Terpasung Pemikiran Salah Kaprah

Erhaje88

Oleh: Semar Bodronoyo

Ulama zaman old, jargon "kembali kepada al-Quran dan Hadits" dipahami sebagai manhaj untuk menghidupkan kembali semangat berijtihad. Ustadz zaman now, jargon "kembali al-Quran dan Hadits" dipahami sebagai semangat untuk melepaskan diri dari khazanah pemikiran para ulama.

"Orang-orang NU berpegang pada kitab kuning. Tapi kami berpegang pada al-Qur-an dan Hadits", begitu kira-kira pikiran nyeleneh yang beredar di medsos.


Ini adalah cara berpikir yang salah, seolah-olah kalau merujuk pada kitab kuning (kitab klasik) dianggap tidak berpegang pada al-Quran dan hadits.

Mengapa ulama NU selalu terlebih dulu mencari landasan hukum dari pemikiran imam Mazhab?

Nabi bersabda, "Sebaik-baik zaman adalah zamanku (para sahabat), kemudian yg setelahnya (zaman tabi'in), kemudian yg setelahnya (zaman tabi'in tabi'in)" (HR. Bukhari).

Dari manakah tata cara shalat lima waktu itu diperoleh? Di dalam al-Quran hanya menyuruh kita shalat. Begitu juga di dalam hadits, Nabi SAW hanya memerintahkan "Shalat-lah kalian seperti shalat yang kau lihat dariku". Tapi baik Qur'an maupun hadits tidak mengajarkan secara detil bagaimana tata cara ritual shalat.

Jawabannya adalah dari para imam Mazhab. Imam Mazhab mendapatkan dari guru-guru mereka, yaitu tabi'in dan tabi'it tabi'in.

Di kalangan ulama, konsensus tentang suatu masalah hukum tersebut disebut sebagai  ijma' ulama.

Bagaimana hukum menempeleng orang tua? Dalam  al-Quran hanya melarang kita berbicara kasar kepada mereka. Di sini para ulama memakai metode qiyas. Kalau bicara kasar saja diharamkan, apalagi sampai menendang.

Para ulama membagi 9 jenis qiyas. Nabi bersabda, "Ulama adalah pewaris para nabi" (HR. At-Tirmidzi).

Lihatlah kehebatan para ulama Mazhab. Imam Syafi'i lahir 150 H, pada usia 7 tahun  hafal al-Quran, dan pada usia 10 th sudah hafal kitab al-muwattha' karya imam Malik, sang guru.Imam Syafi'i menguasai 1 juta hadits.

Imam Malik lahir th 93 H. Beliau belajar shalat dari generasi tabi'in (anak para sahabat nabi). Imam Syafi'i belajar shalat dari sang guru, imam Malik.
Imam Malik memiliki 300 guru dari kalangan tabi'in dan 600 guru dari kalangan tabi'it tabi'in.

Lalu bagaimana dengan ulama hadits? Imam Bukhari menguasai 600.000 hadits. Tapi hanya sekitar 7000 hadits yang sempat beliau tulis.
Imam Muslim mendapatkan 300.000 hadits, tapi hanya 9000 hadits yang beliau bukukan.

Nah, para ulama hadits seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim, ternyata juga bermazhab, dengan memilih mengikuti Mazhab Syafi'i.

Hehe.. ngomong-ngomong antum sudah menguasai berapa hadits?

Saya pernah lihat ustadz Wahabi yang dengan pongah mentertawakan kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Katanya, kitab Ihya' penuh dengan hadits dhaif.
Saya pernah dengar, setiap beliau mau menuliskan sebuah hadits dalam kitab Ihya', beliau terlebih dulu shalat dua rakaat, dan beliau tidak pernah batal wudlu saat menulis kitab.

Kalau antum lagi ceramah kentut berapa puluh kali..??? wakkkkkkk...

Karena itulah, marilah kita jangan menyombongkan diri. Ilmu kita hanyalah seujung kotoran kuku dibanding para ulama zaman old.
Lalu dengan angkuh kita bilang, "Kami hanya berpegang pada al-Quran dan hadits..!"

Lha memang para ulama zaman old tidak berpegang pada Qur'an dan hadits?

"Sesungguhnya yang paling takut pada Allah di antara hamba hambanNya hanyalah ulama" (Fathir, 28).

Tiba-tiba seorang ustadz zaman now memanggil sang istri, "Umiii..umiii..! Mana Qur'an terjemahan ana.. Ada jadwal ceramah di tv nih.."
Ya..ya..ya..! Hemmm....

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com:

BUKAYANGBAIK May 2018