Lopis Dan Balon, Tradisi Unik Lebaran Warga Pekalongan

Erhaje88

Setiap hari kedelapan di bulan Syawal, ada tradisi yang unik yang masih dilakukan hingga sekarang oleh warga Pekalongan. Salah satunya adalah tradisi merayakan Syawalan dengan pesta lopis yang dilakukan di daerah Krapyak.

(Lopis dan Balon, tradisi Syawalan di Pekalobgan/NU Online)


Bahkan syawalan yang jatuh pada 8 Syawal merupakan hari yang sangat istimewa dan selalu ditunggu-tunggu oleh warga. Pasalnya, hari itu merupakan hari berkumpulnya ribuan warga untuk bisa silaturrahim dan saling berkunjung untuk menikmati segala hidangan yang disediakan secara gratis.

Hal paling menarik dalam pelaksanaan tradisi ini adalah dibuatnya lopis raksasa yang ukurannya mencapai tinggi 2 meter dengan diameter 1,5 meter dan berat mencapai 225 Kg. Setelah acara doa bersama, Lopis Raksasa kemudian dipotong oleh Walikota Pekalongan dan dibagi-bagikan kepada para pengunjung.

Dari mana tradisi ini berasal? Menurut sejarahnya, seperti yang dikutip dari akun Twitter @kotabatik, orang yang pertama kali memelopori  syawalan adalah KH Abdullah Sirodj, ulama Krapyak yang masih keturunan Tumenggung Bahurekso (Senopati Mataram).

Awalnya KH Abdullah Sirodj rutin melaksanakan puasa syawal, puasa ini kemudian diikuti masyarakat sekitar Krapyak dan Pekalongan pada umumnya. Sehingga meski hari raya, mereka tidak bersilaturahmi demi menghormati yang masih melanjutkan ibadah puasa syawal.

Dulu, ceritanya, sehabis salat ied, suasananya masih seperti Ramadhan. Baru pada hari ke-8 Syawal, suasana Lebaran benar-benar terasa.  Yang menjadi khas dalam tradisi syawalan di Krapyak Pekalongan adalah disajikannya makanan berupa lopis.

KH Abdullah Sirodj memilih lopis sebagai simbol syawalan di Pekalongan karena terbuat dari beras ketan yang memiliki daya rekat yang kuat, yang menyimbolkan persatuan.

Alkisah, Presiden Soekarno datang dalam rapat akbar di lapangan Kebon Rodjo Pekalongan (sekarang Monumen) tahun 1950, beliau berpesan agar rakyat Pekalongan bersatu seperti lopis, sehingga warga Krapyak setiap syawalan selalu memotong lopis.

Meski konon tradisi Syawalan sudah ada sejak tahun 1885, tradisi ini mulai dilakukan secara besar-besaran pada tahun 1950. Dengan memotong lopis berukuran besar oleh kepala daerah setempat.  Adapun, proses memasak lopis raksasa  butuh waktu 4 - 5 hari, dengan meggunakan dandang berukuran besar. Untuk memindahkannya, harus memakai katrol.

Para pengunjung biasanya berebut untuk mendapatkan Lopis tersebut yang maksudnya untuk mendapat berkah. Pembuatan Lopis dimaksudkan untuk mempererat tali silahturahmi antaranggota masyarakat Krapyak dan dengan masyarakat daerah sekitarnya, hal ini diidentikkan dengan sifat Lopis yang lengket.

Menurut tokoh masyarakat Krapyak KH Zainuddin, ketan sebagai bahan dasar lopis memiliki makna persatuan (kraket=erat), karena ketan yang sudah direbus memiliki daya rekat yang kuat dibanding nasi.

"Kita sebagai sesama Muslim harus memiliki rasa saling peduli dan saling mengingatkan satu sama lain. Beras ketan yang putih, bersih memiliki makna kesucian (kembali fitri) dalam nuansa lebaran," ungkapnya kepada NU Online.

Dikatakan, bungkus lopis diambilkan dari daun pisang, yang memiliki arti perlambang Islam dan kemakmuran. Bahwa Islam selalu menumbuhkan kebaikan dan menjaga karunia Tuhan.

"Daun pisang yang digunakan tidak boleh terlalu tua ataupun terlalu muda, karena akan berpengaruh pada cita rasa lopis tersebut," jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, selain itu ikatan atau tali pembungkus menggunakan serat pelepah pisang, melambangkan kekuatan. Sesuatu yang sudah dicapai (kembali fitri) harus dijaga agar tidak luntur ataupun berkurang.

"Akan lebih baik jika semakin bertambah atau ditingkatkan. Pengikat ini juga bisa berarti sebagai pengikat kita untuk menjalin silaturahmi antar-Muslim (Hablum minan nas)," pungkasnya.

Dewi Shinta (52) warga Krapyak kepada NU Online mengatakan, tidak hanya lopis raksasa yang khas di syawalan, hal unik lainnya adalah warga Krapyak yang mayoritas warga nahdliyin memberikan makanan ataupun minuman secara gratis bagi siapa saja yang bertamu ke rumah pada hari kedelapan Syawal.

Selain lopis raksasa, warga Pekalongan di beberapa  kawasan lain juga merayakan syawalan dengan menerbangkan balon udara. Tradisi balon udara ini konon merupakan tradisi orang keturunan Indo Eropa zaman dulu yang bermukim di Pekalongan. (NU Online)

http://www.nu.or.id/post/read/91983/lopis-dan-balon-tradisi-unik-masyarakat-pekalongan

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: