Wajah Muram Politik Kita, Siap Menang Tak Siap Kalah

Oleh: Kiai Ahmad Ishomuddin*


Mungkin pengamatan saya ini tidak begitu keliru, bahwa dunia politik kita dapat dikatakan masih carut marut, mirip dengan carut marutnya sikap keberagamaan kita terhadap eksistensi keragaman atau sikap kaum beragama sebagai warga negara terhadap konsitusi. Semua carut marut tersebut terjadi selain karena ketidaktaatan para pelakunya pada aturan main yang disepakati dan juga karena mengabaikan etika atau akhlak mulia.

Animasi: theuglytruth/wordpress.com


Slogan politik yang sudah akrab di telinga kita "siap kalah-siap menang" dalam dunia nyata yang berlaku hanyalah "siap menang" saja, tetapi benar-benar "tidak siap kalah". Inilah yang seringkali berpotensi menimbulkan kegaduhan sosial yang tentu tidak indah dipandang dan tidak enak dinikmati karena unsur seni, etika dan estetikanya diabaikan. Seperti sepak bola dengan para pemain culas yang keras dan hanya memikirkan kemenangan: bahwa yang penting ada gol sebanyak-banyaknya. Atau seperti dua petinju yang saling bernafsu dengan keras ingin secepat-cepatnya meng-KO lawan mainnya. Sungguh permainan politik yang kotor, menjengkelkan yang bukan saja meruwetkan pikiran para penontonnya tetapi juga para pelakunya.

Disetiap pentas politik pemilihan kepala daerah hingga pemilihan presiden sekalipun, lawan politik yang dianggap kuat selalu dianggap musuh, bukan teman akrab yang sedang bermain catur, yang sedang dengan taktik kesatria dan langkah-langkah sportif sedang sama-sama berjuang untuk saling mengalahkan tanpa rasa saling permusuhan. Yang saya sebut terakhir ini jarang terjadi, sedang yang sering kita lihat adalah jika lawan (musuh) politiknya kuat maka rasa kuatir kalah yang berlebihan akan menghinggapinya, sehingga ia kalap "mengamuk" dan menghalalkan segala cara untuk menghancurkan citra positif "musuh" sehancur-hancurnya. Barangkali itu semua dilakukan secara sadar karena yakin bahwa lawan atau musuh politiknya itu kuat dan tak terkalahkan meskipun sudah diserang bertubi-tubi dari berbagai sisi.

Cara-cara culas, fitnah, money politic, intimidasi dan tipu muslihat itu biasanya dilakukan oleh politisi yang tidak berkualitas baik. Fitnah yang ia lontarkan sebenarnya mungkin tidak efektif dipercaya oleh semua orang atau mayoritas pemilih, terutama mereka yang berpikir jernih, obyektif, adil dan pandai menyaring berita (tabayyun/klarifikasi). Sehingga, pada ujungnya yang kuat dan berkualitas baiklah yang akan menang. Pada akhirnya masyarakat yang cerdas akan tahu siapa sesungguhnya yang lemah atau pura-pura kuat, bahkan tahu siapa yang jahat dalam berpolitik dan siapa yang jujur dan sportif.

Saya berharap semoga para pemilih berpikir jernih dan obyektif dalam memilih, sehingga terpilih orang dengan kualitas terbaik, yakni orang adil, jujur, bersih, tegas, mampu dan pro pada kemaslahatan rakyat. Siapa pemimpinnya itulah cermin siapa para pemilihnya. Jadilah pemilih yang cerdas!

*Rais Syuriyah PBNU (2015-2020)

0 Response to "Wajah Muram Politik Kita, Siap Menang Tak Siap Kalah"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel