Revolusi Digital Ala NU

Erhaje88

Seiring pesatnya trend digitalisasi, organisasi massa terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) pun tak mau ketinggalan. Organisasi ini meluncurkan aplikasi sebagai bukti revolusi digital.

Diambil dari laman NU Online, Aplikasi yang dimaksud dinamai NU Mobile, yang didedikasikan sebagai solusi dan pelayanan bagi warga NU. Aplikasi ini juga diharapkan bisa memberi solusi bagi masyarakat melalui satu solusi.

Aplikasi NU mobile di Android

Bahkan NU Mobile telah menggandeng sejumlah mitra yang siap memperkuat layanannya, seperti KSP, Kementerian Kominfo, XOX Media Berhad, XL Axiata, Artha Graha Group, BRI, BTPN, NIN Media, Adira Syariah, Telkom Tmoney, Mercato, Duit Hape, WIR Wahyoo, Seroyamart, GAPMII.

Proliferasi platform digital dan kecanggihan teknologi semakin membuat masyarakat semakin banyak merasakan manfaatnya, dimudahkan, dan serba cepat hingga mau menghabiskan waktu untuk berinteraksi dan bertransaksi secara online. Tidak mustahil jika dunia konvensional lama-lama akan ditinggalkan karena saat ini memang sedang terjadi pergeseran pola pikir (mindset) di masyarakat, saat mereka mulai berpaling ke digital baik di kehidupan sehari-hari.

Revolusi digital merupakan teknologi baru yang terus berkembang dan semua potensi yang diberikan, bukan tidak mungkin kita mampu memprediksi bagaimana masa depan bangsa di tahun-tahun mendatang. Teknologi digital jelas akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi sebuah negara karena kecepatannya merambah hampir di semua sektor. Teknologi digital siap mengubah masa depan kita semua, kehidupan kita. Otomasi, Big Data, IoT (Internet of Thing), dan kecerdasan buatan (AI).

Dari sisi pengembangan SDM, ormas keagamaan, pendidikan tinggi hingga pesantren memegang peranan penting dalam mendorong pertumbuhan dan inovasi revolusi digital. Namun, ormas keagamaan, pendidikan tinggi, dan pesantren saat ini juga menghadapi tantangan yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Untuk itu, terkhusus pendidikan tinggi dan pesantren yang penting dilakukan adalah memperbaiki kurikulum dengan lebih mendekatkan diri pada muatan teknologi informasi dan inovasi. Implikasinya, mahasiswa hingga santri perlu diajarkan cara kerja teknologi digital dan masalah yang mampu ditangani.

Hanya mengajari mahasiswa dan santri pemprograman (coding) akan membuat perguruan tinggi ataupun pesantren tak beda dengan lembaga kursus keterampilan. Namun, lebih dari itu, mahasiswa ataupun santri perlu diajarkan logika berpikir (computational thinking) yang komprehensif, termasuk cara melakukan pemodelan, menganalisis data, dan mengekstrak informasi.
Selengkapnya...

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018