Kerusuhan Agama Bersumber Dari Hate Speech Dan Hoax

Ucapan kebencian atau hate speech menurut wikipedia adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual, kewarganegaraan, agama, dan lain-lain.

Warga membubuhkan cap tangan saat aksi
Jika tak dikontrol, penyebaran hoax bisa melahirkan masyarakat yang abai pada kebenaran berdasarkan fakta, dan pada tingkat paling parah, bisa memicu tragedi. (tirto.id)

Masih dari sumber yang sama bahwa dalam arti hukum, Hate speech/ujaran kebencian adalah perkataan, perilaku, tulisan, ataupun pertunjukan yang dilarang karena dapat memicu terjadinya tindakan kekerasan dan sikap prasangka entah dari pihak pelaku Pernyataan tersebut ataupun korban dari tindakan tersebut. Website yang menggunakan atau menerapkan Hate Speech ini disebut Hate Site.

Sedangkan berita bohong alias hoax merupakan kabar yang berisi informasi palsu dan diciptakan secara sengaja. Pencipta berita bohong sadar benar bahwa substansi isi dari berita kreasinya itu tidaklah benar.

Hoax dan hate speech telah muncul sejak dahulu kala saat nabi Adam mulai diciptakan, jauh sebelum revolusi teknologi digital seperti sekarang ini yang direpresentasikan dengan kehadiran telepon pintar dan maraknya media sosial.

(Belajar Dari Kisah Adam, Hawa Dan Iblis)

Hate speech dan hoax disebarkan oleh individu maupun kelompok dengan niat jahat. Akibatnya malapetaka dapat menimpa seseorang atau sekelompok masyarakat. Hoax dan hate speech bisa memicu perang yang menghancurkan antar seagama, antar beragama bahkan yang paling mengerikan adalah dapat menghancurkan suatu negara. Masih tercatat dalam ingatan kita, invasi Amerika Serikat yang meluluhlantakkan Irak pada 2003 diawali dengan hoax bahwa Saddam Husein memiliki senjata pemusnah massal. Ini dilakukan Amerika Serikat karena rasa kebencian dan persaingan ekonomi dengan Irak.

Hoax dan hate speech di masa lalu cenderung diciptakan penguasa. Namun, dengan berkembangnya teknologi digital, siapa pun bisa memproduksi hoax, melakukan ujaran kebencian hanya berdasar ketidakcocokannya. Produsen hoax dari kelompok yang menyebutnya sebagai Muslim Cyber Army, yang telah ditangkap polisi, misalnya, terdiri atas dosen, pegawai negeri sipil, dan wiraswasta. Sungguh sangat memprihatinkan. Produsen hoax dan hate speech sebagiana besar dilakukan oleh orang orang yang berpendidikan tinggi.

Pertumbuhan hoax dan hate speech kini telah berkembang menjadi epidemi yang melanda dunia. Tanpa mampu dibatasi ruang dan waktu, produksi dan peredarannya dari waktu ke waktu, hari ke hari, dan detik demi detik terus berkembang menghancurkan ikatan-ikatan dan kohesivitas individu serta masyarakat.

Dalam perkembangan terbaru, misalnya, akibat dari hate speech juga hoax telah membuat Kota Kandy, sebuah wilayah yang terletak di Sri Lanka, mengalami ketegangan dan kerusuhan selama berhari-hari. Pemerintah negeri itu, Selasa (6/3), harus memberlakukan jam malam. Dua warga tewas dan sekolah-sekolah di wilayah itu ditutup.

Sumber kerusuhan dilaporkan berasal dari pesan berbau antimuslim yang diedarkan di jejaring sosial. Salah satunya berupa video yang dikirim seorang biksu Buddha garis keras yang menggelorakan aksi kekerasan terhadap umat Islam di negeri itu. Kerusuhan agama pecah di Sri Lanka gara-gara hate speech.

(Rumah warga hancur akibat kerusuhan di Kandy, Sri Lanka (Foto: Indian Express), inews.id)

Indonesia tentu saja tidak terbebas dari hate speech juga hoax. Dua hal ini peredarannya di media sosial tidak kalah masif dengan narkoba membuat ikatan-ikatan sosial kita menjadi kian renggang, bahkan cenderung retak. Akibat masif dan derasnya informasi yang berisi hoax dan hatespeech, kita sulit untuk menepis penilaian betapa bangsa ini telah terbelah dalam dua kelompok besar.

Gejala ini terlihat nyata pasca-Pilpres 2014 dan Pilkada DKI Jakarta 2017. Dua hal yang awalnya dimunculkan oleh Iblis ini memang telah mendorong semangat saling mencaci, memaki, dan membenci menjadi kompleks psikologis yang tidak tersembuhkan. Jika gejala itu dibiarkan, niscaya negeri ini semakin berada dalam bahaya perpecahan dan konflik sosial.

Benarlah peringatan Presiden Jokowi bahwa ujaran kebencian serta berita palsu dapat memicu disintegrasi bangsa. Kita tentu tidak menghendaki peringatan Presiden itu menjadi kenyataan, seperti di Sri Lanka.

Oleh karena itu, pemberantasan kabar bohong dan ujaran kebencian tidak bisa ditawar-tawar lagi. Proses hukum yang tegas dan adil harus diberlakukan kepada siapa pun dan dari kelompok mana pun yang terbukti memproduksi dan mengedarkan hoaks ataupun hate speech.

Tanpa itu, kita hanya tinggal menunggu waktu datangnya konflik sosial dan huru-hara yang menghancurkan bangsa dan negara ini. Jangan sampai itu terjadi. [mediaindonesia.com]

0 Response to "Kerusuhan Agama Bersumber Dari Hate Speech Dan Hoax"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel