KH Ahmad Basyir Jekulo Kudus, Sang Mujiz Dalailul Khoirot

Erhaje88

Mbah Basyir, begitu para santri biasa menyapanya. Pada pengujung 90 tahun usianya, amanah yang diemban Mbah Basyir berpuluh tahun silam memang sudah waktunya diletakkan. Umat Islam di seluruh Jawa, khususnya Kudus, tidak akan lagi mendapati kesempatan sowan atau mushofahah ijazah Dalail Khoirat seperti hari-hari yang silam. Tinggal sebait kisah dan rekam pemikiran yang dapat dikenang, untuk terus-menerus menghadirkan sang Mujiz (pemberi ijazah-red) kembali ke tengah umat.


Pada 30 November 1924 M silam, menjadi hari paling bersejarah bagi pasutri Kyai Muhammad Mubin dan Nyai Dasireh, ketika lahir seorang bayi yang kelak menjadi sosok ulama’ besar yang hari ini kita kenal dan kenang dengan Mbah Basyir.

Sembilan puluh tahun silam, sang ayah, Kiai Mubin, melihat tanda kecerdasan Ahmad Basyir kecil yang begitu menonjol. Ia tak hanya mengajari ilmu agama, namun juga menyekolahkan sang putra di Veer Folexs School (sekarang menjadi SD Negeri 1 Jekulo), hingga menamatkan jenjang kelas V. Selama mengenyam pendidikan di sana, Ahmad Basyir kecil selalu menjadi juara kelas. Prestasinya yang gemilang menjadi alasan dewan guru memberikan tawaran murid emasnya itu ”diambil anak” oleh sekolah. Tujuannya jelas, kiai Basyir remaja saat itu, akan dididik jadi guru.

Niatan sekolah mengkader Ahmad Basyir menjadi guru tidak lantas diamini oleh sang ayah. Nyai Dasireh, sang ibu, lebih dulu meminta pertimbangan dari Kiai Yasin, seorang ulama khos dan sesepuh Jekulo pada waktu itu. Kunjungan kepada Kiai Yasin itu mengubah semua rencana dan cita-cita Ahmad Basyir kecil. Ia maupun kedua orangtuanya berbulat tekad untuk melanjutkan pendidikan di pesantren.

Dalailul Khoirat


Mimpi tentang jadi guru di Veer Folexs School bagi Basyir kecil sudah usai. Ia lebih memilih melanjutkan pendidikan nonformal di Madrasah Diniyah yang sekarang bernama Tarbiyatus Sibyan. Di madrasah ini ia dididik para Kiai sepuh, salah satunya KH. Dahlan. Selain sekolah di Madrasah, Basyir muda juga mengaji pada KH. Mansyur Kaelani, KH. Yasin, K. Hudlori dan KH. Zainuddin. Kepada mereka, Basyir muda menimba banyak fan, dari tauhid, fikih, tarikh, bahasa, hingga tasawuf. Sedangkan ilmu Al Qur’an, sejak belia Basyir muda mengaji kepada ayahnya sendiri, dilanjutkan kepada Kiai Mukhib, dan men- tashih bacaan Al-Qur’an kepada KH. Mansyur Jekulo.

Sebelum menetap dalam menimba Ilmu di PP. Bareng 1923 (sekarang PP. Al Qaumaniyah), pada tahun 1940, beliau juga sempat nyantri dan menghatamkan Alfiyah di PP. Kenepan Langgar dalem Kudus. Waktu itu beliau berguru kepada KH Ma’mun Ahmad, menghatamkan Al Qur’an kepada
KH. Arwani Amin serta berguru kepada Masyayikh di sekitar Kudus, di antaranya adalah KH. Irsyad dan KH. Khandiq, kakak KH. Turaichan Adjhuri Kudus.

Dari Aktivis Hingga Jadi Mujiz
Semasa mudanya sekitar tahun 1944-1945 M Basyir muda bergabung di Badan Perjuangan Republik Indonesia (BPRI). Sebelum masuk BPRI, Basyir muda masuk organisasi Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Setiap mendengar ada pejuang yang ditahan Belanda di Rendeng, beliau bergegas menyusun strategi dan diplomasi untuk membebaskan tahanan.

Setelah menjadi aktivis dan mengembara ilmu ke berbagai kiai, akhirnya ia kembali ke Jekulo sekitar tahun 1949, mengabdi pada KH. Yasin. Sembari mengaji dan mengabdi, Kiai Basyir muda menempuh riyadhoh puasa Dalail, atas ijazah dari Mbah Yasin. Tekun menjalani ritual riyadhah selama puluhan tahun, pada tahun 1958, oleh KH. Yasin , beliau diberi amanah ijazah Dalail Khoirat beserta hizib- nya.

Masa belajar kiai Basyir muda sudah cukup. Waktunya menyebarkan ilmu. Terinspirasi restu para gurunya, tahun 1969, bersama dengan kiai lain, Kiai Basyir muda mendirikan Madrasah Diniyah Nurul Ulum Jekulo Kudus. Setahun kemudian, beliau mendirikan Pondok Pesantren. Cikal pesantren ini merupakan wakaf dari H. Basyir, berupa bangunan kuno di sebelah utara masjid Kauman. Oleh Kiai Basyir, bangunan itu dijadikan sebuah pondok pesantren yang diberi nama Darul Falah, diresmikan tanggal 1 Januari 1970.

Berkeluarga

KH Ahmad Basyir menikah dengan Nyai Hj. Solikhah binti KH. Abdul Ghoni. Keduanya dikaruniai sembilan orang anak. Di mata istri dan anak-anaknya, Kiai Basyir adalah sosok ayah yang bertanggung jawab, penuh dedikasi dan selalu berpikir progresif. Satu dari sekian bukti, pada saat itu, di Bareng tak ada tradisi sekolah. Sekolah formal di mata masyarakat Bareng adalah hal yang tabu. Kendati demikian, Kiai Basyir tetap menyekolahkan putra-putrinya. Hampir setiap pagi beliau mengayuh sepeda dari Bareng hingga Kudus Kulon untuk mengantarkan putrinya sampai di bangku sekolah. Begitulah, ternyata sosok Kiai Basyir berpikir melampaui masanya.

Menghadapi masyarakat, Kiai Basyir bersikap moderat, selebihnya dermawan. Satu komitmen beliau, jangan sampai santri rekoso (mengalami kepayahan) dalam belajar. Dan, tentang ilmu, KH Ahmad Basyir memegang falsafah, jika ingin menjadi manfaat, ilmu harus diamalkan, meski hanya satu kali.

Satu resep mengaji yang khas dari beliau, ”Enome riyalat, tuwo nemu derajat” (sewaktu muda prihatin, sesampai tua mendapat kesuksesan). Mengaji tidak cukup dengan mengutui buku. Harus ada laku prihatin, hingga ilmu meresap ke dalam hati. Bagi beliau, ilmu tak cukup dihafal, harus dirasakan.

Tidak sedikit teladan yang boleh kita mengiblatkan diri kepada sosoknya, sedari thoriqoh menimba ilmu, perjuangan, hingga riyadhah salawat dan puasa Dalail Khariat yang menjadi kekhasan laku dakwahnya sejak puluhan tahun silam. Sayang, kita tak dapat lagi bersua ilmu dan kearifan batin bersama Kiai Ahmad Basyir. Selasa 18/3/2014, pukul 00:15 dini hari,
malakul maut menuntunnya berpamit dari ribuan umat yang sesungguhnya masih belum siap harus kehilangan sang Mujiz.

Sembilan puluh tahun adalah itu waktu yang lama untuk sebuah perjalanan hidup. Namun, sembilan puluh tahun menjadi begitu singkat. Sejatinya kita butuh waktu lebih lama lagi untuk lebih jauh menyerap ilmunya. Kita boleh kehilangan sosok hadrotus Syaikh Ahmad Basyir secara fisik. Namun inspirasi dan ajarannya masih bertumbuh di bumi Jekulo. [bangkitmedia.com*]

Oleh: Widi Muryono, Santri di Lembaga Pers Santri FIKRO Ponpes Darul Falah Jekulo Kudus

*Artikel ini pernah dimuat majalah Bangkit edisi Mei 2014

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: