Rocky Gerung Sebut Kitab Suci Fiksi, Benarkah?

Erhaje88


Pengamat politik Ricky Gerung mengatakan bahwa kitab suci adalah hal yang fiksi. Dan itu berbeda dengan fiktif.

Pernyataan kontroversial itu disampaikannya dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa, 10 April 2018. Menurut Rocky Gerung saat ini kata fiksi dianggap negatif karena dibebani kebohongan, sehingga fiksi itu selalu dimaknai sebagai kebohongan.

 

"Fiksi adalah energi yang dihubungkan dengan telos, dan itu sifatnya fiksi. Dan itu baik. Fiksi adalah fiction, dan itu berbeda dengan fiktif," ujarnya. Telos sendiri dalam bahasa Yunani berarti ‘akhir’, ‘tujuan’, atau ‘sasaran’.
Dia memperjelas jika fiksi itu baik, sedangkan yang buruk adalah fiktif.
Dosen mata kuliah filsafat itu mengambil contoh Mahabharata. Menurutnya, Mahabharata adalah fiksi, tapi itu bukan fiktif. Rocky berargumen, fiksi itu kreatif. Sama seperti orang beragama yang terus kreatif dan ia menunggu telosnya.

"Anda berdoa, Anda masuk dalam energi fiksional bahwa dengan itu Anda akan tiba di tempat yang indah,” ujarnya menjelaskan.

Rocky menambahkan, dalam agama, fiksi adalah keyakinan. Dalam literatur, fiksi adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi.

"Kimianya sama, dalam tubuh sama, dan jenis hormon yang diproduksi dalam tubuh sama," ujarnya.

Video pernyataan kontroversial Rocky Gerung di acara ILC di TV One, Kitab Suci Adalah Fiksi, tonton videonya dibawah ini:



Beda Fiksi Dengan Fiktif?


Fiksi menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah:
1 Sas cerita rekaan (roman, novel, dan sebagainya);
2 rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan: nama Menak Moncer adalah nama tokoh -- , bukan tokoh sejarah;
3 pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau pikiran. Lihat https://kbbi.web.id/fiksi

Fiktif/fik·tif/ adalah bersifat fiksi; hanya terdapat dalam khayalan: cerita “Pengantin Kali Ciliwung” ini adalah cerita -- belaka; bulan ini ia terpaksa membuat laporan -- kegiatan yang dikelolanya. Lihat https://kbbi.web.id/fiktif

Menurut Wikipedia: Fiksi adalah sebuah Prosa naratif  yang bersifat imajiner, meskipun imajiner sebuah karya fiksi tetaplah masuk akal dan mengandung kebenaran yang dapat mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia.

Kebenaran dalam sebuah dunia fiksi adalah keyakinan yang sesuai dengan pandangan pengarang terhadap masalah hidup dan kehidupan. Kebenaran dalam karya  fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari segi hukum, moral, agama, logika, dan sebagainya. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi bahkan dapat terjadi di dunia nyata dan benar di dunia fiksi. Misalnya seorang perempuan yang membunuh seorang laki-laki yang memperkosanya tetapi ia dinyatakan bebas dan tidak bersalah atas kasus menghilangkannya nyawa seseorang-menurut hukum dunia nyata ia harus tetap di hukum. Sebuah karya sastra haruslah memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik.

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika membaca sebuah karya sastra.[1] Unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri, tetapi mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Novel dan Cerpen termasuk bagian dari fiksi. Lihat https://id.m.wikipedia.org/wiki/Fiksi

Dari kutipan kutipan diatas, apa bisa disimpulkan bahwa kitab suci merupakan hal yang fiksi seperti yang diucapkan Rocky Gerung? Silahkan pendapat anda tulis di kolom komentar bawah ini.

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

1 comment:

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE