Saat Mantan Ketua BEM FIB UI, Fuat, Cerita Soal Asmat

Erhaje88

Ketika media sosial masih ramai membicarakan aksi kartu kuning Jokowi oleh Ketua BEM UI, Zaadit Taqwa, tak banyak yang tahu bila sosok bernama Mohammad Agus Fuat telah lebih dulu menjangkau Asmat.
Sama seperti Zaadit, Fuat adalah aktivis mahasiswa di Universitas Indonesia. Tahun 2016, mahasiswa Sastra Jawa itu menjabat sebagai Ketua BEM Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI (BEM FIB UI).

Fuat dan anak di Asmat (Foto:Mohammad Agus Fuat/kumparan.com)


Kepada kumparan (kumparan.com), laki-laki asal Jombang itu mengatakan baru saja kembali dari Asmat. Fuat tergabung dalam tim Nahdlatul Ulama (NU) Peduli Kemanusiaan untuk Asmat.

"Di sana (Asmat) 10 hari. Dari tanggal 25 Januari-1 Februari," sebut Fuat kepada kumparan, Selasa (6/2).
Fuat sebelumnya tidak pernah membayangkan jika dia akan diamanahi tugas untuk pergi ke Asmat. Namun, tekad Fuat kemudian semakin kuat untuk ke pergi Asmat.

"Dalam benakku sudah tergambar bagaimana susahnya menuju Asmat, apalagi ancaman penyakit malaria maupun campak membuat bulu kuduku berdesir bila membayangkannya. Bermodal nekat dan tawakal, apalagi ini tugas mulia dari NU kusiapkanlah mental dan segala keperluan," ungkap Fuat.


Seminggu sebelum keberangkatan, Fuat dan dua orang rekan timnya harus menjalani vaksin campak dan minum obat antimalaria. Fuat menyebut obat tersebut masih harus diminum sampai seminggu setelah kepulangan supaya tubuhnya kebal dari penyakit.

Fuat berangkat menuju Asmat dengan naik pesawat rute Jakarta-Surabaya-Makasar-Timika. Dari Timika menuju Asmat, Fuat dan tim, Wahib dan dokter Makky, harus menaiki sebuah pesawat kecil seperti capung. Pesawat itu memiliki jadwal yang tak menentu. Untungnya, tim NU lokal Timika berhasil membantu Fuat untuk mendapatkan tiket menuju Asmat.

"Di jadwal awal kita berangkat jam 05.00. Walhasil ketika kita berangkat Subuh di bandara belum ada tanda-tanda kehidupan. Hujan deras menemani waktu fajar kami hingga sang petugas bandara menyampaikan kalau keberangkatan pesawat diundur menjadi jam 10.00," terang Fuat.

Perjalanan Timika menuju Asmat ditempuh kurang lebih selama 45 menit. Setiba di Bandara Ewer, Kabupaten Asmat, Fuat disambut oleh PCNU Kabupaten Asmat dan beberapa tokoh masyarakat. Untuk menuju lokasi Kejadian Luar Biasa (KLB), Fuat menaiki speedboat. Itupun tanpa disediakan pelampung.

"Ketika ombak datang menghantam kapal, seketika itu pula jantungku berdentum," kata Fuat.

Sepenggal cerita dari Asmat

Perasaan Fuat sedikit lega ketika speedboat sudah menyentuh Distrik Agast. Di sana, ia mengaku cukup beruntung karena salah satu pengurus NU setempat juga merupakan salah satu tetua adat di kampungnya, yaitu ketua Badan Musyawarah Kampung (BAMUSKAM). Nama pengurus itu ialah Leo Rahamtulloh Piripas.

Berkat campur tangan Leo, Fuat dan tim disambut hangat oleh masyarakat Asmat. Hambatan komunikasi dan memahami kultur warga setempat yang dialami oleh beberapa NGO lain setidaknya tidak terlalu menjadi masalah bagi Fuat.

Anak di Asmat diperiksa kesehatannya (Foto:Mohammad Agus Fuat/kumparan.com)


Untuk meninjau bagaimana kondisi anak-anak Asmat, Leo mengajak Fuat untuk bersilaturahmi terlebih dahulu dengan tetua adat di Kampung Syuru. Mereka diterima oleh para tetua di rumah adat, yang disebut JEW.

"Di tempat inilah kami mengutarakan kedatangan kami. Pak Leo menjadi menjadi penyambung lidah di antara kami. Ditemani kopi dan rokok perbincangan menjadi semakin gayeng dan akhirnya forum tetua adat mempersilakan kami untuk menjalankan program di Kampung Syuru," jelas Fuat.

Lanjut ceritanya di:
kumpaan.com

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018