Wong Wadon Nggendong Gajah

Erhaje88

Tulisan ini sengaja saya kasih judul Wong Wadon Nggendong Gajah (Perempuan Menggendong Gajah). Judul tersebut terinspirasi ketika ibu bercerita tentang tetangganya sebut saja Suyati. Suyati datang ke rumah berniat hutang kepada ibu.

Sayangnya, ibu sedang tidak punya banyak cadangan uang, bisa dikatakan tidak bisa mengamini niat Suyati berhutang. Bukan karena ibu pelit, hanya saja saat ini emak-nya ibu alias nenek sedang sakit, sehingga butuh banyak dana untuk berobat ke rumah sakit, beli pampers yang sehari semalam seharusnya ganti lima kali menyesuaikan waktu salat, dan pesangon adik yang hari itu juga kembali ke pesantren Kajen, Pati, Jawa Tengah.



Mendengar cerita ibu, saya langsung berkomentar tentang seringnya Suyati terjepit masalah ekonomi. Padahal setahu saya, anak pertama Suyati sudah menikah setelah lulus SMA, dan anak kedua masih belum sekolah. Artinya menurut pengamatan saya, Suyati tidak lagi mengeluarkan dana untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Tapi kok bisa kekurangan?

Sebagai seorang perempuan, ibu mengaku cukup memahami kondisi Suyati. Bahkan ibu juga mengaku cukup memahami cara berpikir saya tentang Suyati, karena saya belum merasakan beratnya menjadi perempuan ketika sudah menikah.

Namun demikian, ibu berharap semoga kelak ketika saya telah menjadi istri dan ibu, tidak merasakan beratnya menjadi perempuan. Selain itu, ibu berdoa supaya anak-anaknya paham kesulitan orang lain, sehingga tidak gampang merendahkan orang lain dan syukur-syukur bisa menolong orang lain.

Masih dengan kebingungan saya dan ketidakpahaman saya tentang kondisi Suyati dan beratnya perempuan ketika berumahtangga. Wajah saya yang rada polos, mungkin jadi semakin kelihatan blo-on ketika berpikir.

Saya berpikir beratkah menjadi seorang perempuan, seorang istri dan seorang ibu? Padahal teman-teman di Pesantren Al-Munawwir Krapyak, komplek R2 kadang nyeletuk ingin segera menikah supaya ada yang menafkahi. Saya membatin, enak yaa…ada yang menafkahi, tapi kenapa ibu bilang perempuan yang sudah berumahtangga itu berat?

Melihat keplosan saya, ibu menjelaskan panjang kali lebar, tetapi tidak seperti mengitung luas rumus persegi panjang lho yaa…. Beratnya perempuan yang sudah berumahtangga ialah ketika besar pasak daripada tiang yang artinya pengeluaran lebih besar daripada pendapatan.

Kasus di desa saya sendiri misalnya di Desa Mojorembun, Kaliori, Rembang. Perempuan lebih banyak memikul beban berlipat-lipat tinimbang suami (versi ibu yang saya setujui, tetapi jujur saya belum melakukan penelitian hanya sekedar pengamatan ringan).

Tanggung jawab suami memberikan nafkah keluarga, terkadang hanya sebatas memberikan penghasilannya ke istri. Adapun keseluruhan kebutuhan untuk membeli beras, cabai, garam, tempe, tahu, jajan anak-anaknya, pendidikan, kesehatan, dan tetek bengek-nya suami tidak begitu paham alias pasrah bongkokan (pasrah secara keseluruhan). Jadi istri ibarat manajer, kudu pinter ngubetke duit supoyo mubet (harus pintar mengatur keuangan supaya cukup).

Saya manggut-manggut mendengarkan penjelasan ibu tentang beratnya perempuan dalam berumahtangga. Karenanya, bagi ibu perempuan berpenghasilan sendiri itu sebagai hal yang sangat penting. Alasannya, dengan berpenghasilan sendiri, perempuan tidak akan terlalu terbebani jika penghasilan dari suami terpaksa tidak mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari, kebutuhan pendidikan anak, kesehatan keluarga, kebutuhan sosial seperti menjenguk orang sakit, menjenguk tetangga lahiran, pernikahan, dll.

