Belajar Dari Cerita Adam, Hawa Dan Iblis (Tips Menangkal Hoax)

Erhaje88

Menjamurnya konten dan berita Hoax (Berita Bohong) di sejumlah media online dan media sosial bukan tanpa sebab dan bukan tanpa alasan. Juga bukan mengalir begitu saja, melainkan ada orang besar yang berkepentingan yang sedang memainkannya dengan tujuan agar kita tersesat dari fakta yang ada dan berhasil digiring sesuai kemauan mereka.

(Hoax awalnya dari Iblis)


Lalu siapa yang pertama kali menyebarkan kabar hoax?
Hoax, pertama kali dilakukan oleh Iblis. Dengan segala cara dan tipudayanya, Iblis berhasil menghasud Adam dan Hawa dengan buah Khuldi. Kenapa berhasil? Karena secara default, keinginan memenuhi rasa penasaran manusia lebih tinggi daripada keinginan menggapai bahagia.

Adam dan Hawa adalah sejarah pembelajaran hal itu. Sudah jelas-jelas di Surga yang penuh kebahagiaan, tapi karena ingin memenuhi rasa penasaran, akhirnya jeblok.

Adam dan Hawa pun didera rasa penasaran yang mengakibatkan penderitaan dengan terpisahnya mereka selama ratusan tahun. Diakhiri dengan pertemuan kembali di Jabal Rahmah, puncak kasih sayang.

Makna keseluruhan bahwa sebuah rasa penasaran, keinginan-keinginan keterpukauan hanya bisa ditundukkan dengan Cahaya Rahmat, wilayah kasih sayang, keteduhan dan kenyamanan. Sehingga seseorang tak lagi sibuk dengan pencarian-pencarian akan keheranan- keheranan peradaban.

Jadi, jika kita pingin hoax tidak viral secara masif, tebarkan kasih sayang dan hablumminannas yang nyaman. Sebab, penebar hoax hanyalah manusia-manusia yang kurang perhatian dan kasih sayang saja, tak peduli status sosialnya sendakik apa.

Faktanya, semakin kurang perhatian dan kasih sayang manusia, seseorang cenderung ingin memunculkan diri untuk diperhatikan dengan muatan yang berlebihan, tidak bisa woles. Dan hal paling mudah dilakukan adalah dengan menebar berita palsu atau hoax yang terlihat bau-bau super intelek atau heroisme.

Ujung-ujungnya, karena merasa superior dengan menebar hoax, ya balik lagi keluar sifat Iblis yang paling dominan, انا خير منه  (Aku lebih baik dari kamu), dengan turunan kalimatnya; aku lebih intelek dari kamu, aku lebih peduli dari kamu, aku lebih sangar dari kamu, aku lebih idealis dari kamu, aku lebih bhinneka dari kamu, aku lebih syar'i dari kamu, aku lebih moderat dari kamu dan seterusnya yang intinya kita telah merebut selendang sifat kemuliaan Allah dengan merasa lebih mulia dari makhluk lain. Padahal sifat itu satu-satunya yang tidak boleh dipakai manusia dan para makhluk selainnya.

Lha namanya yang direbut itu Gusti Alloh, pasti mangkelnya gak ketulungan. Maka diontang-anting, dimobat-mabitkanlah hati dan pikiran kita menjadi stress dalam kemuliaan artifisial ini.

Tapi balik lagi, tenang saja, wallahu ghofururrohim. Gusti Alloh suka ngampuni, asal kita mau saling berkasih sayang dengan sesama.

Balik awal, setiap kita ingin menulis atau menebar suatu berita, di dalam dada kita pasti ada dua yang muncul. Nuur dan Naar, (نور و نار). Itulah yang nantinya menjadi semakin membesar di dalam dada. Nuur dan Naar sama-sama bercahaya tapi banyak yang tertipu dan tidak bisa membedakan. Bila Nur, maka dada kita menjadi terang, tenang dan lapang setelah menulis dan menebar berita. Bila Naar, dada kita semakin mudah emosi, reaktif, agressif dan sumpek.

Dari sini kita akan dikembalikan pada hakekat ilmu adalah cahaya, Nurullah. Artinya, bila sesuatu kita anggap ilmu, tapi nyatanya bikin Naar dalam dada, ia bukanlah ilmu. Walau terlihat logis, modern, intelek, ajaran tertinggi dan sebagainya. [islampers.com]

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018