Bangsa Lain Back To Nature, Sedangkan Sebagian Kita Malahan Back To Jahiliyyah

Erhaje88

Slogan back to nature atau kembali ke alam, yang ramai disuarakan oleh Green Peace dan sejenisnya di dunia akhir akhir ini, sejatinya sudah merupakan hal yang basi di bumi NUsantara yang kita cintai ini.

(Gambar: Boen Syafi'i/Facebook)

Bangsa barat yang dulu menyukai kepraktisan dan cara instan, kini lambat laun mulai bergeser kepada hal hal yang bersifat alamiah.

Misal, tas yang terbuat dari poleyster atau serat plastik bikinan brand ternama, mulai tergantikan dengan produk tas tradisional dari bahan alami.

Begitulah kehidupan, modernitas dan kepraktisan dengan segala iming imingnya tidak akan mampu melawan keindahan alam beserta produk yang dihasilkanya.

Berbicara keindahan alam, tentu tidak lepas dari negeri kita tercinta Indonesia. Kultur budaya yang masih memperhitungkan keseimbangan alam, menjadi ciri khas bangsa kita.

Tiada bangsa lain yang memiliki keaneka ragaman budaya sebanyak Indonesia. Tiada bangsa lain yang memiliki paru paru dunia terluas bila dibandingkan dengan negara kita.

Dan yang terutama, tiada negara lain yang memiliki filosofis luhur kehidupan tentang tepo sliro, gotong royong dan bertoleransi tinggi bila dibandingkan dengan negara kita.

Tapi sayang, keindahan budaya bangsa yang sangat dikagumi dunia, justru tidak dibanggakan sama sekali oleh sebagian anak bangsanya. Mereka lebih memilih mengagungkan budaya asing. Ada yang beralasan karena life style dan ada pula yang beranggapan hal ini adalah perintah agama.

Mereka berkeyakinan bahwa "inilah budaya agama saya". Lhadalah keblinger tenan!

Apakah bila budaya asing itu suka berperang, saling membenci, intoleran dan bahkan saling bunuh bunuhan, maka apakah ini yang dinamakan budaya sebuah agama?

Tidak, karena fungsi suatu agama adalah untuk menerangi kehidupan, mencerahkan hati dan menjadikan rahmat bagi semesta alam. Bukan hanya rahmat bagi yang memeluknya saja.

Ah andaikan Rosulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam dulu diturunkan di bumi NUsantara, apakah bangsa arab dan sejenisnya mau memakai blangkon, batik, dan kain jarik di dalam kehidupanya?

Saya hakkul yakin, mereka akan tetap menyukai gamis, jenggot dan cadar sebagai ciri khas mereka. Dan yang utama adalah:
"Fifis unta dan tari perut tetap menjadi primadona bagi mereka".

Goyang maangg..hak'e hak'e hak'e hak'e.
Salam Jemblem..

Oleh: Boen Syafi'i

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: