Azan Yang Kurang Merdu Dan Semangkok Burjo

Erhaje88

Warung burjo Kahoyong itu selalu ramai. Maklum, posisinya di persimpangan antara institut seni, akademi kebidanan, dan kampus politeknik. Banyak mahasiswa nongkrong di sana. Namun seramai apa pun, setiap pelanggan biasanya cuma duduk diam nyeruput burjo atau intel goreng, sambil tenggelam di layar ponsel masing-masing. Kalau toh ada yang mengobrol, maksimal cuma satu-dua tukang ojek online yang caper mengajak berbincang Teh Rohmah, teteh cantik empunya warung.

Sukmawati memicu kontroversi lewat puisinya (Foto: Ari Saputra/detik.com)

Namun tiba-tiba pagi tadi muncul obrolan panas. Pak Hardi, dosen muda di kampus politeknik, membuka percakapan.

"Ah, ini si ibu politisi sepuh ini, udah bikin puisi jelek, eh kok ya malah mengejek agama orang. Masak di puisinya dia bilang sari konde lebih indah ketimbang cadar, dan kidung lebih indah ketimbang azan?"

" Lho , gitu aja kok dibilang mengejek to, Pak?" satu suara menyahut. Itu jelas suara Si Geyong, mahasiswa seni rupa yang barangkali sudah kuliah di kampusnya sejak Angkatan Balai Pustaka.

"Ya jelas ngejek to . Cadar kan ajaran agama, kok dibandingin sama konde? Azan juga kewajiban agama, kok dibandingan sama kidung apalah itu? Ngawur!" Pak Hardi menjawab tanpa menoleh, lalu tangannya maju sebentar menyambar bakwan yang masih hangat.

[Terkait Isi Puisi Sukmawati, PWNU Jatim Meminta Umat Islam Tetap Tenang Dan Tidak Terprovokasi]

"Iya, aku sih paham, Pak. Bagi sebagian muslim, cadar memang keyakinan mereka. Tapi kalau bilang bahwa konde lebih cantik daripada cadar, itu tidak sedang menghina, kan? Itu sekadar penilaian subjektif saja. Artinya, semuanya tak lebih dari penilaian estetika, alias perkara selera. Lha kalau menurut selera dia konde lebih indah ketimbang cadar, dan kidung anu lebih merdu ketimbang azan, apa kita bisa mengurusi penilaian subjektif orang?" Geyong mulai menampakkan hasil kuliahnya yang tak kelar-kelar itu.

"Tapi mosok urusan agama dibandingkan dengan urusan dandanan? Itu namanya membandingkan urusan akhirat dengan urusan dunia!" Pak Hardi mulai menoleh. Wah bisa serius ini, batin saya. Pak Hardi memang kadang uring-uringan kalau sudah ngobrol soal agama.

"Hmm begini lho , Pak," Geyong meneguk sebentar susu coklat panasnya, lalu mulai menyalakan rokok. "Maksudku, ketika dia membandingkan keindahan antara konde dan cadar, juga antara kidung dan azan, yang sedang dia bandingkan itu bukan kandungan kebenaran atau keyakinan di dalamnya. Tapi semata perkara selera estetis. Nah, selera estetis itu sifatnya sangat subjektif, tidak bisa dipaksakan, tidak bisa disalahkan. Kan gitu. Coba, sampean bilang teh tubruk lebih enak ketimbang susu coklat. Apa artinya sampean sedang menghina susu? Kan tidak. Aku juga nggak perlu emosi, apalagi terus membalas dengan menyebut minum susu sebagai kebenaran yang lebih hakiki ketimbang minum teh. Tul nggak?" Geyong bicara begitu sambil tangannya menunjuk gelas teh di depan Pak Hardi.



Pak Hardi terdiam. Hening sejenak, kemudian ia bergumam dengan wajah cemberut, "Ah, rasanya kok tetap nggak pantes dia baca puisi begituan...."

"Naaaaah memang ini urusannya lebih ke soal pantes dan nggak pantes. Dari tadi aku mau ngomong gitu!" Pak Barjo, pedagang kerupuk yang sering berhenti buat sarapan selepas meletakkan kaleng-kaleng kerupuknya di warung Teh Rohmah, ikut menyahut. "Kalau dalam ajaran leluhur Jawa itu ada bener dan ada
pener. Apa yang bener belum tentu
pener. Bener itu urusannya logika, urusan akal, urusan otak. Itu miliknya orang-orang pintar. Tapi kalau pener itu sudah urusan rasa-pangrasa , Mas. Itu miliknya orang-orang bijaksana. Jadi...."

"Terjemahannya apa tuh?" Kang Indra yang sedari tadi duduk diam di sebelah saya langsung memotong. Sebenarnya kami berdua terbiasa diam jadi penyimak. Tapi kali ini saya maklum kenapa Kang Indra menyela. Ini warung Putra Sunda, dan Kang Indra sendiri orang Sunda. Tapi yang nongkrong di situ malah kebanyakan orang Jawa, dengan ungkapan-ungkapan yang juga sangat Jawa. Lama-lama pasti dia sebal juga.

[Dampak Muazin Bersuara Buruk]

Pak Barjo mengernyit. "Gimana ya terjemahannya. Bener itu ya benar, Mas. Kalau pener itu... hmmm... pas, gitu. Pantes. Sesuai tempatnya. Sesuai suasananya. Bukan cuma suasana lahir, tapi juga suasana batin. Jadi mungkin saja si ibu pembuat puisi itu tidak salah. Tapi dengan mengucapkannya di depan banyak orang, itu bikin jadi tidak pas. Begitu lho, Mas."

"Jadi ini lebih ke perkara etika saja, Pak?" saya berusaha mengerucutkan topik, biar cepat selesai.

" Lha iya to Mas. Yang dilakukan ibu pembaca puisi itu mungkin benar dalam sudut pandang dia. Tapi kalau sudah disampaikan di muka umum, ya jadi kurang pener. Hal-hal yang kurang pener itulah yang selama ini menciptakan suasana tidak nyaman dalam hidup bertetangga. Kan gitu. Ibaratnya istri sampean cantik, istri tetangga nggak cantik. Apa iya sampean mau menyampaikan fakta itu di hadapan rapat RT? Benarnya sih benar, tapi tetangga sampean jadi tersinggung."

" Mbok contohnya jangan istrilah Pak, itu juga nggak pener," Geyong bersungut-sungut. "Tapi aku cocoklah sama Pak Barjo. Aku jadi ingat spanduk-spanduk di dekat Pojok Beteng waktu Desember lalu. Masak tulisannya 'Haram Mengucapkan Selamat Natal'? Benar, mungkin bagi sebagian muslim mengucapkan selamat Natal itu dilarang. Tapi yang benar itu jadi nggak pener ketika urusannya sudah sampai ke spanduk-spanduk. Gimana perasaan saudara-saudara Nasrani kalau membaca itu?"

" Lho kalau itu kan dakwah, Brooooo!" Pak Hardi yang sedari tadi diam kembali masuk gelanggang. "Masak mengingatkan saudara seiman tidak boleh? Itu kewajiban lho !"

"Bukan soal mengingatkannya to Paaak," timpal Geyong. "Tapi ada batasan-batasan sosialnya. Dan menurutku, batasannya ya ruang publik. Kalau keyakinan kita yang berbenturan dengan keyakinan orang lain kita bicarakan secara pribadi dengan teman sendiri, dengan keluarga sendiri, atau dengan kelompok sendiri, tentu bebas-bebas saja. Itu bentuk dari kemerdekaan berkeyakinan. Tapi kalau sudah masuk ke ranah sosial, sampean nggak mungkin to menyebut Tuhannya orang lain palsu dan Tuhan
sampean sendiri yang asli? Itu namanya ngajak breng, ngajak ribut!"

Pak Hardi diam saja, sambil melirik jam tangannya. Saya tahu ini hari Selasa, dan dia harus mengajar di kelas pagi sebentar lagi.

"Lebih dari itu," Geyong rupanya belum selesai, "Kita ini kok sama puisi jelek gitu aja ribut. Itu urusannya kan bukan penistaan, tapi sekadar ketidakpantasan. Lha di saaat yang sama kita malah membiarkan saja ceramah-ceramah yang jelas isinya mengkafir-kafirkan! Kita tersinggung sama puisi nggak mutu, menuduhnya penistaan agama, tapi cuek saja melihat maling memakai agama buat menipu ribuan orang yang kepingin umrah!"

" Lhooo kok terus lari ke situ to Mas Geyong?" Kang Indra kali ini tak kuasa menahan gatalnya. "Masak ujung-ujungnya setiap masalah dibandingkan dengan masalah lain? Kalau begini terus, kita nggak akan pernah berhasil menilai satu kasus secara objektif, karena kesimpulannya selalu 'orang lain lebih ngawur'. Karena orang lain lebih ngawur, yang ini lantas dianggap kurang ngawur. Akhirnya standar-standar kebenaran dan standar etika kita semakin nggak jelas. Semua pihak yang larut dalam kubu-kubuan ini jadi tambah ngawur semau-maunya. Kita jadi gampang banget menjustifikasi sikap-sikap ngawur, hanya dengan bekal alibi bahwa pihak di seberang lebih ngawur! Lah mau sampai kapan kayak gini?"

Wah, wah. Kalau Kang Indra sudah serius begitu, bahaya. Lebih baik saya menyelinap pulang saja.

Oleh: Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul

[detik.com]

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: