NU Dan Palestina

Erhaje88

Pagi ini saya membaca dua artikel menarik di NU Online, terkait Palestina. Ada pengetahuan baru yang saya dapatkan, mengenai bagaimana ulama-ulama kita zaman dahulu, sebelum masa kemerdekaan, sudah sangat paham geopolitik.

KH Saifuddin Zuhri

Pada tahun 1938, tepatnya dalam Muktamar NU ke-13 (12-15 Juli 1938) di Menes, Pandeglang, Banten, KH Abdul Wahab Chasbullah berpidato, "Pertolongan-pertolongan yang telah diberikan oleh beberapa komite di tanah Indonesia ini berhubung dengan masalah Palestina, tidaklah begitu memuaskan adanya. Kemudian guna dapat mencukupi akan adanya beberapa keperluan yang tak mungkin tentu menjadi syarat yang akan dipakai untuk turut menyatakan merasakan duka cita, sebagai perhatian dari pihak umat Islam di tanah ini. Atas nasib orang malang yang diderita oleh umat Islam di Palestina itu, maka sebaiknyalah NU dijadikan Badan Perantara dan Penolong Kesengsaraan umat Islam di Palestina. Maka pengurus atau anggota NU seharusnyalah atas namanya sendiri-sendiri mengikhtiarkan pengumpulan uang yang pendapatannya itu terus diserahkan kepada NU untuk diurus dan dibereskan sebagaimana mestinya." [1]

Artinya apa? Bayangkan, tahun 1938, sama sekali tidak ada internet. Informasi berputar sangat lambat. Tetapi hal itu tidak menghalangi munculnya pemahaman geopolitik global yang sangat cerdas serta munculnya solidaritas global yang melintasi jarak ribuan kilometer.

Pada tahun 1938, Israel bahkan belum resmi berdiri. Israel berdiri tahun 1948, setelah Dewan Keamanan PBB merilis resolusi No.181/1947 (membagi 2 wilayah Palestina, sebagian “dihadiahkan” kepada ormas-ormas Yahudi [Jewish agency] Eropa dan AS untuk mendirikan sebuah negara khusus Yahudi).

Tapi, tahun 1938, proses-proses ke arah berdirinya Israel sudah dimulai. Saat itu, bangsa Palestina berada di bawah mandat Inggris (artinya, sedang dijajah Inggris). Bangsa Palestina sudah mencium gerakan perampokan atas tanah air mereka, imigran Yahudi dari Eropa secara masif berdatangan. Palestina itu wilayahnya kecil, jadi bisa dibayangkan, kedatangan ratusan ribu orang asing akan sangat terasa dan terlihat.

Saat itu, kibbutz-kibbutz secara agresif didirikan. Kibbutz adalah perkampungan khusus Yahudi, penghuninya adalah orang-orang Yahudi yang didatangkan dari Eropa; pembiayaannya disokong penuh oleh orang-orang kaya Yahudi Eropa-AS.
Perlawanan bersenjata bangsa Palestina terhadap penjajah Inggris yang jelas-jelas memfasilitasi proses berdirinya Israel sudah dimulai. Sementara itu, Indonesia sedang dijajah Belanda. Solidaritas sesama bangsa terjajah telah digaungkan oleh ulama NU.

Sebagaimana ditulis di NU Online, “Pada November 1938, PBNU memerintahkan seluruh cabang mengedarkan celengan iuran derma untuk yatim dan janda di Palestina. Hal itu, dimuat pada Berita Nahdlatoel Oelama No 1 tahun ke-8, edisi 8 Ramadhan 1357 H bertepatan dengan 1 November 1938 M. “Seloeroeh tjabang NO telah diperintahkan mendjalankan kepoetoesan ya’ni mengidarkan tjelengan derma goena jatim dan djanda di Falisthina, selama dan di dalam madjelis-madjelis rajabijah di dalam boelan radjab jang baroe laloe ini.”

Artikel kedua, tentang Kiai Saifuddin Zuhri, penulis buku “Palestina dari Zaman ke Zaman”. [2] Menurut artikel ini, penulisan buku tersebut berawal dari kunjungan Konsul Jendral Mesir untuk India, Mohammad Abdul Mun'im, ke Solo, pada Maret 1947.
“Kedatangannya guna menyampaikan kabar dari Liga Arab kepada Presiden Soekarno. Pesan tersebut, berupa pengakuan negara-negara Arab, seperti Palestina dan Mesir atas kemerdekaan bangsa Indonesia. Tentu saja, pengakuan bangsa Arab tersebut, merupakan kabar gembira bagi kemerdekaan Indonesia yang memang membutuhkan pengakuan dunia Internasional sebagai prasyaratnya.” (NU Online, 2017).

Bangsa Palestina yang memberikan dukungan kepada kemerdekaan bangsa Indonesia masih dalam keadaan terjajah. Bangsa Palestina tentu saja sangat ingat betapa bangsa Indonesia sejak 1938 telah membantu mereka, padahal saat itupun bangsa Indonesia masih dijajah Belanda. Solidaritas kemanusiaan lintas benua inilah yang menginspirasi Kiai Saifuddin untuk melakukan riset mengenai Palestina dan Zionisme.

"Aku mulai mempelajari lebih tekun tentang perjuangan bangsa-bangsa Arab menghadapi kaum imperialisme Inggris dan Prancis, juga tentang cita-cita Palestina merdeka menghadapi kaum Zionisme," demikian ditulis Kiai Saifuddin dalam autobiografinya, “Berangkat dari Pesantren”.

Buku itu selesai pada Desember 1947, terdiri dari 84 halaman, dan diterbitkan oleh PBNU. Percetakannya adalah "Persatuan" dari Yogyakarta, atas sponsor dari Pemimpin Perpustakaan Islam di Yogyakarta, Haji Abubakar.

Selain berisi pemaparan sejarah mengenai penjajahan Israel terhadap Palestina, dalam buku itu juga ditulis respon bangsa Indonesia, khususnya NU, terhadap Zionisme di Palestina. Tentu saja, responnya adalah mengutuk keras penjajahan Palestina oleh Yahudi-Zionis.

Dulu, di kala internet belum ada, bangsa kita, para ulama kita, sudah paham dengan jernih, siapa penjajah, siapa terjajah. Masa sih, zaman now, ketika informasi sedemikian mudah dicari, masih ada saja yang percaya narasi versi fans Israel (ZSM), “Palestina tidak pernah ada!” atau menyalah-nyalahkan Palestina atas kondisinya hari ini??

Oleh: Dina Sulaeman
-----
[1] “Kronik Kronologis Dokumen Komitmen PBNU atas Kemerdekaan Palestina”
http://www.nu.or.id/post/read/92072/kronik-kronologis-dokumen-komitmen-pbnu-atas-kemerdekaan-palestina


[2] “Kiai Saifuddin Zuhri dan Palestina”
http://www.nu.or.id/post/read/84028/kiai-saifuddin-zuhri-dan-palestina

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018