Demi NU, Kiai Mas Alwi Rela Jual Gerobak Dagangannya

Erhaje88

KH Mas Alwi Abdul Aziz, Surabaya. Nama ini tidak semasyhur Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Chasbullah. Kiai Mas Alwi sosok yang sunyi, tetapi beliau orang penting dalam jejak lahirnya NU. Ayahnya, Kiai Abdul Aziz al-Zamadghon, seorang ulama besar pada jamannya, termasuk keluarga besar Sunan Ampel. Kiai Mas Alwi punya saudara sepupu yang juga masyhur, yakni KH Mas Mansur Abdul Aziz, awalnya bersama Kiai Wahab dalam mendirikan tashwirul afkar, tapi kemudian pindah ke Muhammadiyah.

(Mas Alwi, Salah satu Muassis Nahdlatul Ulama)

Kiai Mas Alwi adalah kiai yang mengusulkan nama “Nahdlatul Ulama”. Kiai Hasyim Asy’ari belum menemukan nama organisasi yang cocok untuk organisasi yang akan didirikan. Kiai Hasyim berencana menamakan Jam’iyah Ulama (Perkumpulan Ulama’). Tetapi bagi Kiai Mas Alwi, yang cocok namanya adalah Nahdlatul Ulama.

“Karena tidak semua kiai memiliki jiwa nahdlah (bangkit). Ada kiai yang sekadar mengurusi pondoknya saja, tidak mau peduli terhadap jam’iyah,” jawab Kiai Mas Alwi kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Para kiai akhirnya sepakat dengan alasan tersebut.

[ Kiai Mas Alwi, Tokoh Pencetus Nama 'Nahdlatul Ulama' Yang Nyaris Dilupakan]

Jual Gerobak Warungnya

Terkait perjuangan Kiai Mas Alwi untuk NU, tak bisa lepas dari kisahnya dengan KH Ridwan Abdullah, pencipta lambang NU. Selepas ditinggalkan KH Mas Mansur ke Muhammadiyah, Kiai Ridwan mencari teman perjuangan untuk mengabdi di nahdlatul wathon, salah satu embrio berdirinya NU. Kiai Ridwan dan KH Wahab terus bergerak mencari ulama yang mau berjuang tulus dan penuh pengorbanan.

Akhirnya, Kiai Ridwan mendatangi Kiai Mas Alwi  di warungnya, Jalan Sasak Ampel Surabaya. Di warung inilah, menurut KH Ma’ruf Khozin (2017), Kiai Ridwan berdiskusi panjang dengan Kiai Mas Alwi. Diskusi ini terkait renaissance Barat yang kemudian dihembuskan di dunia Islam merupakan upaya untuk memecah belah umat Islam, khususnya dilakukan Belanda dan Perancis. Kiai Mas Alwi tahu itu semua setelah ia keliling ke berbagai negara Eropa, dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain.

Setelah mendengarkan penjelasan tersebut, Kiai Ridwan berkata: “Begini, Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini.”

“Ya jelas terakhir, Kang Ridlwan, karena ini sudah malam,”
jawab Kiai Mas Alwi yang juga keturunan Sayid dari Hadromaut Yaman.

“Bukan begitu. Sampean harus kembali lagi ke Nahdlatul Wathon. Sebab sudah tidak ada yang membantu saya sekarang. Kiai Wahab lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampean harus membantu saya.”
Keesokan pagi, sebelum Kiai Ridlwan sampai di Nahdlatul Wathon, ternyata Kiai Mas Alwi sudah tiba lebih dulu. Kiai Ridlwan yang masih kaget pun berkata:  “Kok sudah ada di sini?”

“Ya, Kang Ridlwan, tadi malam ternyata warung saya laku dibeli orang. Uangnya bisa kita gunakan untuk sekolah ini.”


Itulah Kiai Mas Alwi. Beliau sosok penting dalam menggerakkan para kiai sebelum NU berdiri dan setelah berdirinya NU. Gerobak dijualnya untuk perjuangan NU. Ia sangat teguh menjaga ajaran aswaja, ia seorang kiai yang sudah keliling Eropa pada saat itu, dan sadar betul dengan politik penjajahan yang dilakukan Belanda.
[bangkitmedia.com]

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018