Ulama Dan Para Dai Jaman Now Seharusnya Seperti Gus Mus, Bukan Seperti Singa Podium

Erhaje88

Oleh: Jonminofri*

KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus menerima penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2017. Beliau dinilai memiliki perhatian yang besar terhadap perjuangan dan tegaknya nilai-nilai hak asasi manusia.

Penghargaan diberikan di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (24/1/2018). "Buat saya, Gus Mus dengan semua karyanya, dengan semua sepak terjangnya, keterlibatannya, adalah seorang pejuang hak asasi manusia," ujar Todung Mulya Lubis, ketua Yayasan Yap Thiam Hien (kompas.com 25/01/2018).



Ini adalah berita baik tentang ulama. Sebab, belakangan ini berita ulama di media massa dipenuhi oleh cerita ulama berbaju putih panjang dan tutup kepala putih yang jago berorasi di podium di depan massa yang jumlahnya sampai puluhan ribu orang sambil mengkritik kanan dan kiri.

Gus Mus jauh dari kesan itu. Pidatonya tidak berteriak-teriak. Suaranya kalem. Pakaiannya seperti pada umumnya orang Jawa. Jika bertemu dengan dia, kita melihat sosok seperti tetangga kita. Tapi, dia sangat dihormati oleh semua kalangan di Indonesia.

Gus Mus juga bukan sekedar ulama. Beliau peduli pada masalah kemanusian, di tingkat nasional juga di tingkat internasional. Dia yang menggagas pembaca Puisi untuk Palestina tempo hari di Gedung Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Kamis (24/8/2017).

Ini bukan pekerjaan mudah bagi orang lain, tapi sederhana bagi Gus Mus. Sebab, pada acara ini yang membacakan puisi hampir semua penyair besar Indonesia, ditambah duta besar Palestina, dan tokoh lain yang tidak dikenal sebagai penyair. Gus Mus juga membacakan sebuah puisi di sini bersama Slamet Rahardjo.

Ketika menonton pertunjukkan ini, saya melihat tepuk tangan membahana sebagai tanda penghargaan dan pujian kepada Gus Mus. Sementara itu, banyak orang yang berdiri di luar Gedung pertunjukkan karena tidak kabagian tiket untuk masuk. Tidak sering acara pembacaan puisi berlangsung meriah seperti ini.

Gus Mus: Sejak Awal Allah Telah Memuliakan Manusia


Di atas panggung itu, Gus Mus mengaku belajar puisi karena diminta membacakan puisi oleh Gus Dur. Ketika itu Gus Dur atau Abdurrahman Wahid menjabat Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Ia menggelar acara Puisi Untuk Palestina pertama, tahun 1982, atau 36 tahun yang lalu (tirto.id 25/08/2017).

Ulama yang mempunyai rentang perhatian luas seperti Gus Mus ini tidak banyak lagi di Indonesia. Atau setidaknya mereka kalah populer dengan ulama yang berpakaian serba putih panjang dan bertutup kepala putih.

Sosok Gus Mus yang menyukai puisi ini mengingatkan kita pada sosok ulama yang bernama Buya Hamka yang juga gemar dunia sastra. Tapi, Buya Hamka adalah penulis novel. Karyanya yang sangat populer adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, yang telah difilmkan ke layar lebar.

*Jurnalis, dulu bekerja di media cetak, radio, dan TV.

[ UcWeb]

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com:

BUKAYANGBAIK May 2018