Sebenarnya tidak masalah jika perempuan tidak berpenghasilan, asal penghasilan suami mencukupi. Jika tidak mencukupi, perempuan akan benar-benar memikul beban rumah tangga berlipat-lipat. Jika ada kekurangan dalam rumah tangga, perempuan yang tidak berpenghasilan akan merasa sungkan meminta tambahan uang, padahal jika tidak meminta kebutuhan keluarga tidak tercukupi, bimbang, dan paling fatal terjadi percekcokan dan perceraian.

Kembali ke Suyati, akhirnya ibu memberanikan diri tanya kenapa Suyati sering kekurangan uang. Ibu curiga jika hanya untuk makan, nafkah dari suami mencukupi karena Suyati pernah bercerita setiap harinya dikasih uang suami sebesar Rp100.000.

“Sampean ndue utang bank? (Kamu punya hutang ke bank?),” tanya ibu memastikan.

Tak kuasa, akhirnya Suyati berkenan menceritakan hutang yang melilit kehidupan rumah tangganya. Suyati menceritakan kelakuan buruk suaminya ketika gidrang/kedenan (gila) dengan yang namanya togel sejenis perjudian yang ngehit di Era Presiden Megawati. Saking kedanan, suami Suyati lebih memilih keberuntungan dengan menebak angka-angka togel. Saat suaminya kedanan togel, Suyati merasa tidak diperhatikan sama sekali oleh suaminya.

Suami Suyati jarang memberikan uang belanja, bahkan biaya SPP anak pertamanya terpaksa terkatung-katung. Ketika Suyati mencoba meminta uang, suaminya memintanya bersabar dan menjanjikan akan mencukupi kebutuhan keluarganya dengan keberuntungan dari judi togel. Bahkan, jika suaminya sedang tidak mood karena kalah judi togel, Suyati menjadi ajang empuk kemarahan suaminya.

Saking tidak betahnya, berhutang di bank menjadi pelarian Suyati demi mencukupi kebutuhan keluarga. Selain itu, uang hutangan dari bank juga digunakan Suyati untuk sowan (bersilahturahim) ke kiai-kiai untuk meminta doa supaya suaminya berhenti mengadu nasib melalui togel.

Suyati bersyukur, usahanya mendatangi kiai-kiai di-ijabahi Allah. Suaminya sembuh dan kembali bertanggungjawab menafkahi keluarganya. Namun hutang-hutang di bank tidak berani diceritakan kepada suaminya.

“Mbuk cerito nang bojo (Cerita saja ke suamimu),” pinta ibu setelah mendengarkan cerita Suyati yang terlilit hutang bank.

Suyati menggeleng. Ia mengaku takut menceritakan perihal hutang itu kepada suaminya. Sebagai ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan, Suyati merasa sungkan dan takut  suaminya marah mengetahui dirinya diam-diam punya hutang di bank. Selama ini, Suyati tutup lubang gali lubang, ketika jatah tempo membayar bank tiba.

"Kalau nggak cerita, kamu sendiri yang menderita," kata ibu tegas, khas dengan bahasa Jawa yang kental.

Mendengar penuturan Suyati, ibu  tidak  tega dan akhirnya memberikan dua lembar seratus ribuan. Suyati tidak segera menerima uang dari ibu. Ibu meyakinkan Suyati tidak apa-apa menerima uang ibu.

Ibu mengatakan kepada Suyati, uang yang terpaksa dipinjamkannya ialah uang dagang jatah setoran kulakan di pasar Rembang. Hati ibu sebagai seorang perempuan merasa iba melihat Suyati yang sesama perempuan mengalami keterlilitan hutang.

Mendengar cerita ibu tentang Suyati, tentang beratnya beban perempuan yang sudah berumahtangga membuat saya berpikir, benar apa yang diungkapkan kiai saya saat masih belajar di Pesantren  Raudlatul Ulum, Guyangan. Menikah itu mitsaqon golidho (berat), makanya hukum  pernikahan banyak sekali ada yang mubah, haram, sunah, makruh dan wajib.

Ah, jadi ke mana-mana. Tapi apa pun itu, bismillah saya berharap semoga masyarakat Indonesia yang sudah membangun rumah tangga diberi kekuatan Allah menjalin mahligai rumah tangga dengan aman, nyaman, iman, dan amanah.

Aman perekonomiannya, kesejahteraan keluarga. Aman bersosialnya, pendidikan dan kesehatan keluarganya, sehingga tercipta kenyamanan dengan tetap dalam keadaan beriman dan amanah dalam menjalankan titah Tuhan sebagai manusia.

Amin…. Amin.... Amin…

Penulis: Sulityoningsih (Santri Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta)

(nu online)

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com: