Ustad Somad Lebih Mengerti Dari Pada Syeikh Ramadhan Al-Buthy, Syeikh Hassoon Dan Pemerintah RI Yang Tiap Hari Di Suriah

Oleh: Khoiron Mustafit

Pagi-pagi, buka HP, ada pesan masuk di inbox, "Yai, Abdussomad bikin ulah lagi," katanya. Hadeeh... Urusan perutku saja masih kacau, kok urusin nih orang lagi, gumam saya. Yah, tapi mau gimana lagi, saya putuskan untuk menulis sedikit penjelasan.

Dalam gambar ini, Ustadz somad yang maha alim dan maha benar menyatakan bahwa dukungan terhadap Assad adalah agenda setting Syiah internasional.

(Status Ust. Abdul Somad di Facebook)

Luar biasa orang ini, artinya dia lebih mengerti tentang kondisi Suriah dari Syaikh Hassoon, Syaikh Ramadhan Bouthi, yang dikuatkan oleh anaknya, Dr. Taufik Ramadhan Buthy, bahkan Pemerintah Indonesia sendiri, yang diwakili oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkausa Penuh (Dubes PBBP) Republik Indonesia untuk Suriah, Djoko Harjanto. Mereka semua mendukung Bashar al Assad, dan menyatakan bermusuhan dengan para pemberontak. Ustadz Somad lebih memilih sependapat dengan AS, Israel, dan para pemberontak seperti Jabhah al Nusrra.

Ustadz maha tahu ini lupa apa nggak ngerti bahwa berita-berita yang diklaimnya sebagai news framing agenda setting Syiah internasional itu adalah berita yang berlawanan dengan media mainstream barat. Dia seperti menyatakan bahwa qiblatnya adalah media barat. Ustadz yang maha alim ini juga tidak mengerti bahwa justru media-media yang dikatakan sebagai penjaja Syiah itulah yang menentang ISIS, dan menyebarkan apa yang disaksikan dan didukung oleh ulama-ulama serta Pemerintah Indonesia di atas.

Apakah ustadz yang maha benar ini mau mengatakan bahwa dia berlawanan dengan pemerintah Indonesia? Apakah dia mau menyatakan bahwa ulama-ulama seperti Ramadhan Buthy dan Syaikh Hassoon itu penghasut, dan menyatakan bahwa musuh dari mereka, yaitu ISIS dan Jabhah al Nusra, adalah temannya pak Abdussomad? Harus jelas. Cara berpikirnya persis seperti berpikirnya ISIS dan HTI.

Siapa yang mendompleng berhembusnya Arab Spring? Bukankah orang-orang yang mendukung prinsip Amerika, seperti Jabhah al Nusra dan ISIS, yang mendompleng?

Teknik membuat Arab Spring itu simple, pak Somad. Untuk negara-negara miskin seperti Yaman, Mesir, Syria, Tunisia, AS hanya perlu membelanjakan sedikit dollar-nya membeli gerombolan penjahat menggulingkan pemerintah. Kita pasti masih ingatlah ditangkapnya gerombolan MCK (Muslim Cyber Kermi) di Indonesia; Anda pikir mereka itu gerombolannya? Itu hanya kerminya. Nah, AS hanya perlu membeli mereka. Bedanya dengan Indonesia adalah bahwa negara-negara di sekitar Indonesia belum ada yang di-Iraq-libya-kan. Maka, Arab Spring bagi AS itu mudah, setelah gerombolan penjahat dibeli, maka persediaan senjata yang dengan mudah masuk melalui jalur Iraq dan Libya, pun dibagikan. Maka, di negara-negara tetangga Iraq ada istilah Black Market Enterpreneur, yaitu pengusaha yang khusus menangani pasar black market ini (lihat Aljazeera: As Arab Spring continues, black markets boom ).

Bagi CIA, membuat Arab Spring itu semudah membuat perang illegal di Vietnam, penggulingan Presiden Salvador Allende oleh Agusto Pinochet, pembantaian di seluruh Amerika Latin: di El Savador, Nicaragua, Honduras, Liberia, dan seterusnya. Bahkan, Anda harus membuka mata lebar-lebar agar dengan mudah Anda dapat menunjuk seluruh gerakan bernada Komunis dan penggulingan pemerintah itu dilakukan oleh Amerika—atau minimal oleh CIA-nya: delapan tahun setelah peristiwa G30s PKI, tepatnya 11 September 1973 di Santiago, Cile, insiden penggulingan Salvador Allende oleh Pinochet itu diberinama oleh CIA dengan nama sandi “Jakarta Operation”. Sama-sama dibuat oleh CIA.

Mau ngomong tentang Syiah di mana? Di perang Iraq? William Clark, MBA, MS, dalam artikel yang berjudul “Revisited–The Real Reasons for the Upcoming War With Iraq: A Macroeconomic and Geostrategic Analysis of the Unspoken Truth,” menyatakan bahwa perang di Iraq itu adalah perang mata uang. Salah satu alasan perang itu adalah tindakan preventif yang sangat keras atas usaha OPEC menggunakan mata uang Euro sebagai mata uang standardnya. Untuk mencegah OPEC, AS merasa perlu mengambil tindakan geostrategic untuk mengontrol Iraq bersama dengan dua sumber minyaknya (maksudnya merampok sumber minyak itu.

[Pernyataannya Tidak Sesuai Fakta, Ust. Abdul Somad Diajak Tabayyun]

F. William Engdahl, seorang konsultan ekonomi dan pengarang buku A Century of War: Anglo-American Oil Politics and the New World Order, menyatakan pada tanggal 13 Oktober 2003 daam sebuah artikel yang berjudul “A New American Century? Iraq and the Hidden Euro-dollar Wars”, menyatakan bahwa sampai dengan November 2000, tidak ada negara OPEC yang berani menentang aturan harga dollar. Tetapi, pada November itu, Prancis dan negara Eropa lainnya berhasil meyakinkan Saddam Hussein untuk menentang Dollar dengan menjual minyak bukan dalam Dollar, yang disebut sebagai mata uang musuh oleh Iraq pada saat itu.

Pada bulan-bulan sebelum perang Iraq, terdengar kabar dari Russia, Iran, Indonesia, bahkan Venezuela, yang mengindikasikan bahwa perang Iraq itu membawa pesan kepada negara OPEC dan yang lainnya agar jangan bermain api dengan menelantarkan system petro-dollar. Iraq, kata Engdahl, bukanlah masalah senjata kimia atau senjata nuklir menghancur massa. Senjata penghancur massa yang sebenarnya adalah ancaman bahwa negara-negara lain akan mengikuti Iraq berpindah ke Euro dengan meninggalkan Dollar. Inilah yang bisa menciptakan penghancuran massa bagi hegemoni AS atas perekonomian dunia.

Mau ngomong peran Syiah di mana? Di Libya? Di Libya pun kira-kira demikian, sebuah rahasia terbuka dari data email Hillary Clinton yang menujukkan bahwa dukungan Nato kepada pemberontak itu adalah karena rencana Libya membuat mata uang berbasis emas, yang dinamakan dengan Pan African Currency berbasis Dinar Libya, untuk melawan mata uang Euro dan Dollar.

[Kerusuhan Agama Bersumber Dari Hate Speech Dan Hoax]

Sarkozy memperkirakan Libya memiliki cadangan emas sebanyak 143 ton dan perak juga dalam jumlah yang tidak jauh berbeda. Dalam email itu, tindakan Qaddafi ini masuk dalam kategori subversi yang harus dihukum dengan agresi militer. Email itu pun mengidentifikasi Sarkozy sebagai orang yang memimpin penyerangan dengan 5 tujuan utama: mencapai sumber minyak Libya, memastikan pengaruh Prancis dalam kawasan, meningkatkan reputasi Sarkozy secara domestic, mendeploy kekuatan militer Prancis, mencegah pengaruh Qaddafi dalam rencana yang disebut sebagai Francophone Africa.

Itulah sekelumit pengetahuan yang harus diketahui tentang Suriah dan Arab Spring, yang ceritanya selalu sama dari waktu ke waktu: regime change!

0 Response to "Ustad Somad Lebih Mengerti Dari Pada Syeikh Ramadhan Al-Buthy, Syeikh Hassoon Dan Pemerintah RI Yang Tiap Hari Di Suriah"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel