Percepatan Infrastruktur Tidak Diimbangi Ketepatan Konstruksi, Keselamaan Pekerja Terabaikan

Erhaje88

Pembangunan infrastruktur yang merupakan salah satu program utama kabinet kerja dibawah pimpinan Presiden Jokowi terus digenjot. Artinya pembangunan bendungan, bandara, pelabuhan laut, jalan tol, rel kereta api, MRT, LRT, kereta bandara dll terus berjalan dan berpacu dengan waktu sampai 2019.

Percepatan pembangunan infrastruktur membuat pertumbuhan ekonomi daerah sekitar proyek meningkat karena tercipta lapangan pekerjaan baru, formal dan informal. Hampir semua proyek infrastruktur dikerjakan oleh BUMN Karya sebagai kontraktor utama dan semua dikerjakan dengan cepat.

(Longsor di underpass bawah rel kereta Soetta (Foto:Instagram @polisi_bandara_soekarnohatta/kumparan.com)

Wujud konstruksi proyeknya tampak, namun apa benar proyek tersebut sudah memenuhi kaidah-kaidah keselamatan dan kepatutan sesuai dengan standar yang berlaku? Artinya apakah semua proyek dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan baik kualitasnya? Ini sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab oleh Pemerintah mengingat proses pembangunan infrastruktur membuat banyak masyarakat harus tercerabut dari daerah aslinya.

Komitmen Presiden untuk terus mempercepat pembangunan infrastruktur tampaknya tidak disertai dengan langkah kehati-hatian yang tinggi dari para pembantunya dalam melaksanakan pembangunan infrastruktur, terutama dari sisi konstruksi. Akibatnya kecelakaan kerja di sektor konstruksi terus terjadi. Hingga saat ini sudah sekitar 10 proyek infrastruktur yang terekspos di publik bermasalah dan merengut korban jiwa dan korban luka permanen karena diabaikannya  faktor keselamatan kerja.

Lalu, ke mana konsultan pengawas konstruksi yang dibayar mahal oleh negara? Atau apakah ada kesalahan sistem pengajaran di Perguruan Tinggi, sehingga para lulusannya mengabaikan keselamatan dalam bekerja?

Maaf, ini bukan sarkasme tetapi sebagai pekerja di sektor kebijakan publik yang tidak paham teknik konstruksi, saya hanya sekedar bertanya karena kejadian kecelakaan konstruksi sudah berulang  tetapi belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang tentang penyebab  kecelakaan tersebut dan sanksi tegas yang diterapkan ke penanggungjawab proyek supaya kecelakaan konstruksi tidak berulang.

Gagal Konstruksi atau Gangguan Alam?

Kejadian terakhir runtuhnya tembok underpass di perlintasan kereta api bandara hari Senin sore lalu yang sempat menimbun 1 kendaraan dengan dua anak muda terkubur di dalamnya. Sayang karena lambatnya pertolongan satu korban akhirnya meninggal di Rumah Sakit.

Pertanyaannya, apakah kita masih perlu membangun infrastruktur dengan cepat namun mengabaikan keselamatan kerja? Jangan sampai slogan "kerja cepat, tetapi cepat ambruk" menjadi sebuah standar pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Bangsa ini memang bangsa yang sering abai terhadap keselamatan, yang terpenting dalam mengerjakan proyek adalah murah dan cepat selesai, tidak peduli proyek tersebut memakan korban atau tidak. Dalam kasus rubuh/patahnya beberapa box gilder dan kasus longsornya tanah yang merusak konstruksi underpass di Bandara Soeta, publik sampai hari ini belum mengetahui apa tindak lanjut dari pihak Kepolisian dan Kementerian/Lembaga terkait.

Langkah Yang Harus Dilakukan Pemerintah
Selengkapnya...

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: