Kiai Said Aqil Siradj Dan Master Cheng Yen

Erhaje88

Saya beruntung menjadi bagian dari rombongan yang mendapat kesempatan menyaksikan pertemuan dua tokoh agama yang berpengaruh di dunia, yaitu KH. Said Aqil Siroj dari Nahdlatul Ulama dan Master Cheng Yen dari Buddha Tzu Chi yang berpusat di Xincheng, kota Hualien Taiwan.


Setelah dua hari mengunjungi Rumah Sakit, Media Televisi, Pusat Bisnis dan Universitas yang dikelola komunitas Buddha Tzu Chi, Kiai Said Aqil bertatap muka dengan Master Cheng Yen.

“Selamat datang di tempat kami. Bagaimana kesan Bapak terhadap kami setelah melihat langsung aktifitas kami? Tolong beritahu kekurangan penyambutan kami kepada Bapak.” Sapa Master Cheng Yen sambil membungkukkan tubuhnya dengan kedua telapak tangan menyatu di depan dada.

Mendapat sapaan hangat, Kiai Said Aqil menyampaikan terima kasih telah disambut secara terhormat dan merasa senang dapat menjalin persaudaraan dengan komunitas Buddha Tzu Chi.

“Kami mengajak Buddha Tzu Chi untuk bersinergi menegakkan keadilan, memberikan pengayoman terhadap yang lemah dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Kami menjalin persaudaraan dengan semua pihak kecuali pelanggar hukum.” Balas Kiai Said santun.

Master Cheng Yen dan Kiai Said Aqil pun berdiskusi tentang berbagai isu kemanusiaan. Keduanya saling bertukar pikiran, menyampaikan pandangan dan solusinya. Terkadang tampak Master Cheng Yen mengangguk dengan sikap hormat. Begitu juga Kiai Said menunjukkan sikap yang sama.


Kepada Kiai Said Aqil, Master Cheng Yen menyampaikan rasa bahagianya mengamati kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia. Manusia, kata Master Cheng Yen, perlu saling menolong secara ikhlas dan kasih sayang. Agama itu yang terpenting adalah aksi. Atas keyakinannya itu, ia pun tak segan minta nasehat kepada Kiai Said Aqil tentang peran kemanusiaan yang ideal.

Kiai Said Aqil mengatakan bahwa selama ini Master Cheng Yen bersama Buddha Tzu Chi telah memberikan teladan kepada manusia. Esensi agama adalah kemanusiaan. Nabi Muhammad selalu memberikan keteladanan dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Karena itu percuma beragama jika berperilaku bengis dan radikal.

Masyarakat beragama di belahan lain di dunia telah kehilangan esensi dalam beragama. Barat menjunjung tinggi capaian material, Timur Tengah berkutat pada legal formal sedangkan yang di Asia konsentrasi pada substansi untuk mampu membangun peradaban. Di kawasan ini masyarakat kualitas moral dan penguatan karakter. Salah satu faktor konsistensinya adalah para agamawannya yang mengutamakan intuisi sehingga selalu dalam tuntunan Tuhan.

Oleh: Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: