Ini Bukti Umar bin Khattab Seorang Toleran

Erhaje88

Umar adalah sosok besar yang menatah sejarah besar. Di tangan seorang khalifah Umar, Islam telah menjelma ‘imperium’ adiluhung dalam tempo waktu yang tak lebih dari sepuluh tahun, yang mampu menaklukkan negeri-negeri legendaris, meruntuhkan imperium agung Persia, juga mengguncang keberadaan imperium adiluhung Byzantium.

Islam pun pada akhirnya memiliki wilayah kekuasaan yang membentang luas mulai dari Cerynecia (Tripoliana), Mesir, Nubia, Levantina atau Mediterania Timur (Syam; sekarang wilayahnya meliputi Syria, Lebanon, Jordania, dan Palestina), Anatolia, hingga Persia.



Sebab itulah, sosok Umar kerap disebut sebagai seorang ‘Kaisar’ yang setara dengan Alexander Agung—Kaisar Macedonia, dan Cyrus the Great—Kisra Persia, dua emperor besar dunia pada zamannya, yang kebesaran serta kekuasaannya malang melintang di seantero jagat.

Sejarawan Muslim terkemuka Muhammad Husain Haekal memberikan kesaksian tentang sosok sahabat Umar. Ia berkata, “Dialah Umar ibn al-Khaththâb, lelaki agung yang namanya semerbak harum dalam sejarah besar umat Nabi Muhammad. Umar adalah sahabat Rasulullah yang paling cemerlang, sang inspirator umat Islam, hamba yang takwa kepada Rabb-nya.” (Muhammad Husain Haekal, Umar bin Khattab, 2016)

Takwa sumber toleransi

Namun demikian, jangan pernah membayangkan jika kehidupan Umar layaknya para Kaisar pada umumnya—sebuah potret kehidupan yang bergelimang duniawi sebagaimana yang diceritakan oleh epik-epik sejarah.

Umar tetap hidup sederhana dan bersahaja, ketika takwa adalah cita-cita utamanya, ketika Allah jauh lebih ia cintai dari segala isi dunia, ketika Rasulullah adalah teladan abadinya, dan ketika kebahagiaan, dan kesejahteraan rakyat banyak adalah impiannya.

Hati dan akhlak Umar jauh lebih besar dari nama besarnya, jauh lebih luas dari wilayah kekuasaan dan taklukan-taklukannya, jauh lebih mulia dari kemuliaan yang diberikan orang-orang kepadanya. Hal ini bukan karena apa-apa, tetapi karena Umar lebih mengedepankan ketakwaan di atas segalanya.

Bagi Umar, ketakwaan ini bukan hanya mempertebal keshalihan vertikal kepada Allah, tetapi juga keshalihan sosial kepada rakyat yang dipimpinnya, apapun suku, agama dan kelompoknya. Tenggang rasa terhadap seluruh rakyatnya bagi Umar merupakan upaya mewujudkan ketakwaan kepada Allah Yang Maha Pengasih tetapi tidak pilih kasih dengan cara bertoleransi.

Ada sebuah riwayat tentang Sayyidina Umar bin Khattab dan seorang Yahudi tua yang dikutip Muhammad Afiq Zahara (2017) dari Kitab al-Kharaj karya Imam Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim al-Anshari (w. 798 M), sahabat dan murid utama Imam Abu Hanifah.

Sayyidina Umar bin Khattab melintasi pintu rumah suatu kaum dan menemukan seorang peminta-minta tua yang penglihatannya telah terganggu. Beliau menepuk punggungnya dari belakang dan bertanya: “Tuan dari ahli kitab golongan manakah?”

Ia menjawab: “Yahudi.”

Khalifah Umar bertanya lagi: “Apa yang memaksa tuan melakukan apa yang aku lihat ini?”

“Aku meminta-minta agar dapat membayar jizyah, memenuhi kebutuhan hidup, dan karena usia tua (sehingga tidak mampu lagi bekerja)
,” jawabnya.

Khalifah Umar menggenggam lengannya. Beliau membawa laki-laki tua itu pulang ke rumahnya (Umar) dan memberikan sesuatu dari rumahnya kepada lelaki tua itu. Kemudian beliau membawanya kepada penjaga Baitul Mal dan berkata:

“Uruslah orang ini dan orang-orang yang sepertinya. Demi Allah, kita tidak berlaku adil karena kita telah memakan jerih payah masa mudanya (membayar jizyah), kemudian kita mengabaikannya ketika dia telah mencapai usia tua.”

Dari kisah tersebut dan pelajaran-pelajaran dari Rasulullah serta para sahabatnya, kiai kharismatik asal Jember, Jawa Timur KH Achmad Siddiq (1926-1991) merumuskan konsep ukhuwah (persaudaraan) yang tidak hanya mencakup persaudaraan antarumat Islam (ukhuwah Islamiyah), tetapi juga persaudaraan antarbangsa (ukhuwah wathaniyah) dan persaudaraan antarmanusia (ukhuwah basyariyah). (Khittah Nahdliyyah, Khalista, 2006)

Sayidina Umar sebagai seorang khalifah, pemimpin umat sama sekali tidak mengedepankan simbol agamanya, tetapi mengayomi seluruh rakyatnya. Prinsip ini tidak lepas dari ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah sehingga dibutuhkan akhlak mendalam dan rasa kemanusiaan yang tinggi untuk dapat mewujudkan apa yang disebut Islam rahmatan lil ‘alamin. Itulah ajaran Nabi Muhammad dari ketiga ukhuwah tersebut.

Prinsip ukhuwah itu menjadi pondasi dan pijakan jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) dalam menyikapi keberagaman dan kemajemukan bangsa Indonesia untuk bersama meningkatkan kualitas kehidupan sehingga tercipta perdamaian. Bukankah karena alasan itu manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardh, pengelola bumi.

Peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya bukan semata-semata penaklukkan, tetapi sebab mereka diperangi terlebih dahulu dalam menegakkan hukum Tuhan. Meskipun ekspansi dakwah Nabi dan para sahabat begitu luas, namun mereka sama sekali tidak memaksakan agama kepada kelompok lain. Akhlak dan kasih sayanglah yang dikedepankan mereka sehingga Islam dapat diterima oleh siapapun.

Negara Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad ketika hijrah di Yatsrib (kini Madinah) adalah negara yang dibangun di atas pondasi keberagaman suku, agama, dan kelompok. Ada semacam konsensus (kesepakatan bersama) di situ yang selama ini kita kenal sebagai Piagam Madinah.

Bagi Nabi, Islam tidak perlu diformalkan ke dalam sistem bernegara. Tetapi Islam mewarnai setiap kebijakan negara dengan nilai-nilai adiluhungnya. Prinsip ini justru bisa memacu umat agama lain untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaannya dalam beragama sehingga terwujud pengelolaan bumi dengan baik dan benar berdasar nilai-nilai agama dan kemanusiaa universal.

Ajaran Nabi tidak pernah ditinggalkan oleh para sahabatnya termasuk Sayidina Umar. Sehingga sebagai seorang pemimpin penerus Nabi, ia tidak membedakan agama dan suku dalam setiap kebijakannya. Toleransi yang terwujud dalam setiap pengelolaan negara, akan meujudkan keadilan sosial. Sedangkan toleransi dalam kehidupan berbangsa akan menciptakan persatuan dan kesatuan yang harmoni sebagai wujud peran khalifah fil ardh.

Bahkan, riwayat dalam sejarah kepemimpinan Sayidina Umar, ia juga dikenal dengan kesederhanaannya selain ketegasan dan kasih sayangnya. Sekali-kali jangan heran ketika kita temukan seorang ‘Kaisar’, seorang Emperor yang jauh melebihi tahta seorang presiden masa kini. Makanan Sayidina Umar adalah roti juwawut beroles minyak zaitun, minumnya hanya air putih, ranjang tidurnya adalah alas tikar, pakaiannya penuh dengan jahitan karena robek dan tercabik di banyak tempat, dan mahkotanya adalah serban yang sudah lusuh.

Sekali-kali jangan heran ketika kita temukan seorang kaisar agung yang tidak memiliki ajudan seorang pun, tidak memiliki harta yang melimpah ruah sedikit pun, karena Sayidina Umar men-tasharuf-kan semua gajinya untuk rakyat-rakyatnya. Jadi, bukan hanya ketakwaan kepada Allah yang merupakan sumber toleransi, tetapi kesederhanaan dalam hidup juga dapat meningkatkan tenggang rasa yang tinggi terhadap sesama manusia. Wallahu a’lam bisshowab.
[ nu online]

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: