Polisi Menggugat Dan 'Menggugat' Polri

Oleh: Alfi Rahmadi


“Jika semua orang berlagak sebagai polisi, maka tidak ada lagi polisi”. Kutipan ini meluncur dari Karl Marx yang disitir Jenderal Polisi Budi Gunawan (BG) dalam analisisnya bertajuk “Polisi Menggungat”. Analisis ini ia rangkum dalam karya buku “Koloni Keadilan: Kumpulan Analisis di Majalah FORUM”. Buku ini cetakan I 2006, terbitan PT. Forum Media Utama.

Sindiran Karl Marx di atas muncul di tengah situasi semua orang seolah berbuat semaunya dan menurut batasan sekehendak hati. Marx menyadari betul betapa bahaya situasi pekat demikian. Anarkisme di tengah masyarakat tak terelakan, tak peduli proses kasus hukum tengah berjalan.

Sinisme Marx kini persis ditemukan dalam situasi mutakhir Indonesia di tengah keterpecahan politik identitas keagamaan dan golongan secara tajam. Wa bil khusus sepanjang Februari 2018 ketika meletus fenemona penganiayaan orang gila terhadap ulama.

IMG-8491
Pengasuh Ponpes Al Hidayah, Cicalengka, Kiai Umar Basri di ruang perawatan RS Al Islam, Bandung, Sabtu (27/1). FOTO: Istimewa
Di tengah panasnya eskalasi Pilkada serentak 2018 dalam balutan sentimen politik identitas, anarkisme opini publik menyorot kasus tersebut bermutasi menjadi propaganda. Sangat massif tersiar di social platform.

Propaganda semakin menjalar liar mana kala muncul konten berantai di berbagai grup WhatsApp tentang orang mencurigakan di Jawa Barat. Mereka dicurigai karena mondar-mandir menanyakan nama pesantren dan masjid serta nama tokoh agama setempat.

Kejadiannya pun beruntutan tiap hari pasca peristiwa naas kematian Ustaz HR. Prawoto di Kota Bandung, 1 Februari 2018. Antara lain terjadi di Cileunyi-Bandung (2 Februari); Astana Anyar- Bandung (4 Februari); Panyawungan Cileunyi-Bandung (5 Februari); di Sentul City-Bogor dan Cibereum-Tasikmalaya, 6 Februari.

Para pelakunya juga berlagak bak orang gila. Mereka diamankan warga setempat. Di Garut, 3 Februari, sempat viral kabar seorang santri dari Pondok Pesantren Al-Futuhat dianiaya oleh sejumlah pemuda. Di Bogor, sejak 10 Februari muncul video seorang tunawisma dianaiya oknum warga karena dianggap simpatisan PKI.

Propaganda yang berkembang seperti memutar ingatan pada fenomena pembunuhan ulama di Bayuwangi sepanjang 1998, dilakukan Ninja terlatih, dalam situasi menyebarnya sejumlah orang gila di berbagai kecamatan di Bayuwangi.

Ketersebaran orang gila menjadi alibi ketika sekelompok warga berhasil menangkap pembunuhnya yang berlagak pilon seperti orang gila. Peristiwa ini terjadi di tengah suhu panas reformasi 1998. Tragedi berdarah itu seakan menjadi daya ledak konflik komunal agama dan etnik di tahun berikutnya sebagaimana tragedi Ambon-Maluku dan Sambas 1999.

Dua tragedi berdarah itu juga meletus di tengah suhu panas Pemilu 1999. Isu konflik di tubuh militer dan kembalinya ABRI ke panggung politik membahana sampai ke luar negeri bersejajar dengan isu pelanggaran HAM.

Pasca peristiwa penganiayaan KH. Umar Basri pada 29 Januari 2018 di Kab Bandung, disusul penganiyaan dialami alm Ustaz HR. Prawoto pada 1 Februari 2018 di Kota Bandung—saya lebih menitik tekan pentingnya pembuktian forensik berlapis-lapis Polri dibanding menanggapi konten liar yang menyebar bernada provokasi.

Pentingnya pembuktian itu justru untuk menekan propaganda pecahnya konflik komunal. Rupanya, aromanya makin tercium saat kasus penyerangan di Gereja St Lidwina di Bedog, Sleman, Yogyakarta meletus pada Minggu pagi, 11 Februari 2018. Kali ini pelakunya diduga teroris.

Diktum peradilan jalanan berupa liarnya opini publik semakin mendekatkan tombol konflik komunal dalam kasus intra-agama. Belum genap sehari usai tragedi gereja di Jawa Tengah, fenomena orang gila di Jawa Barat menular di Jawa Timur. Selasa dini hari, 12 Februari, kaca-kaca Masjid Baiturrahim di Tuban dirusak oleh orang yang juga diduga gila.

Lengkap sudah. Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur—tiga provinsi lumbung suara Pilpres 2019—seakan sudah diobok dalam membangkit konflik komunal dari tidurnya yang panjang.

Seperti tak ingin berkembang lebih liar, maka pasca kasus perusakan masjid di Tuban-Jawa Timur itulah Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian angkat suara bersikap lebih tegas.

Polri, kata Tito, sedang mengungkap sederet kasus tersebut, sudah masuk ke tahap penyidikan. Baik kasus di Jawa Barat maupun di Sleman-Yogyakarya. Polri juga telah menindak para pelakunya. Sejauh inipun, lanjut Tito, Polri tidak melihat adanya kaitan antar kasus per kasus itu, dilansir dari Viva.co.id (12/02/2018).

Keterangan Tito tidak adanya kaitan kasus per kasus penting dicatat tebal. Sama artinya dengan mementahkan dugaan adanya operasi intelijen liar yang merawat dan meningkatkan eskalasi konflik komunal. Tapi tetap saja propaganda hitam menjalar. Mengapa?

Direktorat Cyber Crime Polri dan pemerintah gagal mengendalikan massifnya opini liar berupa konten politisasi sejumlah kasus tersebut. Maraknya konten pengantar tanpa identitas pembuatnya yang distel sesuai arah kepentingan politik golongan dan dimodif dari pemberitaan rentetan kasus sensitif itu, gagal direspon secara hukum.

Sensivitas Polri selaku aparat penjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) beserta ketanggapan aparat intelijennya juga belum muncul dalam menyikapi fenomena orang gila yang meresahkan itu beserta segala kasus hukum varian konflik politik identitas SARA.

Kesan tersebut menguat manakala Polri nampak menanggapnya sebagai peristiwa biasa. Bila terjadi tindak pidana varian konflik politik identitas SARA, Polri menanggapinya seolah peristiwa numpang lewat dan kasuistik. Padahal irama (tune) varian konflik tersebut konstans terawat sejak Pilpres 2014 dan eskalasinya meningkat di tengah Pilkada serentak 2018.

Peristiwa antar kasus dengan kesamaan pola dan tipe pelaku sekalipun dipatahkan melalui bukti materill untuk menunjukan tidak adanya rekayasa intelijen dalamnya, realitas yang dipahami masyarakat tetap yang nampak di permukaan.
Permukaan paling nampak adalah narasi ‘hantu belau’ (karena tanpa identitas pengirim) nada provokasi yang marak tersebar di sosial platform. Terlebih lagi beredar himbauan dari individu para tokoh ormas, politisi dan Jenderal purnawiran Polri agar setiap lingkungan mewaspadai gerak gerik orang mencurigakan.

Himbauan itu mereka sikapi dengan meningkatkan keamanan swadaya RT dan RW. Mereka itu para opinon leader, yang mempengaruhi cara pandang, cara pikir dan sikap kelompoknya.
Itulah kenapa Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Polri beserta unsur intelijen tertuntut bekerja lebih ekstra dan arif menyikapinya.

Toh, lemahnya intelijen beserta link and match pranata sosial di tiap RT/RW selalu menjadi lonceng penabuh kegagalan aparat mengantisipasi aksi terorisme sebagaimana diduga pada tragedi gereja di Sleman.

Di tengah situasi kusut komunal seperti sekarang, Jenderal Polisi Budi Gunawan yang kini telah menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) tertuntut lebih keras bersikap negarawan. Memaksimalkan sumber daya intelijen untuk kepentingan stabilitas nasional menjadi konsesus yang menyingkir kepentingan sempit golongan apapun.

Bila sikap kenegarawan ini terpecah, sinisme Karl Marx yang ia sitir sebagaimana di atas pasti selalu ‘menampar’ wajah Polri terus. Tugas Polri memang berat sejalan dengan kewenangannya yang luas.

Jangankan ditemukan kesalahan, sekelas kelalaian saja sudah menjadi pembenaran masyarakat dimana polisi digugat dengan beragam bentuk, dijadikan pesakitan, bahan ejekan.

Publik kini seperti tak peduli lagi minimnya anggaran Polri. Psiko-sosial ketidakpedulian itu terekam lantaran publik terbius dengan suksesnya pencitraan TNI bekerja dengan etos di tengah anggaran yang keropos. (Sumber)

0 Response to "Polisi Menggugat Dan 'Menggugat' Polri"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel