Kalimat Bid'ah Menurut Ilmu Nahwu

Erhaje88

“Kullu muhdatsin bid’ah, wa kullu bid’atin dholalah, wa kullu dholalatin fin naar.”

Dalam hadits tersebut rancu sekali kalau kita maknai setiap bid’ah dengan makna keseluruhan, bukan sebagian. Untuk membuktikan adanya dua macam makna ‘kullu’ ini, dalam kitab mantiq ‘Sullamul Munauruq’ oleh Imam Al-Akhdhori yang telah diberi syarah oleh Syeikh Ahmad al-Malawi dan diberi Hasyiah oleh Syeikh Muhamad bin Ali as-Shobban tertulis:


ﺍﻟَﻜُﻞّ ﺣﻜﻤﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤﺠْﻤﻮْﻉ ﻛﻜﻞ ﺫَﺍﻙَ ﻟَﻴْﺲَ ﺫَﺍ ﻭﻗَﻮْﻋﺤﻴْﺜﻤَﺎ ﻟﻜُﻞّ ﻓَﺮْﺩ ﺣُﻜﻤَﺎ ﻓَﺈﻧَّﻪُ ﻛُﻠّﻴّﺔ ﻗَﺪْ ﻋﻠﻤَﺎ

Kullu itu kita hukumkan untuk majmu’ (sebagian atau sekelompok) seperti ‘Sebagian itu tidak pernah terjadi’. Dan jika kita hukumkan untuk tiap-tiap satuan, maka dia adalah kulliyyah (jami’atau keseluruhan) yang sudah dimaklumi.

Mari perhatikan dengan seksama dan cermat kalimat hadits tersebut.
Jika memang maksud Rosululloh shalallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam adalah seluruh kenapa beliau berputar-putar dalam haditsnya? Kenapa tidak langsung saja “Kullu muhdatsin fin naar (setiap yg baru itu di neraka)? Kullu Bid’atin fin naar (setiap bid’ah itu di neraka)”? Kenapa Rosululloh Saw menentukan yang akhir, yakni “kullu dholalatin fin naar” bahwa yang sesat itulah yang masuk neraka?

Selanjutnya, kalimat bid’ah (ﺑﺪﻋﺔ ) di sini adalah bentuk isim (kata benda) bukan fi’il (kata kerja). Dalam ilmu nahwu menurut kategorinya Isim terbagi 2 yakni Isim Ma’rifat (tertentu) dan Isim Nakirah (umum).

Nah.. kata bid’ah ini bukanlah:
1. Isim dhomir
2. Isim alam
3. Isim isyaroh
4. Isim maushul
5. Ber alif lam
yang merupakan bagian dari isim ma’rifat. Jadi kalimat bid’ah di sini adalah isim nakiroh. Dan kullu di sana berarti tidak beridhofah (bersandar) kepada salah satu dari yang 5 diatas. Seandainya kullu beridhofah kepada salah 1 yang 5 di atas, maka ia akan menjadi ma’rifat. Tapi pada ‘kullu bid’ah’, ia beridhofah kepada nakiroh. Sehingga dalalah -nya adalah bersifat ‘am (umum). Sedangkan setiap hal yang bersifat umum pastilah menerima pengecualian. Ini sesuai dengan pendapat Imam Nawawi.

ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﻭَﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ ﻫَﺬَﺍﻋَﺎﻡٌّ ﻣَﺨْﺼٍُﻮْﺹٌ ﻭَﺍﻟْﻤُﺮَﺍﺩُ ﻏَﺎﻟِﺐُ ﺍﻟْﺒِﺪَﻉِ .

“Sabda Nabi SAW, “semua bid’ahadalah sesat”, ini adalah kata-kata umum yang dibatasi jangkauannya. Maksud “semua bid’ah itu sesat”, adalah sebagian besar bid’ah itu sesat, bukan seluruhnya.” (Syarh Shahih Muslim, 6/154). Lalu apakah sah di atas itu dikatakan mubtada (awal kalimat)? Padahal dalam kitab Alfiah (salah 1 kitab rujukan ilmu nahwu), tertulis:
ﻻﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﺃ ﺑﺎﻟﻨﻜﺮﺍﺓ
Tidak boleh mubtada itu dengan nakiroh, kecuali ada beberapa syarat, di antaranya adalah dengan sifat. Andaipun mau dipaksakan untuk mensahkan mubtada dengan ma’rifah agar tidak bersifat umum pada ‘kullu bid’atin di atas, maka ada sifat yang di buang (lihat dari sisi balaghah). Dan pilihannya cuma 2 yakni: bid’ah hasanah atau bid’ah sayyi’ah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentu tidak pernah mengatakan bahwa “seluruh bid’ah adalah sesat”. Beliau mengatakan “Kullu Bid’ah dlalalah” sedangkan berdasarkan ilmu atau secara tata bahasa sudah dapat dipahami dengan mudah seperti apa yang disampaikan oleh ulama yang sanad ilmunya tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti Al-Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menuliskan: “Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154)

Hadits “Kullu Bid’ah dlalalah” berdasarkan ilmu yakni menurut tata bahasanya ialah ‘Amm Makhshush, artinya “makna bid’ah lebih luas dari makna sesat” sehingga “setiap sesat adalah bid’ah akan tetapi tidak setiap bid’ah adalah sesat”.

Bid’ah yang sesat adalah mengada-ada dalam urusan agama atau mengada-ada dalam perkara syariat atau mengada-ada dalam urusan yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni melarang sesuatu yang tidak dilarangNya, mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkanNya, mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan-Nya atau melakukan sunnah sayyiah yakni mencontohkan atau meneladankan sesuatu di luar perkara syariat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.

Bid’ah yang tidak sesat adalah melakukan sunnah hasanah yakni mencontohkan atau meneladankan sesuatu di luar perkara syariat yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan baik atau buruk perkara baru di luar perkara syariat ke dalam sunnah hasanah atau sunnah sayyiah.

ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ ﺯُﻫَﻴْﺮُ ﺑْﻦُ ﺣَﺮْﺏٍ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺟَﺮِﻳﺮُ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﺤَﻤِﻴﺪِ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﺄَﻋْﻤَﺶِ ﻋَﻦْ ﻣُﻮﺳَﻰ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻳَﺰِﻳﺪَ ﻭَﺃَﺑِﻲ ﺍﻟﻀُّﺤَﻰ ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺑْﻦِ ﻫِﻠَﺎﻝٍ ﺍﻟْﻌَﺒْﺴِﻲِّ ﻋَﻦْ ﺟَﺮِﻳﺮِ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺟَﺎﺀَ ﻧَﺎﺱٌ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺄَﻋْﺮَﺍﺏِ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺍﻟﺼُّﻮﻑُ ﻓَﺮَﺃَﻯ ﺳُﻮﺀَ ﺣَﺎﻟِﻬِﻢْ ﻗَﺪْ ﺃَﺻَﺎﺑَﺘْﻬُﻢْ ﺣَﺎﺟَﺔٌ ﻓَﺤَﺚَّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔِ ﻓَﺄَﺑْﻄَﺌُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ﺣَﺘَّﻰ ﺭُﺋِﻲَ ﺫَﻟِﻚَ ﻓِﻲ ﻭَﺟْﻬِﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺛُﻢَّ ﺇِﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِ ﺟَﺎﺀَ ﺑِﺼُﺮَّﺓٍ ﻣِﻦْ ﻭَﺭِﻕٍ ﺛُﻢَّ ﺟَﺎﺀَ ﺁﺧَﺮُ ﺛُﻢَّ ﺗَﺘَﺎﺑَﻌُﻮﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻋُﺮِﻑَ ﺍﻟﺴُّﺮُﻭﺭُ ﻓِﻲ ﻭَﺟْﻬِﻪِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻓَﻌُﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻛُﺘِﺐَ ﻟَﻪُ ﻣِﺜْﻞُ ﺃَﺟْﺮِ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻲْﺀٌ ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺳَﻴِّﺌَﺔً ﻓَﻌُﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﺜْﻞُ ﻭِﺯْﺭِ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﻣِﻦْ ﺃَﻭْﺯَﺍﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻲْﺀٌ

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir bin ‘Abdul Hamid dari Al A’masy dari Musa bin ‘Abdullah bin Yazid dan Abu Adh Dhuha dari ‘Abdurrahman bin Hilal Al ‘Absi dari Jarir bin ‘Abdullah dia berkata; Pada suatu ketika, beberapa orang Arab badui datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengenakan pakaian dari bulu domba (wol). Lalu Rasulullah memperhatikan kondisi mereka yang menyedihkan. Selain itu, mereka pun sangat membutuhkan pertolongan.
Akhirnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan para sahabat untuk memberikan sedekahnya kepada mereka. Tetapi sayangnya, para sahabat sangat lamban untuk melaksanakan anjuran Rasulullah itu, hingga kekecewaan terlihat pada wajah beliau. Jarir berkata; ‘Tak lama kemudian seorang sahabat dari kaum Anshar datang memberikan bantuan sesuatu yang dibungkus dengan daun dan kemudian diikuti oleh beberapa orang sahabat lainnya. Setelah itu, datanglah beberapa orang sahabat yang turut serta menyumbangkan sedekahnya (untuk diserahkan kepada orang-orang Arab badui tersebut) hingga tampaklah keceriaan pada wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’
Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Siapa yang melakukan satu sunnah hasanah dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan siapa yang melakukan satu sunnah sayyiah dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR Muslim 4830).

Hadits di atas diriwayatkan juga dalam Sunan An-Nasa‘i no.2554, Sunan At-Tirmidzi no. 2675, Sunan Ibnu Majah no. 203, Musnad Ahmad 5/357, 358, 359, 360, 361, 362 dan juga diriwayatkan oleh yang lainnya. Arti kata sunnah dalam sunnah hasanah atau sunnah sayyiah adalah contoh atau suri tauladan atau perkara baru, sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang lain sebelumnya.

Kesimpulannya, sunnah hasanah adalah contoh atau suri tauladan atau perkara baru di luar perkara syariat yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits, termasuk ke dalam bid’ah hasanah.

Sunnah sayyiah adalah contoh atau suri tauladan atau perkara baru di luar perkara syariat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits , termasuk ke dalam bid’ah dholalah.
Imam Mazhab yang empat yang bertalaqqi (mengaji) dengan salaf sholeh, contohnya Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan.

ﻗﺎَﻝَ ﺍﻟﺸّﺎَﻓِﻌِﻲ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ - ﻣﺎَ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻭَﺧﺎَﻟَﻒَ ﻛِﺘﺎَﺑﺎً ﺃَﻭْ ﺳُﻨَّﺔً ﺃَﻭْ ﺇِﺟْﻤَﺎﻋﺎً ﺃَﻭْ ﺃَﺛَﺮًﺍ ﻓَﻬُﻮَ ﺍﻟﺒِﺪْﻋَﺔُ ﺍﻟﻀﺎَﻟَﺔُ ، ﻭَﻣﺎَ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺨﺎَﻟِﻒُ ﺷَﻴْﺌﺎً ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬُﻮَ ﺍﻟﺒِﺪْﻋَﺔُ ﺍﻟﻤَﺤْﻤُﻮْﺩَﺓُ ‏( ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺇﻋﺎﻧﺔ 313 ﺹ 1 ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ - ﺝ )

Artinya ; Imam Syafi’i ra berkata –Segala hal yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan bertentangan dengan Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ (sepakat Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bid’ah yang sesat (bid’ah dholalah). Dan segala kebaikan yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan tidak bertentangan dengan pedoman tersebut maka ia adalah bid’ah yang terpuji (bid’ah mahmudah atau bid’ah hasanah), bernilai pahala. (Hasyiah Ianathuth-Thalibin –Juz 1 hal. 313).

(Muhammad Alfatih Sukardi, kontributor bangkitmedia.com asal Pekanbaru Riau)

http://bangkitmedia.com/bidah-menurut-kajian-ilmu-nahwu/

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com: