Khozinatul Ulum, Pesantren di Blora Yang Berdiri Atas Restu Tiga Ulama

Erhaje88

Berdirinya Pondok Pesantren (Ponpes) Khozinatul Ulum Blora berawal dari keprihatinan serta kepedulian H Moch Djaiz. Sebab, saat itu belum ada lembaga pendidikan ponpes di tengah kota Blora. Padahal, masyarakat butuh bimbingan tentang ajaran Islam.

BERTINGKAT: Salah satu sudut asrama Ponpes Khozinatul Ulum. (subekan/radar kudus)

Keprihatinan dan kepedulian H Moch Djaiz tersebut didukung penuh putrinya, Umi Hani’ yang baru menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz di Ponpes Al Muayyad Surakarta. Di mana saat itu diasuh oleh KH Umar bin Abdul Manan. Untuk memenuhi keinginan dan cita-cita putrinya, H Moch Djaiz mencari calon suami yang ideal, agar kelak dapat mengelola ponpes.

“Berkat pertolongan Allah serta restu tiga ulama, yaitu KH Muhammad Arwani dari Kudus, KH Abdullah Salam dari Pati, dan KH Sahal Mahfud dari Pati, keinginan tersebut terpenuhi. Yaitu mendapatkan menantu dari Jepara, bernama Muharor Ali. Kebetulan dia baru menamatkan studi nonformalnya di pesantren Yanbuul Quran Kudus di bawah asuhan KH Muhammad Arwani,” jelas H Ahmad Zaki Fuad, putra pengasuh Ponpes Khozinatul Ulum Blora KH Muharor Ali.

Dia menambahkan, setelah itu beliau mulai membangun pesantren dengan nama Khozinatul Ulum di Desa Kaliwangan, Kecamatan Blora. Tepatnya di Jalan Mr. Iskandar gang XII/2 di atas tanah seluas kurang lebih 3.215 meter persegi.

Nama itu dipilih atas pemberian KH Muhammad Arwani dari Kudus. Kata khozinah berarti tempat penyimpanan, sedangkan ulum berarti beberapa ilmu. Sehingga, dengan nama tersebut diharapkan agar pesantren menjadi gudang atau tempat penyimpanan ilmu yang dapat dirasakan manfaatnya oleh umat.

Di awal keberadaan pesantren Khozinatul Ulum, sistem pendidikan yang digelar hanya bersifat tradisional. Yaitu mengacu sistem sorogan dan pengajian wetonan. Seiring berjalannya waktu, pesantren ini menggelar sistem klasikal dengan membuka pendidikan formal maupun nonformal.

“Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora mempunyai prinsip berupaya semaksimal mungkin merealisasikan beberapa tujuan luhur yang menjadi cita-cita pondok pesantren. Yaitu memelihara unsur-unsur lama yang baik dan menerima unsur-unsur baru yang lebih baik,” jelasnya.

Semakin tahun, Ponpes Khozinatul Ulum Blora terus mengalami kemajuan. Santri selalu bertambah, sehingga butuh perluasan lahan dan penambahan infrastruktur. Sementara, tidak mungkin jika ponpes hanya menarik biaya dari santri atau mengandalkan infak dan sedekah.
Untuk itu, pihak pondok terus berusaha untuk memiliki sumber pendapatan sendiri. Mulai dari membangun BMT, toko, ritel, dan lainnya.

Pengembangan Ekonomi Santri Khozinatul Ulum

Ponpes yang berdiri pada 1981 dan kini memiliki sekitar 3.000 santri itupun membuka diri untuk melakukan kerja sama demi pengembangan ekonomi pesantren. Salah satunya dengan manajemen salah satu ritel waralaba.

“Kami bekerja sama dengan Indomaret, mereka mau membuka diri terhadap pesantren dan juga mau memfasilitasi pesantren belajar. Tentunya dengan modal sharing yang sudah disepakati dan menguntungkan kedua pihak,” jelas H Ahmad Zaki Fuad, putra pengasuh Ponpes Khozintaul Ulum Blora KH Muharor Ali.

Setelah terjadi kesepakatan, akhirnya diteken MoU selama lima tahun. Dalam kurun waktu itu, para santri belajar dan magang. Di sana para santri mendapatkan training soal manajemen dan lainnya. Mereka juga praktik secara langsung.

 “Setelah lima tahun, kami diberikan kesempatan mandiri. Artinya siap membuka waralaba sendiri. Tapi kalau belum siap, kerja sama dilanjutkan,” jelasnya.

Selain itu, para sanri juga diajari untuk membuat berbagai produk rumahan. Selanjutnya dikerjasamakan dengan Bank Indonesia. Salah satunya dengan mengikuti Festival Produk Pesantren.

’’Di sana, hasil produk santri Khozinatul Ulum dipresentasikan di hadapan jajaran pejabat Bank Indonesia dan berbagai koleganya. Termasuk perusahaan BUMN, pengusaha hotel dan lainnya,” terangnya.

Hasilnya, produk santri direspon bagus. Bahkan, rencananya, setelah Lebaran produk para santri Khozinatul Ulum Blora akan dibeli oleh mereka.
Menurutnya, dengan pengembangan ekonomi ini, para santri bisa lebih mandiri. Selanjutnya dapat pengalaman di luar ilmu agama.

Sumber:
https://radar.jawapos.com/radarkudus/read/2018/05/21/75138/berdiri-atas-restu-tiga-ulama

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018