Ini Sebab-Sebab Ulama Indonesia Tidak Lagi Masyhur di Tanah Haramain

Erhaje88

Tanggal 20 Juli 1990, di musim haji, Syekh Yasin Al-Fadani tutup usia. Kepala Madrasah Darul Ulum al-Diniyah keturunan Padang (Sumtera Barat) ini wafat dalam usia 75 tahun.

Selain mengajar di madrasah yang dipimpinynya, ia juga memiliki halaqah di Masjidil Haram bersama sejumlah ulama Nusantara lainnya pada dasawarsa 1970-an.

Syekh Yasin Al-Fadani; Referensi pihak ketiga

Tahun 1990-an, satu-satunya ulama Indonesia yang masih mengajar di masjid ini adalah Syekh Abdul Karim al-Banjari. Pada musin haji ia memberikan pengajian dalam bahasa Indonesia, karena yang mengikuti halaqah-nya adalah jamaah haji indonesia. Di luar musim haji, ia menyampaikan kajiannya dalam bahasa Arab untuk anggota halaqah tetap.

Sejak peristiwa penyerangan Masjidil Haram tahun 1979 oleh kelompok Juhaimiyah, pemerintah Saudi memperketat izin mengajar di masjid ini, yang juga berdampak terhadap menciutnya jumlah ulama Jawi (Nusantara) yang mengajar di sana.

Adapun Madrasah Darul Ulum yang dipimpin oleh Syekh Yasin dari tahun 1964 sampai tahun 1990 itu, menurut Azyumardi Azra, mengalami kemunduran setelah ditinggal wafat Syekh Yasin.

Katanya, madrasah ini termasuk madrasah yang secara gigih mempertahankan pola pendidikan tradisional, berusaha mempertahankan independensinya dari campur tangan pemerintah Saudi, baik dalam kurikulum maupun anggaran belanja.

Namun, seperti madrasah-madrasah swasta lainnya, karena berbagai alasan, Darul Ulum terpaksa menerima subsidi dari pemerintah. Dengan demikian, madrasah ini pun kehilangan independensinya.

Menurut Azra, sebelum Syekh Yasin wafat, hampir dipastikan dialah ulama Nusantara paling terkemuka di zaman kontemporer. Ia adalah ahli hadits termasyhur yang digelari al-musnid al-ashr atau ahli sanad “zaman now” atau al-musnid dunya alias pakar sanad sejagat.

Prof. Dr. Abdul Wahab Ibrahim Abu Sulaiaman menyatakan, “Syekh Yasin telah menghidupkan kembali berbagai cabang ilmu hadits yang cenderung dilupakan kalangan terpelajar Muslimin sekarang ini.’ Maka tidak mengherankan jika ia disebut sebagai salah satu muhaddist atau ahli hadis terbesar abad XIV/XV Hijriah.

Syekh Yasin merupakan penulis produktif. Jumlah karyanya mencapai 97 kitab, di antaranya mengenai hadits, ilmu fikih, dan ushul fikih, mantiq, ilmu falak, dan bahasa Arab. Buku-bukunya banyak dibaca para ulama dan menjadi rujukan lembaga-lembaga Islam, pondok pesantren, baik itu di Arab Saudi maupun di Asia Tenggara.

Syekh Yasin Al-Fadani dan para murid dan pengajar; Referensi pihak ketiga

Kitabnya Al-Fawaid al-Janiyyah, menjadi materi silabus dalam mata kuliah ushul fiqih di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Salah satu karya terbesarnya, yang waktu itu masih berupa manuskrip, adalah tentang biografi ulama Mekah sepanjang XII-XIV H.

Sekarang, seiring dengan kemunduran yang dialami madrasah-madrasah tradisional dan menciutnya ulama Jawi (Nusantara) yang memiliki halaqah di Masjidil Haram, ulama Jawi yang menonjol bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Di antaranya yang sering disebut adalah Syekh Ahmad Damanhuri al-Bantani, Syekh Fatah Rawa, Syekh Muhammad Badruddin Abdul Qadir al-Mandili, dan Syekh Abdul Karim al-Banjari yang sudah disebut. Namun, seperti dikatakan Azra, derajat keilmuan mereka belum mencapai taraf ulama terdahulu seperti Syek Yasin Al-Fadani.

Situasi tersebut terjadi, kata Azra, sebab ada kecenderungan pemerintah Arab Saudi untuk tidak lagi membiarkan ulama keturunan mukimin berkiprah mencapai tingkat kepakaran dan kemasyhuran yang melebihi ulama Saudi asli. Maka, tidak heran pula jika di Haramain (Mekah dan Madinah) sangat sulit memperoleh kitab-kitab ulama Jawi yang sudah diterbitkan.

“Memang kitab Marah Labd Tafsir al-Nur karya Syekh Nawawi al-Bantani masih dijual di toko buku tertentu, tetapi orang bisa frustrasi mencari kitab-kitab ulama Jawi lainnya. Karena itu, tidak aneh jika Abdurrahman Wahid pernah mengatakan kepada saya di Mekah, bahwa kitab-kitab [ulama Jawi] beredar secara underground. Hanya melalui informan dan jalur khusus, kita mendapatkan karya-karya mereka di pasar,” ungkap Prof. Dr. Azyumardi Azra, yang selama dua periode pernah menjadi Rektor UIN Jakarta ini.

Oleh: Suryana Sudrajat, Penulis dan praktisi pendidikan

Sumber: Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah, Wacana dan Kekuasaan (1999)

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018