Sudah Wafat, Mbah Hamid Pasuruan Tolong Santrinya Yang Kepepet Butuh Uang

Erhaje88

Kiai Hamid Pasuruan, adalah sosok waliyullah. Menurut KH Musthofa Bisri (Gus Mus), Kiai Hamid bukanlah ‘Wali Tiban’. “Beliau dianggap wali secara ‘muttafaq ‘alaih’,” kata Gus Mus suatu waktu. Kisah berikut bisa menjadi secuil bukti karomah yang dimiliki Kiai Hamid (yang lahir di Lasem dengan nama Abdul Mu’thi, lalu naik haji saat remaja berganti nama Abdul Hamid dan belakangan beliau merasa cukup dipanggil Hamid).


Adalah Su’udi, salah satu santri Kiai Hamid yang dulu dikenal bebal dan nakal. Suatu ketika dirinya merasa pusing karena keempat anaknya butuh seragam sekolah baru. Tak tanggung-tanggung, butuh delapan stel pakaian! Tiap malam Su’udi merapalkan sholawat al-Hamid (Sholawat Syaikh Hamid Afandi Al-Imadi Mufti Syam) sebanyak 313 kali.

Terus ia baca tiap malam hingga akhirnya di suatu dini hari, antara tidur dan terjaga, Su’udi merasa mendengar Kiai Hamid berkata, “Di, pergi ke Kota Pasuruan, sebelah barat Masjid Jami’ ada uang berceceran!”

Sebelah barat Masjid Jami’ Pasuruan, batin Su’udi, adalah makam Kiai Hamid. “Apa mungkin di sana ada uang tercecer?” Su’udi diliputi tanda tanya besar. “Namun baiklah demi anak-anakku yang butuh seragam baru, akan ku kayuh sepedaku,” tekadnya.

Benar saja, usai Subuh, ia langsung genjot ontelnya. Jarak rumahnya sampai Masjid Jami’ sekira 30 km. Sampainya di sana langsung njujug makam Kiai Hamid. Ia periksa di atas tanah makam, di antara tumpukan kembang, hasilnya: nihil! Langkah gontai mengiringi Su’udi. Meski kecewa, tapi karena sudah sampai makam sang guru tercinta, ia sempatkan untuk baca Yasin dan tahlil sebentar.

Setelah rampung saat hendak menuju sepeda yang terparkir, tetiba ada serombongan peziarah masuk ke makam. Pimpinan rombongan menyeret Su’udi. “Pak tolong kami dipimpin tahlil sebentar saja, ini kami mau langsung lanjut ke makam Bung Karno di Blitar,” Su’udi menyanggupi.

Usai tahlil, pimpinan rombongan tadi memberinya lima ribu. Jamaah yang lain ada yang memberinya dua ribu, banyak juga yang seribu. Dari luar, jamaah perempuan (karena tidak boleh masuk kompleks makam) melemparinya dua ribu dalam lembaran yang cukup banyak. Setelah rombongan pergi, Su’udi mulai menghitung jumlah uang yang didapat pagi itu. Semuanya ada 170 ribu! Jumlah yang sangat lumayan waktu itu. Dengan berurai air mata, ia terisak “Maturnuwun Kiai Hamid, ini uang berceceran yang jenengan ngendika tadi…

Su’udi pun dengan penuh linang air mata keharuan pulang ke rumah. Sebelumnya mampir pasar membeli delapan stel seragam untuk anak-anaknya. Masih ada sisa, yang ia belikan beras dan lauk-pauk. Inilah secuil karomah Kiai Hamid, kendati sudat wafat namun mampu menolong santrinya….alfatihah…

(Diadaptasi dari Buku Percik-Percik Keteladanan Kiai Hamid Pasuruan yang ditulis oleh Hamid Ahmad)


[bangkitmedia.com]

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: