Ketika Mars Syubbanul Wathan Bergema di Beijing

Erhaje88

Ada atmosfer yang berbeda di ruangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing pada Rabu (16/3). Sejumlah orang dengan gaya khas Nahdlatul Ulama membawakan mars Syubbanul Wathon. Lagu yang ditulis ulama besar NU KH Abdul Wahab Hasbullah itu kontan saja membuat Dubes RI untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun terharu.

Duta Besar RI untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun memberikan sambutan pada Simposium Nasional Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok (ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie)

"Bait terakhir dari lagu ini terasa sampai ke dalam hati dan sangat mengena," ujar Dubes Oratmangun mengenai lirik terakhir mars yang berbunyi "Bangkitlah hai bangsaku! Indonesia Negeriku, Engkau Panji Martabatku, Siapa datang mengancammu, akan binasa di bawah dulimu!" yang dinyanyikan setelah lagu "Indonesia Raya" itu.

Dubes Djauhari Oratmangun sebagaimana dilansir Antara mengajak jajaran PCINU Tiongkok bekerja sama dengan KBRI Beijing dalam mendiseminasi nilai-nilai Islam yang moderat.

Mars Syabbanul Wathon dibawakan jajaran Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok saat bersilaturahmi dengan Dubes Djauhari Oratmangun sekaligus persiapan menyambut bulan suci Ramadan.
Dalam kesempatan itu, Dubes Oratmangun juga berharap bahwa kegiatan-kegiatan PCINU Tiongkok bisa menjadi ajang promosi sosial dan budaya Nusantara sekaligus menjadi jembatan yang memperkokoh hubungan Indonesia dengan China dan hubungan antarmasyarakat kedua negara.

Menurut dia, pemerintah Indonesia telah mengakui perjuangan para ulama dan santri dalam memerdekakan Republik Indonesia dengan keluarnya Keputusan Presiden No 22 Tahun 2015 tentang Peringatan Hari Santri.

"Tanpa Resolusi Jihad NU tidak akan pernah ada peristiwa 10 November 1945," ujar mantan Dubes RI untuk Rusia tersebut.

Kepada jajaran PCINU Tiongkok yang merupakan kalangan pelajar asal Indonesia, Djauhari mendorong untuk belajar tentang bangsa China yang bisa bertahan hingga ribuan tahun.

"Kita pernah punya Sriwijaya, pernah punya Majapahit, pernah punya Singosari. Jangan sampai kita juga mengatakan hal yang sama untuk Indonesia di masa mendatang. Kita ingin merayakan HUT RI ke-100, ke-200, 300, 400, 500, dan seterusnya. Tiongkok sudah ribuan tahun bisa, kenapa kita tidak? Oleh karenanya Warga NU yang berada di Tiongkok bisa belajar dari negara ini untuk bisa tetap merekatkan NKRI," ujarnya menambahkan.

Acara yang digelar di KBRI Beijing itu juga dihadiri Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siradj dan jajaran pengurus.

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj (kiri). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Pembacaan ikrar PCINU Tiongkok juga mengisi acara bertajuk "Silaturahmi PBNU dengan Warga NU Tiongkok" tersebut.

Selain KBRI sebagai fasilitator, acara tersebut juga didukung oleh Lingkar Pengajian Beijing. Sebagaimana diketahui Lingkar Pengajian Beijing merupakan salah satu cara para mahasiswa-mahasiswi Indonesia mendalami agamanya saat berada di negeri orang.

Biasanya para pelajar Indonesia di Tiongkok mengundang kyai atau ustaz untuk memperdalam ilmu agama sekaligus momentum bersilaturahmi dengan sesama.

Sumber berita:
https://merahputih.com/post/read/ketika-mars-syubbanul-wathon-bergema-di-beijing

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018