Kenapa Harus Berorganisasi?

Erhaje88

Apabila ada yang mengatakan bahwa “mengikuti organisasi tertentu merupakan bukanlah sebuah kewajiban dan yang wajib ialah hanya mengikuti al-Qur’an dan hadis”, maka dapat ditegaskan bahwa statement tersebut tidak dapat dibenarkan. Karena dalam ungkapan yang begitu serampangan tersebut terdapat banyak kejanggalan yang masih perlu diluruskan dan dibenarkan.

Logo Nahdlatul Ulama

Pertama, ketidakjelasan arti “mengikuti al-Qur’an dan hadits”. Apakah yang dimaksud adalah mengambil secara mentah terrhadap tekstual kedua sumber hukum tersebut ataukah melalui jalan para ulama?. Untuk opsi yang pertama merupakan sebuah kemustahilan memandang kredibilitas keilmuan orang zaman sekarang. Maka opsi kedua dengan mengikuti para ulama salafuna as-Shalih menjadi sebuah keniscayaan demi menjaga kemunian ajaran syariat. Bahkan di dalam al-Qur’an dan hadis terdapat pertintah untuk mengikuti para ulama. Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisaa’: 59).

Dalam kitab tafsir at-Thabari  disebutkan bahwa penafsiran kata Ulil Amri dalam ayat tersebut adalah para ulama.[1]

Rasulullah SAW telah bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Aku berwasiat kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepadapenguasa kaum muslimin), walaupun (dia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barang siapa yang hidup setelahku dia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib bagimu untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat, ” (HR. Abu Dawud)

Kedua, yang perlu dipahami ialah memaknai kata organisasi (ijtima’). Tentu saja yang dimaksud bukanlah secara tekstual kata, melainkan dipandang dari sisi misi dan tujuan yang ada di dalamnya. Adapun organisasi Nahdlatu Ulama dibentuk dalam rangka menjadikan wadah perjuangan para ulama dalam mempertahankan serta mendakwahkan paham Ahlussunnah Wal Jamaah. Tentunya, tujuan yang begitu mulia tersebut telah menjadi perintah dalam al-Qur’an. Allah SWT telah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa”. (QS. Al-Maidah; 02)

Dalam ayat tersebut terdapat perintah (‘amr) pada “kebaikan” dan “takwa” yang masih umum, sehingga dalam mewujudkan perintah kebaikan ini dapat dilakukakan dengan segala macam wujud kerjasama dalam hal kebajikan dan ketakwaan. Dalam kitab tafsir al-Maraghi dikatakan:

وَالْأَمْرُ بِالتَّعَاوُنِ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى مِنْ أَرْكَانِ الهِدَايَةِ الْاِجْتِمَاعِيَّةِ فِى الْقُرْآنِ، إِذْ يُوْجَبُ عَلَى النَّاسِ أَنْ يُعَيِّنَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا عَلَى كُلِّ مَا يَنْفَعُ النَّاسَ أَفْرَادًا وَجَمَاعَاتٍ فِى دِيْنِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ وَعَلَى كُلِّ عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ التَّقْوَى الَّتِيْ يَدْفَعُوْنَ بِهَا الْمَفَاسِدَ وَالْمُضَارَّ عَنْ أَنْفُسِهِمْ

Perintah untuk saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan merupaka bagian dari petunjuk untuk berorganisasi yang telah ada dalam al-Qur’an. Karena bagi setiap manusia memiliki kewajiban untuk membantu antara satu dengan yang lain atas segala hal yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, baik secara individual maupun kelompok, baik urusan dunia ataupun urusan akhirat. Begitu juga setiap perilaku ketakwaan yang dapat menjauhkan mereka dari segala macam bahaya yang akan menimpanya.”[2]

Dalam merongrong ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah, berbagai kelompok telah mengerahkan kekuatan penuh. Sejak dulu hingga sekarang berbagai hujatan, ujaran kebencian, serta fitnah terus digencarkan secara masif dan terorganisir. Maka dari itu, persatuan ulama Ahlussunnah Wal Jamaah menjadi suatu keniscayaan untuk berafiliasi dalam jamiyyah Nahdlatul Ulama. Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu upaya dalam melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah Wal Jamaah.[3] Sahabat Ali karramallahu wajhahu pernah mengatakan:

أَنَّ الْحَقَّ يَضْعُفُ بِالْإِخْتِلَافِ وَالْإِفْتِرَاقِ وَأَنَّ الْبَاطِلَ قَدْ يَقْوِيْ بِالْإِتِّحَادِ وَالْاِتِّفَاقِ
Kebenaran dapat menjadi lemah karena perselisihan dan perpecahan, dan kebatilan sebaliknya dapat menjadi kuat dengan persatuan dan kekompakan”.[4] []waAllahu a’lam



______________________

[1] Tafsir at-Thabari, VIII/501, Maktabah Syamilah

[2] Tafsir al-Maraghi, VI/46

[3] Khittah Nahdliyyah, (Surabaya: Balai Pustaka, 1980), hal. 11

[4] Muqaddimah Qanun Asasi Jamiyyah Nahdlatul Ulama
[lirboyo.net]

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com: