Awas Jebakan Betmen Rentenir Online! Jangan Asal Cepat Cair Saja

Erhaje88

Zaman digital macam sekarang, mau apa saja makin mudah. Ingin mengajukan produk perbankan, tidak perlu repot datang ke bank.

Semua bisa dilakukan secara online! Tapi kemudahan itu akhirnya bisa membuat kita malas.

Ya malas survei lah, malas membandingkan lah. Ujung-ujungnya kita menyesali kemalasan kita.



Salah satu kemalasan yang bisa membuat kita menyesal adalah malas membandingkan produk pinjaman kredit tanpa agunan (KTA). Saking kepepetnya butuh dana, kita jadi lupa soal bunga dan biaya-biaya lainnya.

Apalagi di tengah kemudahan teknologi online saat ini, banyak pihak yang menawarkan pinjaman dana yang diklaim cepat, mudah dan bersahabat. Tapi tunggu dulu, ‘pihak’ yang dimaksud itu bank atau rentenir ya?

Karena sekarang sudah banyak lembaga keuangan online yang tidak berbadan hukum menawarkan pinjaman dana. Tidak cuma orang yang bisa online, lintah darat pun sekarang juga melek teknologi online lho!

Lantas bagaimana kita mengetahui ciri-ciri rentenir bergaya online ini? Simak penjelasannya di bawah ini sebelum terjebak dalam labirin utang:

1. Seperti Tukang Sulap

Tidak berlebihan kalau kita menyebut rentenir online ini sebagai tukang sulap. Karena mereka bisa menyulap sederet syarat ketentuan pengajuan menjadi satu dokumen saja: KTP.

Yup, cuma modal KTP saja bisa cair itu pinjaman. Lah, memangnya KTP itu kartu ATM???

Bandingkan dengan produk KTA milik bank. Biasanya banyak syarat yang dibutuhkan selain KTP seperti NPWP, slip gaji, surat pengangkatan karyawan tetap, kartu kredit dan histori kredit (BI checking).

Syarat-syarat bank tersebut ditetapkan bukan tanpa tujuan. Sesuai dengan prinsip kehati-hatian, dokumen tersebut diperlukan untuk menilai apakah nasabah layak diberikan pinjaman biar nggak terjadi kredit macet.

Nah, kalau modal KTP saja lantas diberikan pinjaman, risiko kredit macet bakal makin besar. Akhirnya nasabah juga yang dirugikan.

2. Seperti Sarang Laba-Laba

Ibarat sarang laba-laba yang siap menjebak mangsa, rentenir online juga menebar jaring yang tidak kelihatan. Kalau tidak waspada, ya siap-siap dimangsa.

Apa saja jebakannya? Salah satunya adalah bunga cicilan yang besar.

Bahkan ada rentenir online yang menawarkan bunga 1% per hari! Sekilas kita berfikir itu bunga sepertinya kecil, tapi kalau dihitung-hitung mencekik lho! Coba kita lihat:

Pinjaman rentenir online:

Nilai pinjaman: Rp 2 juta

Bunga per hari flat: 1%

Tenor maksimal: 30 hari (1 bulan)

Bunga sebulan: 30% x Rp 2 juta = Rp 600.000

Total pinjaman + bunga: = Rp 2.000.000 + Rp 600.000 = Rp 2.600.000

Coba kita bandingkan dengan produk KTA milik bank DBS:

Nilai pinjaman Rp 20 juta

Bunga per bulan flat: 0,99%

Tenor: 24 bulan (2 tahun)

Bunga selama 2 tahun: 23,76% x Rp 20 juta = Rp 4.752.000

Total pinjaman + bunga = Rp 24.752.000

Memang sih, produk KTA dari bank membebankan biaya administrasi, tapi itu sepadan dengan bunga yang dibebankan. Coba saja bandingkan, rentenir online membebankan 30% per bulan sementara bank cuma 23,76% selama dua tahun.

3. Suka Main Petak Umpet

Tahu kan permainan petak umpet yang sering kita mainkan pas waktu kecil. Nah, rentenir online hobi banget nih main petak umpet padahal usia sudah tidak muda lagi.

Kok bisa hobi main petak umpet? Jadi gini, saat kita melihat tawaran pinjaman dana dari rentenir online, biasanya cuma menjual janji manis saja.

Janji manis ini rata-rata berbunyi “pinjaman langsung cair”, “bunga ringan”. Giliran bagian tidak enaknya seperti denda keterlambatan disembunyikan alias tidak transparan.

4. Bagaikan Siluman

Yang namanya rentenir online jelas tidak melandaskan operasionalnya pada hukum dan undang-undang. Karena memang tidak mengantongi izin dari pemerintah jadinya ya bebas gentayangan bagaikan siluman.

Lucunya ada rentenir online yang mengklaim dapat izin dari Kementerian Keuangan. Padahal kementrian ini tidaak punya wewenang mengeluarkan izin dalam bentuk apapun di sektor jasa keuangan.

Semua kegiatan jasa keuangan itu harus terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK inilah yang bertindak sebagai pengawas di lapangan. Jadi bohong banget kalau Kementerian Keuangan turut campur di sektor ini.

Lantas kalau tidak ada peraturan dan perundang-undangan, bagaimana kita bisa terlindung jikalau tersandung masalah. Wong setiap kali kena masalah, kita langsung buru-buru mengutip pasal undang-undang buat menuntut atau membenarkan argumentasi kita.

Jadi ya sebenci-bencinya kita dengan pemerintah (yang kadang dituding tidak berpihak pada rakyat), peraturan dan undang-undang itu penting buat melindungi kita.

5. Teman Makan Teman

Ngakunya sih teman, tapi kok teman makan teman. Bukannya mau membantu kita keluar dari masalah, eh malah menambah masalah dengan melakukan 4 hal di atas. Kalau begitu caranya bukannya menolong tapi justru bikin amsyong!

Nah, sekarang balik lagi ke diri kita masing-masing. Mau menggunakan kemudahan teknologi digital dengan bijak atau malah membiarkan kita terjebak?
Yang jelas pilihlah sesuatu berdasarkan rasionalitas. Jangan cuma karena kepepet lantas kita mengorbankan masa depan. Jadi tetap berusaha dan waspada ya!

Sumber: duitpintar

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: