Menunggu Kejujuran Dan Permintaan Maaf

Setelah video pembacaan puisinya yang berjudul Ibu Indonesia  menjadi viral dan memantik banyak reaksi, Sukmawati Soekarnoputri meminta maaf secara terbuka. Namanya saja permintaan maaf, ada yang menerima ada yang menolak. Ada yang menerima permintaan maaf namun melanjutkan proses pelaporannya ke polisi. Ada juga yang menerima permintaan maafnya, memberikan pengampunan, dan meminta semua pihak menghentikan polemik sampai di sini saja. Ada yang berharap kasus ini dilupakan agar kita bisa move on dan melanjutkan karya membangun persada Nusantara.

Meminta maaf dan memaafkan (Gambar: google image)

Beda dan jeda antara 'memaafkan' dan 'melupakan' ternyata cukup lebar, bahkan sangat lebar. Secara pribadi saya berpendapat, kita bisa 'memaafkan' namun sulit 'melupakan'. Mengapa? Karena kita tidak terkena amnesia. Otak kita sehat, daya ingat kita masih kuat. Benarkah?

Ternyata tidak juga. Kok bisa? Coba berapa banyak politikus yang mempunyai dosa masa lalu, namun kita lupakan, bahkan kita elu-elukan agar bisa jadi pemimpin entah di aras daerah maupun pusat, regional maupun nasional, bahkan internasional.

Di satu sisi, ada hal positif di sini. Artinya, kita bukan bangsa pendendam sekaligus mudah mengampuni. Namun, di sisi lain kesalahan, pelanggaran, dan dosa masa lalu yang belum dibereskan --paling tidak diakui secara terbuka-- rentan dan rawan untuk diulangi. Lebih parah lagi kalau yang bersangkutan merasa tidak bersalah sama sekali. Publik meminta --eufemisme dari kata menuntut-- agar yang bersangkutan meminta maaf secara terbuka dan diampuni.

Bebek Nenek

Fenomena ini mengingatkan saya akan beban masa lalu yang mengganggu. Dua orang kakak beradik sedang berlibur Lebaran ke rumah nenek mereka di desa. Dasar orang kota, yang tinggal di apartemen yang sempit, begitu melihat halaman neneknya yang begitu luas, mereka langsung melakukan petualangan.

Dibekali ketapel, dua bocah laki-laki ini lalu berburu apa saja yang bisa mereka tembak: cicak, kecoak, tupai, burung. Karena kesulitan mengetapel burung yang begitu ringas, sang adik mengarahkan ketapelnya ke anak-anak bebek yang berjalan lucu. Kena!

Anak bebek itu langsung mati. Dengan wajah ketakutan, sang adik segera menguburkan bangkai anak bebek itu untuk menghilangkan jejak. Ketika melihat sang kakak diam saja, dia merasa lega.

Kelegaan itu tidak berlangsung lama dan berubah menjadi teror mental tak berkesudahan. Sehabis makan siang, sang nenek berkata, "Tolong kalian cuci sendiri peralatan makan yang kalian pakai. Di sini tidak ada pembantu."

"Punyaku tolong cucikan sekalian ya, Dik," ujar kakaknya sambil melirik nakal.

Ketika melihat adiknya mau membuka mulut tanda protes, sang kakak dengan santai mendekatkan mulutnya ke telinga sang adik dan berbisik, "Ingat bebek nenek."

Seketika wajah sang adik memucat dan menyambar peralatan makan sang kakak. Tanpa bicara lagi dia kerjakan tugas yang tidak mengenakkan itu.

Keesokan harinya, saat mereka bangun pagi, sang nenek memberi pengumuman, "Tolong kalian beresin tempat tidur kalian masing-masing." Sekali lagi sang kakak berkata, "Tolong beresin punyaku juga."

Begitu ada tanda-tanda penolakan, sang kakak kembali membisikkan kalimat mautnya, "Ingat bebek nenek."

Dengan perasaan jengkel luar biasa, sang adik menjalankan semua perintah kakaknya. Jatah kuenya pun direbut sang kakak tanpa berani protes. Hari libur yang seharusnya menyenangkan berubah jadi seperti malapetaka.

Akhirnya sang adik tidak tahan lagi. Dia memberanikan diri menemui neneknya dan mengakui segala perbuatannya.

Dengan senyum arif sang nenek berkata, "Nenek sudah tahu sejak hari pertama engkau membunuh anak bebekku. Nenek sudah memaafkan. Nenek hanya menunggu kejujuran dan permintaan maafmu!"

Begitu mendengar kalimat itu, dengan mata berair, sang adik teriak, "Kakaaak!"

Kakaknya lari karena dikejar sang adik dengan kemarahan yang luar biasa. Dosa yang tidak dibereskan memang seperti lava panas yang menunggu waktu meletus.

Sudah Lupa

Versi dewasa dari kisah di atas tidak kalah dramatisnya. Ada seorang jemaat yang menemui pendetanya sehabis ibadah Minggu. "Pak Pendeta, bisa minta tolong. Nanti kalau Pak Pendeta berdoa, tolong tanyakan kepada Tuhan dosa-dosa saya," ujarnya.

"Lho, bukannya engkau bisa berdoa sendiri kepada Tuhan?"

"Tapi kan hubungan Pak Pendeta lebih dekat dengan Tuhan. Please," ujar ibu itu.

Minggu berikutnya, ibu itu menemui pendeta itu dengan perasaan tidak sabar. "Apa Pak Pendeta sudah tanyakan kepada Tuhan seberapa besar dan banyak dosa saya?"

"Sudah Bu...."

"Apa jawab Tuhan?" potong ibu itu tidak sabaran.

"Tuhan hanya menjawab, 'Saya sudah lupa tuh!'"

Tuhan bukan hanya Maha Pengampun namun juga Maha Penyayang.

Dari Sukma Hingga Yusril

Bukan kebetulan jika berita yang masuk  trending topic, tiga nama mencuat: Mbak Sukma, Ahok, dan Yusril. Mbak Sukma sudah meminta maaf. Adik-adik Ahok --Lety dan Basuri-- yang tersinggung karena Yusril menyinggung ayah mereka dalam pidatonya, menuntut permintaan maaf tokoh utama Partai Bulan Bintang itu.

Pertanyaan yang mungkin tersisip atau tersisa, "Setelah cerai, apakah Ahok memaafan Vero dan Julianto Tio sang 'Medan Elang'? Bisa jadi. Namun, apakah Ahok bisa melupakan affair yang menyakitkan antara istri dengan 'good friend'-nya itu?

Kisah Terakhir
Untuk menutup kolom ini, masih segar dalam ingatan saya tentang seorang bapak yang masuk bilik pengakuan dosa di sebuah gereja Katolik. Dengan terbata-bata, dia menceritakan kepada Romo di balik dinding, bahwa dia terus dihantui oleh perasaan bersalah karena pernah menyebabkan kecelakaan yang membunuh sepasang suami-isteri berikut anak perempuannya, dan meninggalkan anak laki-lakinya terluka parah.

Alih-alih bertanggung jawab karena mengemudi dalam pengaruh alkohol, dia malah melakukan tabrak lari. Dia memang lepas dari jerat hukum dan tanggung jawab, namun tidak terlepas dari jerat rasa bersalah hati nuraninya sendiri. Setelah puluhan tahun menyimpan erat-erat dosa masa lalunya itu, dia akhirnya memilih untuk mengakui dosanya di depan Tuhan melalui Romo di gerejanya.

"Jika saya yang manusia saja sudah mengampuni, apalagi Tuhan," jawab Romo di balik ruangan.

Ucapan Romo yang begitu lembut itu menyentakkannya. Dengan rasa ingin tahu yang besar dia bertanya, "Kok bisa begitu Romo, apa yang Romo maksudkan?"

"Pasutri dengan anak perempuannya yang mati tertabrak mobilmu itu adalah Papa, Mama, dan adik saya," ujar Romo itu.

Ucapan yang pelan itu terasa bagai petir yang meledak di telinga dan juga hatinya. Dia berlutut, dan minta ampun di hadapan Tuhan dan Romo itu.

Seandainya saja, bangsa ini belajar untuk saling memaafkan dan mengampuni, bukan melupakan kesalahan masa lalu yang tidak mungkin dihilangkan dengan penghapus memori secanggih apa pun, kita bisa move on dan membangun persada Nusantara yang kita kasihi. Jangan biarkan Ibu Pertiwi menangis lagi. Saya percaya Ibu Kartini dan Ibu Bumi sepakat bahwa damai itu indah. Setuju?

Xavier Quentin Pranata ,pelukis kehidupan di kanvas jiwa

[kolom detik]

0 Response to "Menunggu Kejujuran Dan Permintaan Maaf"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel