Ngaji Musik Bareng KH Said Aqil Siraj

Erhaje88

Dunia tanpa musik sepi, begitu pepatahnya. Musik bagi sebagian kalangan selain untuk hiburan, dipercaya mampu untuk terapi. Namun dikalangan pesantren pembahasan musik selalu menarik. Dilihat dari kacamata fikih, musik termasuk bagian alat malahi, yaitu alat yang bisa melalaikan ibadah.

Gambar: google image

Menurut ketua umum PBNU, Kiai Said Aqil Siraj, sampai saat ini pesantren masih berpegang bahwa musik adalah alatul malahi, alat yang melupakan. Karena itulah beberapa pesantren masih tidak membolehkan musik.

“Itu kehati-hatian pesantren,” katanya.

Menurut kiai asal Cirebon itu, kitab-kitab pesantren untuk doktrin pertama adakah kitab Safinah, Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Sulam Taufiq. Kitab-kitab tersebut sangat baik untuk anak-anak santri pemula. Di dalam kitab itu ada penilaian terhadap musik sebagai alatul malahi.

“Kalau semua waktunya habis untuk bermain gitar, bermain suling, alat musik, melupakan pelajarannya, melupakan shalat apalagi, itu bahaya,” jelasnya. “Kalau sewaktu-waktu belajar musik, ok,” lanjutnya.

Di dalam agama Islam, lanjutnya, musik yang menjadikan orang lupa pada kewajiban shalat, dzikir, diharamkan oleh para fuqaha (ahli fiqih), tetapi kalau musik menjadikan hati seseorang lembut, bisa melupakan dendam, takabur, benci, hasud, permusuhan, fitnah, bisa hilang ketika seseorang mendengarkan musik, itu sangat terpuji.

“Kata salah seorang waliyullah besar, sufi besar Al-Imam Dzu Nun Al-Mishri, musik itu suara kebenaran, suara hak, yang palsu itu dari mulut. Bohong itu mulut. Musik tidak ada yang bohong. Suara kebenaran yang bisa menggugah hati manusia menuju Allah, menuju kebenaran,” jelasnya.

Makanya, di beberapa jalan sufi, musik mempunyai peran yang sangat penting di dalam memperhalus, mempertajam, mencerdaskan emosi, dzauq, intuisi, untuk mempercepat menuju ma’rifat, mendakatkan diri kepada Allah.

Tanggal 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional, mengacu kepada tanggal kelahiran pengarang lagu Indonesia Raya, WR Supratman.

Musik Mencerdaskan Emosi Dan Alat Mempercepat Ma'rifat Pada Allah SWT

Gambar: google image/Hubungan musik dengan otak

Seseorang dalam pikiran kalut, dianjurkan jangan berdzikir terlebih dahulu karena kemungkinan besar tidak akan khusuk. Sebelum berdzikir, sebaiknya menenangkan pikiran, menata batin dulu. Setelah tenang, barulah memulai berdzikir.

Menurut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, musik adalah salah satu media untuk menenangkan diri ketika dalam keadaan kalut.

“Musik itu pengantar dzikir untuk membersihkan kita selama di perjalanan di luar rumah, mendapatkan sesuatu tidak kita senangi, yang menjengkelkan, melupakan apa yang baru terjadi. Kemudian selesai, lupa betul, jernih, baru masuk dzikrullah,” katanya di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis, (8/3).

Menurut dia, dalam keadaan pikiran tenang, Insyaallah dzikir kepada Allah, bukan hanya lisan semata, tapi bersamaan dengan hati.

Musik yang baik dengan syair yang indah dan dengan suara penyanyi merdu, menurutnya, bisa menjadikan pendengarnya terharu, menitikkan air mata, emosional.

Lebih lanjut ia menceritakan tentang Pytagoras, filosof Yunani kuno sebelum Plato. Filosof itu suatu ketika bermain musik dan bernyanyi di pinggir pantai. Kemudian ikan-ikan berdatangan dan burung-burung hinggap di bahunya, di kepalanya.

Di dalam sejarah peradaban Islam, tokoh Muslim yang terkenal dalam bermusik adalah Abu Nasr Al-Farabi. Ia adalah yang menemukan alat musik yang kemudian disebut al-qonun. Alat musik itu dalam perkembangannya sekarang menjadi organ.

Al-qonun itu, lanjutnya, dipakai di Mesir ketika zaman Umu Kultsum. Saat ini sepertinya sudah jarang pemusik yang menggunakannya. Pada zaman itu, seorang pemimpin grup musik biasanya orang yang ahli dalam bermain qonun.

“Al-Farabi menulis buku tebal Al-Musiqal Kubra, saya punya kitabnya,” lanjutnya.

Kiai Said kemudian mengutip seorang waliyullah, Al-Imam Dzu Nun Al-Mishri (wafat tahun 245 Hijriyah). Menurut dia, musik itu suara kebenaran, suara hak, sementara yang palsu itu dari mulut.

“Musik tidak ada yang bohong. Suara kebenaran yang bisa menggugah hati manusia menuju Allah, menuju kebenaran,” kutipnya.

Ia melanjutkan kutipan Al-Imam Dzu Nun Al-Mishri, barangsiapa mendengarkan suara musik dengan betul-betul mencapai hakikat, dengan tujuan positif, dia akan mencapat kepada hakikat. Tapi barangsiapa mendengarkan musik dengan syahwat, dia akan pada ke-zindiq-an.

“Walhasil, menurut ajaran sufi, beberapa, tidak semuanya, musik mempunyai peran yang sangat penting di dalam memperhalus, mempertajam, mencerdaskan emosi, dzauq,  intuisi, dengan cepat menuju ma’rifat, mendakatkan diri kepada Allah,” lanjutnya.

Musik Dalam Perspektif Tasawwuf

Grup musik gambus, Debu/Gambar: wikipedia.org

Dari manakah munculnya sebuah syair lagu pada seorang pengarang? Dari mana pula susunan nada-nada yang kemudian menjadi sebuah aransemen pada karya musik? 

Tentang hal itu, Kiai Said Aqil Siroj mengutip penjelasan Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali (Imam Ghazali) yang membagi empat lintasan (khawathir) yang sering menimpa semua manusia. Namun, tidak setiap orang bisa memanfaatkannya secara maksimal.

“Begini, musik itu sebenarnya, walaupun ada sekolahnya, itu sebagai pintu masuk saja, untuk mengembangkan bagaimana seseorang itu betul-betul ahli, betul-betul menyatu dengan seni, bukan hanya melulu dari bangku sekolah,” kata Ketua Umum PBNU itu beberapa waktu lalu. 

Imam Ghazali, lanjutnya, membagi khawathir ke dalam empat bagian. Pertama, khawathir yang datang dari Allah yang disebut khawathir rabbaniyah.

“Semua kita mendapatkan lintasan (khawathir) dari Allah. Sering. Kalau dipelihara, dipertajam, dipupuk akan menjadi ilham,” kata kiai asal Cirebon ini.

Kedua, khawathir yang datang dari malaikat disebut khawatir malakutiyah. Semua orang pun mendapatkannya. Khawathir ini pun kalau diasah, akan menjadi ilmu laduni.

“Nah, yang dari malaikat itu, salah satunya musik, syair, lagu, talhim. Yang menciptakan lagu Umu Kultsum, satu jam setengah nyanyi, lagu Amal Hayati, Inta Umry, Antal Hub, al-aAwal, coba dari mana itu? Lagu itu dari mana? Dari sekolah? Bukan! Dari bangku kuliah, bukan? Barangkali pegang musiknya dari kuliah, tapi lagunya itu. Itu namanya khawathir malakutiyah,” jelas pengagum Umu Kultsum itu.
Ketiga, khawathir nafsaniyah yang disebut juga hawajis, daya tarik atau dorongan yang datang dari hawa nafsu. Contoh dari  khawathir jenis ini adalah kejahatan yang terencana, disusun dengan rapi.

“Ini bukan dari setan, tapi dari manusianya sendiri,” katanya.

Keempat, khawathir yang datang dari setan atau wasawis. Khawathir jenis ini bersifat godaan. Berbeda dengan yang ketiga, khawathir ini bersifat spontanitas dan bisa dilawan kalau mau melawannya.


“Ini tapi tolong jangan dipahami dengan hukum fiqih. Kita bicara musik itu dari perspektif tasawuf. Kalau dari ilmu fiqih, namanya alat malahi, haram! Kenapa? Karena kebanyakan, mayoritas, anak-anak yang bermain musik, lupa shalat, laupa dzikir kepada Allah. Alataul malahi, alat yang melupakan. Tapi sekali lagi, Al-Qur’an sendiri mengatakan, kalau syairnya justru mendekati kepada Allah, mendekatkan diri kepada Allah, insyaallah,” jelasnya.

http://www.nu.or.id/post/read/87407/ngaji-musik-kepada-kiai-said-aqil-siroj-3-habis

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: