Tubagus Falak, Kiai Kharismatik Penakluk Dukun Dan Para Jawara

Erhaje88

Banten memiliki banyak ulama besar yang namanya tak hanya masyhur di dalam negeri saja, melainkan sampai ke manca negara. Hal itu karena pengetahuan ilmunya yang cukup tinggi serta amal atau prilaku mulianya layak menjadi tauladan yang baik bagi umat.

Sumber: twitter.com/vivacoid

Salah satunya KH Tubagus Muhammad bin KH Tubagus Abbas. Ulama kharismatik ini lahir pada 1842 masehi di Pondok Pesantren Sabi, Desa Purbasari Kabupaten Pandeglang, Banten.

Karena dia banyak belajar dan menguasai ilmu khasaf dan falak (perbintangan) di Mekkah, maka Syekh Sayyid Afandi Turqi yang merupakan gurunya memberikan nama tambahan falak, sehingga namanya menjadi KH Tubagus Muhammad Falak atau lebih Abah Falak.

Kecintaannya pada ilmu agama mendorong dia untuk melakukan pengembaraan ke sejumlah daerah di Banten hingga ke Cirebon. Saat melakukan pengembaraan dengan misi menuntut ilmu, Abah Falak baru berusia 15 tahun. Kemudian, saat usianya menginjak 17 tahun, dia berangkat ke jazirah arab dan tinggal di sana selama hampir 21 tahun untuk menggali ilmu pengetahuan agama.

Selama di jazirah arab, dia mempelajari dan memperdalam banyak keilmuan. Diantaranya, ilmu Tafsir Al-Qur’an dari Syekh Nawawi Al-Bantany dan Syekh Mansur Al-Madany, ilmu Hadits dari Sayyid Amin Quthbi, ilmu Tasawwuf dari Sayyid Abdullah Jawawi dan ilmu Falak dari Affandi Turki.

Sumber: ubaidillahfalak.blogspot.com

Selain itu, dia juga mendalami ilmu Fiqh dari Sayyid Ahmad Habsy, Sayyid Baarum, Syekh Abu Zahid dan Syekh Nawawi Al-Falimbany serta ilmu Hikmat dan ilmu dari Syekh Umar Bajened-Makkah, Syekh Abdul Karim dan Syekh Ahmad Jaha-Banten dan beberapa ulama besar lainnya antara lain Syekh Ali Jabra, Syekh Abdul Fatah Al-Yamany, Syekh Abdul Rauf Al-Yamany, Sayyid Yahya Al-Yamany, Syekh Zaini Dahlan-Makkah.

Di Banten sendiri, dia pernah mendalami Hikmah dan ilmu kepada Syekh Salman, Syekh Soleh Sonding, Syekh Sofyan dan Syekh Sohib Kadu Pinang.

Setelah banyak belajar dan memperdalami berbagai ilmu agama, dia mengembangkan dan mengamalkan ilmunya, dengan melakukan dakwah agama secara estafet, dari daerah Pandeglang, Banten hingga sampai ke Pagentongan Bogor.

Pada suatu saat, ketika Abah Falak hendak mendirikan Pesantren Al-Falak di daerah Pagentongan, Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciomas, sekitar 9 kilometer dari pusat Kota Bogor, Jawa Barat. Namun pada saat itu, daerah tersebut masih dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh perdukunan. Tetapi, berkat karomah yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya, semua dukun yang bermukim di daerah tersebut takluk kepada Abah Falak.

Sehingga, pengaruh perdukunan di masyarakat tersebut lambat laun hilang. Dan mereka menjadi semakin percaya bahwa Allah SWT-lah Yang Maha Kuasa dan Penolong mereka.

Kendati demikian, tantangan yang dihadapi Abah Falak tak hanya sampai disitu saja. Sebab setelah para dukun ditaklukan, gangguan berikutnya adalah para jawara kampung yang seringkali mengganggu kehidupan penduduk.

Penduduk setempat terutama di malam hari dan di tempat-tempat terpencil kerap di ganggu oleh jawara-jawara tersebut. Sehingga Kiai Tubagus Muhammad Falak yang banyak mendalami ilmu kanuragan, mengajarkan Wirid Syaman kepada beberapa santrinya disertai dengan jurus dan gerakan-gerakan berkeliling dan maju, dilakukan oleh laki-laki.

Dengan wirid ini, para santri mempercayai seperti mendapat tambahan kekuatan jasmani dan keberanian untuk menghadapi lawan dan pergulatan. Bekal ilmu kanuragan berbasis spiritualitas ini yang kemudian membuat para santri mampu mematahkan gangguan dari para jawara tersebut.

Tubagus Falak (Sumber: Kumpulan Biografi Ulama)

Masyarakat merasa tertolong dengan adanya bantuan dari kiai yang merupakan seorang mursyid (guru besar) Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ini.

Dengan demikian, tumbuhlah pengakuan masyarakat terhadap kelebihan Kiai Muhammad Falak. Bahkan dalam pandangan awam, Kiai Muhammad Falak tidak hanya dikenal sebagai ulama terkemuka dan sakti yang memiliki banyak ilmu hikmah.

Pada tanggal 19 Juli 1972 M atau 8 Jumadil Akhir 1392 H, Abah falak wafat di usianya yang ke 130 tahun. Kemudian jenazahnya dimakamkan di areal Kompleks Pondok Pesantren Al Falak yang tidak jauh dari Masjid Al Falak.

Sumber: http://sindonews.com/read/1303141/29/
http://tz.ucweb.com/5_35Fur

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com: