Ketika Kesucian Bulan Ramadhan Ternoda

Erhaje88

Menjelang masuknya bulan suci Ramadhan, pada umumnya kita mendapati spanduk dan gambar gambar yang berisi ucapan selamat untuk menunaikan ibadah puasa. Bahkan sosial media seperti Facebook, twitter, instagram penuh dengan ucapan tersebut. Dari ucapan tersebut timbul pertanyaan, kenapa ya Ramadhan disebut sebagai bulan suci? Seakan-akan memang ada harapan besar di bulan yang penuh berkah tersebut. Harapan kedamaian dengan siraman rohani yang menyejukkan, harapan ketenangan karena di mana-mana al - Qur’ an dilantunkan.

(Desain spanduk Ramadhan/likedolan.wordpress.com)

Ketika Ramadan disebut sebagai bulan suci , lalu siapakah yang mensucikan bulan ini? Allah, manusia , hewan, ataukah malaikat? Didalam sebuah hadits Qudsy disabdakan:

ﻛُﻞُّ ﻋَﻤَﻞِ ﺍﺑْﻦِ ﺁﺩَﻡَ ﻟَﻪُ ﺇﻻَّ ﺍﻟﺼَّﻮْﻡَ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻟِﻲ ﻭَﺃَﻧﺎَ ﺃَﺟْﺰِﻱ ﺑِﻪِ

“ Setiap amalan anak Adam itu untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang membalasnya." ( HR. Bukhari)

Dari hadits diatas, setidaknya bisa diketahui, bahwa Allah Swt sendirilah yang mensucikan bulan Ramadhan, karena didalam bulan tersebut terdapat hambanya yang bertaqwa; yakni dengan menjalankan ibadah puasa. ( al -Baqarah 183). Sehingga puasa yang dikerjakannya adalah untuk Allah dan Allah sendiri yang menilainya. Karena bisa saja mengaku di depan banyak orang berkata sedang berpuasa , namun dibelakangnya sedang makan atau minum. Bisa saja seseorang mengaku sedang berpuasa, tetapi tidak mencerminkan orang yang menahan nafsu dan amarah, Allah pula yang tahu. Oleh sebab itu, penjelasan hadis qudsy tersebut begitu terang.

Kembali ke pertanyaan di atas, sesuci apakah bulan Ramadhan? Ada satu hadits yang sudah sangat familiar dan menarik untuk diulas dalam catatan artikel ini, yang kurang lebih artinya: “ Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala , diampunilah dosanya yang terdahulu. ” (HR. Abu Hurairah)

Tentu hadits tersebut dengan tafsiran, bahwa orang tersebut tidak mengulangi perbuatan yang dapat berakibat dosa, sebagaimana yang pernah dikerjakan. Dari dini bisa didapatkan sebuah pemahaman bahwa di bulan Ramadhan Allah Swt saja memberikan maaf dan ampunan kepada siapa saja yang mengharap ampunan serta ridho- Nya . Allah juga berjanji melipatgandakan pahala serta amal ibadah hamba - hambanya yang dikerjakan di bulan Ramadhan. Lalu, mengapa kita sebagai hamba - Nya enggan memberi maaf, enggan berbuat baik, enggan menyampaikan pesan -pesan damai, sementara Allah sendiri melipatkan apa yang dikerjakan seorang hambaNya.

Kesucian Ramadhan tidak akan pernah luntur dengan banyaknya orang yang makan dan buka warung di siang hari, namun kesucian Ramadhan kembali dipertanyakan ketika masih banyak orang yang gemar menebar benci dan caci maki, sementara ia mengaku sebagai orang yang tengah menahan lapar dan dahaga di siang hari. Wallahhu a ’lam.

Disadur dari islami.co

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018