan rakyat Indonesia itu simpel!
Hormati dan hargai, mau perayaan dengan cara jungkir balik kek, mau seperti apa kek, masing-masing penganut agama lain punya caranya sendiri-sendiri.

Pesan dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur):
“Pemahaman apa pun yang berbeda bisa menjadi bibit-bibit pertentangan. Apalagi bertentangan, bisa menjadi bibit-bibit perpecahan dari persatuan bangsa”

Jadi yang terbaik untuk dilakukan adalah:
“Kalau anda tidak ingin dibatasi, janganlah anda membatasi. Kita sendirilah yang harusnya tahu batas kita masing-masing.”

Ucapan selamat yang sebatas ucapan saja sebagai manusia yang memiliki jiwa bersosial itu tidak apa-apa, yang dilarang (haram) itu mengikuti acara dan kegiatannya.

Sedangkan upacara bendera itu sudah ada sejak 17 Agustus 1945, saat proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta yang didaulat sebagai Presiden & Wapres pertama Indonesia.

Mereka yang suka membuat risau dan kekacauan bangsa dan negara ini, seperti orang-orang baru turun gunung, tidak tahu menahu, tidak membaca buku sejarah, boro-boro baca buku sejarah ikut berjuang merebut kemerdekaan saja tidak pernah.

Sedangkan yang merebut dan berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia ini bukan oleh satu golongan agama, suku dan sejenisnya, tapi seluruh warga Indonesia yang tak mengenal perbedaan-perbedaan tersebut, berjibaku bersatu mengusir penjajah dengan mengorbankan harta benda, darah dan air mata bahkan nyawanya demi meraih kemerdekaan.

Kini pasca reformasi, ormas-ormas di Indonesia makin berjubel dan makin menunjukkan taringnya, ada yang berlabelkan Agama, Sosial, dan seterusnya.

Perlu kita ketahui, ormas yang berkembang di Indonesia itu ada yang lokal dan ada yang import. Yang lokal sudah ada sejak jaman perjuangan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang menjadi ormas terbesar. Kedua ormas tersebut tidak pernah membuat kegaduhan justru membantu mewujudkan kemerdekaan.

Sedangkan ormas import, contohnya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) bahkan yang terpanas adalah ISIS. Ormas ISIS dan afiliasinya ini sangat ditentang (dilarang) keras untuk tumbuh dan berkembang di Indonesia. Tapi ada ormas tertentu dengan ideologi tertentu yang sudah ada di Indonesia yang malah menyambut ISIS & afiliasi dengan lapang dada, karena merasa perjuangannya makin kuat dan serasa mendapat dukungan darinya.

Mereka seolah-olah ingin membela Islam, namun sesungguhnya mereka memperdayai masyarakat dengan berbagai makar, tipu daya, kemunafikan dan kelicikannya.

Sayang bagi masyarakat awam yang tingkat keilmuannya masih dalam proses belajar, akan dengan mudah terhasut, terprovokasi atas ajakan tersebut dan bertakbir “Allahuakbar... Allahuakbar...” padahal kalau diminta ngaji dengan baik dan benar belum tentu bisa melafazkan dengan baik.

Masyarakat awam itulah yang akan dimanfaatkan dan diperintahkan turun ke jalan untuk berdemo dan bukan tidak mungkin melakukan tindakan-tindakan bodoh, misal bom bunuh diri dan seterusnya yang seolah-olah itu benar, juga akan mendapatkan hadiah surga yang isinya para bidadari. Padahal yang menyuruhnya saja tidak berani melakukan hal demikian, mereka asik-asik saj duduk di sofa mungkin sedang menonton TV lalu berkata "lihat tuh pasukanku turun ke jalan". Mereka bodoh mau saja dimanfaatkan oleh sekelompok dan segelintir orang, dijadikan tumbal untuk menunjukkan exsistensinya (kekuasaan).

Sekarang semakin banyak, ormas-ormas yang sudah mulai unjuk gigi, berani protes ini, berani protes itu, harus begini, harus begitu, mereka mulai berani karena massanya semakin banyak.

“Dari sudut akidah, hak orang Islam memang lebih tinggi daripada penganut agama lain. Namun, Indonesia bukan negara Islam”
(KH Abdurrahman Wahid / Gusdur)

Yang harus anda ketahui bahwa di dalam Islam itu mengenal aneka paham-paham yang berbeda-beda, namun secara garis besar terbagi menjadi 2 yaitu Ekstrim Aqli (Rasionalis) dengan Ekstrim Naqli (Skripturalis).

Kelompok-kelompok Islam Garis keras (ekstrim naqli / skripturalis) itu baru belajar agama Islam sampai bab Ghodhob (marah) sudah berhenti, merasa Islam itu Ghodob. Alhasil kemana-mana marah terus, padahal setelah bab ghodhob itu ada bab sabar, tawadhu, seperti mampu menahan hawa nafsu, qana'ah, iffah, zuhud, ikhlas, dan sejumlah sifat baik lainnya.
(dari KH Mustofa Bisri/Gus Mus)

Jadi kalau mau ikut bergabung di ormas, tanyakan dulu legalitas, akta pendiriannya (ijin mendirikan dari negara RI), asal-usul ormas. Lokal apa import? Jika berlabelkan agama, apa paham yang dianutnya?

Ormas, entah itu yang berlabelkan agama, sosial, berbau politik dan lainnya yang ada di Indonesia harus ada ijin dari negara, bukan asal dibentuk dan bisa berkembang di Indonesia.

Saat mereka teriak anti asing, namun ormas tempat mereka bernaung ternyata malah produk asing.
Ahhh, ternyata mereka belum ngopi, jadi masih ngantuk.

Oleh: Abdir Rahman

Facebook.com/abdir.rahman.7712

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: