(Dampak) Muazin Bersuara Buruk

Erhaje88

Dalam Kitabnya 'Matsnawi-e Maknawi', Rumi bercerita: Di sebuah negeri, ada seorang muazin yang bersuara buruk. Setiap hari ia memanggil orang untuk shalat.

Orang-orang memberi nasehat kepadanya, "Berhentilah kamu memanggil orang untuk shalat. Tetapi muazin itu menolak nasihat banyak orang.

 (Ilustrasi azan)

Ia justru bahagia dengan mengumandangkan azannya yang buruk itu. Baginya, melantunkan azan untuk memanggil orang shalat adalah sebuah kehormatan.

Suatu pagi, seorang pendeta datang menemui jamaah kaum Muslimin. Dia berkata: "Tunjukkan padaku siapa muazin yang suara dan teriakannya selalu membuat hatiku bahagia".

Seorang Muslim bertanya, "Kebahagiaan macam apa yang kau peroleh dari suara jelek muazin itu?"

Pendeta itu kemudian bercerita, "Anak perempuanku yang rupawan dan berbudi pekerti ingin sekali menikah dengan seorang Mukmin sejati. Aku menolak keinginannya itu."

"Akhirnya ia pun jatuh sakit. Kecintaannya kepada Islam sudah tumbuh mengakar dalam hatinya. Memikirkan anak gadisku itu membuatku tersiksa, gelisah, dan menderita kerisauan terus-menerus."

"Aku khawatir dia akan masuk Islam. Dan aku berpikir tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya". Sampai suatu ketika, dia mendengar suara azan itu. Ia bertanya, "Suara apa yang tidak enak ini? Suara ini menusuk telingaku. Belum pernah dalam hidupku, aku mendengar suara seburuk ini di tempat-tempat ibadat atau gereja!".

Saudara perempuannya menjawab, "Suara itu namanya azan, panggilan beribadat untuk orang-orang Islam. Bagi seorang yang beriman, azan adalah ucapan utama. Anakku tidak percaya.

Dia bertanya padaku, "Ayah, betulkah suara yang jelek itu adalah suara azan untuk memanggil orang sembahyang?" Aku meyakinkannya bahwa itu adalah suara azan.

Ketika dia sudah yakin, wajahnya berubah pucat. Kecintaannya pada Islam sirna dan kebencian justru tumbuh dalam hatinya.

Meyaksikan perubahan itu, aku merasa dilepaskan dari cekraman kecemasan dan penderitaan.

Tadi malam aku tidur dengan nyenyak, dgn kenikmatan serta kesenangan yang kuperoleh berkat suara azan yang dikumandangkan muazin itu".

Pendeta itu melanjutkan, "Bawalah aku kepada muazin itu. Aku ingin memberikan hadiah padanya".

Ketika pendeta itu bertemu dengan si muazin, dia berkata, "Mohon terimalah hadiah ini. Sungguh kau telah menjadi pelindung dan juru selamatku.
Berkat kebaikan yang telah kau perbuat, kini aku terbebas dari derita yang selama ini menghimpitku".

******

Rumi lalu berkata, "Keimananmu wahai Muslim, hanyalah kemunafikan dan kepalsuan. Seperti ajakan muazin itu, yang dimaksudkan untuk membawa orang pada jalan kebenaran, malah mencegah orang dari jalan yang lurus."

(Video ilustrasi azan)


Seluruh agama mengajarkan tentang kedamaian. Tak ada satu pun agama yang mengajarkan agar mengedepankan kekerasan dan pemaksaan. Tetapi jika agama itu disebarkan dengan cara-cara yang tak simpatik, jangan disalahkan bila orang memberi stigma buruk terhadap agama yang kita anut.

Disadur dari: Kompasiana.com/dewagilang98

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: