Ketika Kiai As'ad Ingin Terkenal

Erhaje88

Tahun 1984, barangkali tak ada satu pun pesantren di Indonesia yang menjadi pusat perhatian melebihi Pondok Pesantren Salafiyyah-Syafi’iyyah, Sukorejo, Asembagus (saat itu Kecamatan Asembagus, kini Kecamatan Banyuputih), Situbondo. Tak hanya menjadi pusat perhatian di Indonesia, bahkan, tapi juga hingga mancanegara.

Soeharto menyalami Gus Dur, disaksikan KH As'ad Syamsul Arifin dan KH Achmad Siddiq (Foto: koleksi Pesantren Salafiyah Syafi'iyah)

Pesantren Sukorejo, demikian pesantren ini masyhur disebut, menjadi pesantren fenomenal dalam perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama. Di pesantren tempat berlangsungnya Muktamar NU ke 27 inilah, dengan jantan NU menyatakan diri sebagai satu-satunya organisasi kemasyarakatan yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal negara, ketika ormas lain membisu atau masih mikir-mikir. Tak sekadar itu, di pesantren asuhan KHR. As’ad Syamsul Arifin dengan ribuan santri ini pula, NU “membaiat” dirinya untuk kembali pada landasan perjuangan 1926: keluar dari medan politik praktis!

Alkisah, beberapa bulan setelah muktamar, bulan Ramadan datang, kemudian Idul Fitri pun tiba. KH. Ahmad Sufyan Miftahul Arifin, pendiri Pondok Pesantren Sumber Bunga, Seletreng, Situbondo, yang secara akar silsilah masih putra dari sepupu Kiai As’ad, Nyai Latifah Jamaluddin, memiliki kebiasaan atellas (bersilaturahim untuk bermaaf-maafan saat lebaran) pada malam takbiran.

Malam takbiran sengaja dipilih Kiai Sufyan agar bisa lebih leluasa bertamu: sowan, matur, tentu saja sambil curhat tentang berbagai persoalan kekinian, baik keagamaan lebih-lebih kebangsaan, sambil lalu dipungkasi dengan meminta doa pada sang paman. Pada hari Idul Fitri, semua itu tak akan bisa dilakukan, atau minimal sulit, karena tamu-tamu akan memenuhi dalem Kiai As’ad. Dari ruang tamu, halaman, hingga surau di depan dalem mediator berdirinya NU itu akan penuh oleh santri, alumni, juga warga NU hingga pejabat pemerintah yang ingin ber-Idul Fitri kepadanya.

Tiga Kiai Kharismatik

Pada malam lebaran itu, ketika kumandang takbir di seluruh penjuru desa Sukorejo mulai sayup terdengar pertanda malam menjelang dinihari, Kiai Sufyan datang ke Sukorejo bersama keponakan sekaligus menantunya, KH. Imam Qusyairi Syam, dengan mengendarai mobil bak terbuka (pick up) miliknya.

Sampai di depan dalem, Kiai Sufyan terkejut. Tak disangka, Kiai As’ad ternyata telah berdiri di depan dalem  sambil memegang lampu senter yang masih menyala. Seakan mempersiapkan diri untuk menyambut tamu yang hendak datang.

Sambil mengarahkan mata senter ke mobil yang baru tiba dan suara mesinnya menguar bagai mesin selip padi itu. Kiai As’ad menyapa,

“Be’n, Cong? Ca’n engko’ e kasangghu degeng sape (Kamu, Nak? Kukira pedagang sapi),” ledek Kiai As’ad pada Kiai Sufyan penuh keakraban, karena Kiai Sufyan membawa mobil pick up, sejenis mobil yang kerap digunakan para pedagang untuk mengangkut sapi di pasar-pasar ternak di kawasan Situbondo.

Tawa pun meledak di antara ketiganya.

Kiai As’ad mempersilakan Kiai Sufyan dan Kiai Qusyai masuk ke dalam rumahnya. Tidak ke ruang tamu, tapi langsung ke kamar pribadi Kiai As’ad.

Kiai As’ad duduk di lincak tempat tidurnya, lalu meminta Kiai Sufyan dan Kiai Qusyai duduk di deretan kursi samping lincak. Sesekali, Kiai Qusyai mengamati ruangan yang sangat sederhana itu: ruangan dengan lincak  bambu beralas tikar, deretan kursi butut, bertembok gedek, dan berlantai tanah.

“Engghi akadhiye ka’dinto manabi ta’ olle sedan deri Moerdani, Man Toan (Beginilah kalau tidak mendapat sedan dari Moerdani, Paman),” Kiai Sufyan memberanikan diri membuka obrolan, meneruskan canda Kiai As’ad di halaman.

Leonardus Benyamin Moerdani, salah satu petinggi TNI yang disegani–juga ditakuti–pada masa Orde Baru, pernah menghadiahi sebuah mobil sedan Toyota kepada Kiai As’ad. Namun, jangankan memakainya, Kiai As’ad bahkan tak pernah memindahkan letak mobil berpelat nomor P 945 NU itu dari halaman sejak ajudan Moerdani mengantarkannya ke Sukorejo. Akibatnya, bila musim panas, mobil mewah itu kepanasan; bila musim hujan, mobil itu pun kehujanan.

Kiai As’ad tertawa. Mengerti kalau keponakan tercintanya, yang di masa remaja sama-sama mengaji kitab kuning kepada Ayahnya, Kiai Syamsul, itu mengimbangi ledekan keakrabannya.

“Enje’, Cong. Teppa’n lem-malem, engko’ ta’ tedung. Mo-temmo bede monye ngaghelubuk e budiyen. Ca’n engko’ mi’ pao, bile etengghu ben bibbi’na beddhiyenna sedan (Enggak, Nak. Suatu malam, aku tak tidur. Tiba-tiba ada bunyi “ghelubhuk” (bunyi sesuatu yang jatuh) di belakang rumah. Kukira mangga jatuh, setelah dilihat oleh bibimu, ternyata sedan).” Tawa meledak lagi. Kiai As’ad tertawa penuh keakraban. Kiai Sufyan tertawa penuh ketakziman.

Kiai Qusyai yang sejak tadi tidak unjuk bicara karena takzim kepada keduanya, mencoba memecah keheningan, setelah dua kiai panutan warga NU itu sama-sama terdiam.

“Abdhina mengnga’ ka Ajunan, Bah. Ajunan ampon kiai nasional, tape re-sa’are odi sabiasa, bahkan mellas, kadhi ka’dinto (Saya kagum kepada panjenengan, Mbah. Panjenengan sudah masuk kategori kiai nasional, tapi memilih hidup dalam kesederhanaan, bahkan memprihatinkan, seperti ini).”

“Nasional-nasional colo’n be’n jeriya, Cong! Arapa be’n ma’ ngoca’ engko’ kiai nasional? (Nasional-nasional mulutmu itu, Nak! Kenapa kau menyebutku sebagai kiai nasional?)”

“Engghi, Ajunan ampon mabede muktamar kalaben sukses, Bah. Ampon erabui Pak Harto jhughan (Ya, karena panjenengan sukses menyelenggarakam muktamar, Mbah. Bahkan, Pak Harto pun datang).”

Kiai As'ad dan Soeharto

Pada masa itu, internet belum masuk ke Indonesia. Media massa daring belum ada. Media massa masih berwujud cetak: koran dan majalah. Ketokohan seseorang, nasional atau lokal, boleh dikata diukur saat ia diliput media massa. Menjelang dan saat Muktamar NU ke 27 berlangsung, Kiai As’ad dan Pesantren Sukorejo menjadi liputan utama di berbagai media massa terbitan Jakarta. Majalah Tempo edisi 15 Desember 1984 (No. 42 Thn. XIV), bahkan, pernah menampilkan lukisan wajah Kiai As’ad sebagai ilustrasi sampulnya, dengan judul: “Rame-Rame ke Situbondo”.

Sampul Majalah Tempo edisi 15 Desember 1984 (No. 42 Thn. XIV): Rame-Rame ke Situbondo

Sambil tersenyum, seraya menatap Kiai Qusyai dengan tatapan yang dalam, Kiai As’ad berkata: “Engko’ ta’ terro terkennala e bhumi, Cong. Engko’ ghun terro terkennala e langngi’! (Aku tak ingin terkenal di bumi, Nak. Aku hanya ingin terkenal di langit!)”

Bumi, simbol bagi kehidupan dunia ini. Sedangkan langit, lambang bagi keabadian di perkampungan akhirat nanti. Begitulah, sebagaimana kiai-kiai NU terdahulu yang lain, cucu Kiai Ruham dari Pondok Pesantren Kembang Kuning, Pamekasan, Madura, ini sangat anti bahkan menolak popularitas.

Entah, bagaimana dengan kiai-kiai atau pengurus NU hari ini? Semoga para kiai dan para pengurus NU saat ini bisa meniru sikap Kiai As'ad yang tidak suka kepopuleran di dunia. Amien...
(alif.id)

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018