Tabayyun Antara Gusnur Dengan GP Ansor Tidak Ada Titik Temu Yang Jelas

"... Ini untuk saya sendiri menjaga lesan saya, menjaga hati saya, kalau nanti didalam kata-kata saya ini ada kedustaan, ada yang saya ingkari, ada yang saya buat-buat, mudah-mudahan tujuh turunan saya, hancur di laknat oleh Allah..."





Tampak Gus Nur paling kiri dan Gus Afif sedang memberikan sambutan pengantar. (FT/RIDHO/duta.co)


 Seperti diketahui, Sugi Nur Raharja atau yang biasa dipanggil Gus Nur belakang ini menjadi perbincangan publik terutama di Jawa Timur, lantaran ceramahnya yang dinilai sangat provokatif, berbau adu domba, ada unsur menghina, dan tak jarang menjelek-jelekkan Ansor, Banser, termasuk NU yang dikenal sebagai Ormas terbesar di republik ini.

Ironisnya, semua itu disampaikan ke publik melalui media sosial terutama youtube. Ada juga pembicaraan ‘kotor’ seperti tahi, jancuk, dll yang sangat tidak pantas diucapkan seorang penceramah. Dan ini kerap diucapkan Gus Nur untuk mengomentari NU, Banser, dan Ansor.

Menyikapi itu, maka, dengan mengharap  ridha, hidayah, dan pertolongan Allah swt., GP Ansor Kota Surabaya mengundangnya untuk tabayyun (klatifikasi) atas pernyataan itu, khususnya menyangkut Ansor, Banser dan NU. Dalam salah satu videonya bahkan ia sempat mengatakan dengan lantang Ansor, Banser, dan NU itu tempatnya Iblis.
(Belum Genap 24 Jam Usai Tabayyun, Gusnur Unggah Video Kekecewaannya Dengan Ansor Dan Banser)

Ketua GP Ansor Surabaya, Muhammad Farid Afif, dalam sambutannya mengatakan bahwa dakwah itu kegiatan baik. Tetapi tetap harus dilakukan secara baik pula. Tidak dengan menghina. “Saya terima kasih Gus Nur mau datang, ini bisa menjadi ajang klarifikasi,” tegas Gus Afif.

Gus Afif tidak ingin harga diri Banser dan NU diinjak-injak, maka ia dan segenap pemuda Ansor dan Banser se-kota Surabaya menginginkan penjelasan langsung dari Gusnur.

“Oleh karena itu, sesama pemuda nahdliyin Ansor dan Banser Se-Kota Surabaya yang sangat sayang terhadap ulama dan NKRI, tak ingin harga diri ini diinjak injak. Dengan tabayyun ini semua bisa selesai,” harapnya.

Setelah sambutan pembukanya, lalu video Gus Nur pun diputar di depannya.

Dalam forum tabayyun yang berlangsung pada Selasa (23/01/2018) tersebut, Gus Nur terkesan enggan memberikan klarifikasi terhadap pertanyaan yang dilontarkan anggota GP Ansor Surabaya. Bahkan dia berdalih sebenarnya tabayyun di Surabaya ini tak perlu. Sebab, sudah dijawab dalam forum tabayyun di Semarang beberapa waktu lalu.

“Intinya kami sudah baik, ojo diplintir-plintir maneh. Saya akan memperbaiki diri saya sendiri sebab kita tak bisa mengubah orang lain kalau tidak dari kita sendiri. Wis anggepen aku sing salah, aku tak berubah. Wis ojo diplintir-plitir lho yo (anggap saya yang salah, saya mau berubah, sudah jangan sampai diplintir, red),” Kata Gus Nur.

Dalam forum tabayun itu juga Gus Nur mengungkapkan kekecewannya pada KH Said Aqil Siradj. Ia kecewa lantaran menurutnya Kiai Said terlalu membela Syiah sehingga ia beranggapan bahwa ketua umum PBNU itu termasuk Syiah.

“Sebenarnya ini semua adalah akumulasi dari kekecewaan saya terhadap KH Said Agil Siradj yang terlalu membela Syiah. Sehingga di pikiran saya, Kiai Said itu Syiah. Dan video Banser joget yang viral itu juga tak patut. Sehingga saya juga benci Banser. Tapi yang paling saya benci adalah Abu Janda,” ungkap Gus Nur.

Dalam forum tanya jawab yang dimoderatori Wakil ketua PC GP Ansor Surabaya Dodik, Kasetma Banser Surabaya Hasyim Asy’ari mengatakan, Gus Nur dulunya dakwah lewat ceramah dalam kubur tidak ada yang mempersoalkan. Namun sejak berubah, dakwahnya menjadi kasar sehingga banyak mendapat kritik.

“Perbedaan itu rahmat, kalau tak suka sama seseorang jangan umbar omong lewat medsos. Sebab sebagai tokoh panutan itu tak patut. Jangan sampai unggah video kementari seseorang tanpa tabayyun lebih dulu, itu sama provokasi dan ujaran kebencian,” tegas Hasyim.

Senada, Ketua Rijalul Ansor Kota Surabaya M Mundir menambahkan, kalau tabayyun di Semarang itu sudah berakhir, kenapa Sugi masih mengunggah video menghina Banser. Apalagi yang dikomentari itu menyangkut kasus Felix Siau di Pasuruan yang tak ada sangkut-pautnya.

“Tabayyun di Semarang itu ditandatangani 16 Oktober 2017. Kasus Felix itu 4 November dan kasus Mulyorejo itu Desember 2017. Jangan memutarbalikkan fakta, kami hanya ingin tabayyun soal Surabaya saja,” tegasnya.

Masih di tempat yang sama, Agus Fathul Thoha dari Aswaja Center Jatim menilai mayoritas Ansor dan Banser adalah seorang santri. Sehingga menjaga marwah kiai. NU secara organisasi adalah bagian tugas mereka. Karena itu, dia menyarankan Gus Nur dalam berdakwah menggunakan ilmu yang ada dalam kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam Ghozali.

“Maksiat yang paling besar itu melalui lisan (ucapan). Tulisan atau video yang diunggah di media sosial itu juga tergolong lisan. Kalau orang mukmin itu sebelum bicara hatinya dulu yang bicara. Sebaliknya kalau orang munafik mulutnya didahulukan daripada hati. Kalau hati yang dikedepankan, pasti akan mempertimbangkan manfaat dan mafsadatnya,” jelas Fathul.

Diingatkan, Kiai Said Simbol NU

Menurut dia, KH Said Agil Siradj adalah simbol PBNU. Kalau tidak senang secara pribadi jangan menyangkutpautkan dengan organisasi NU. Sebab yang tidak terima akan banyak. Memahami Alquran itu tidak semua orang bisa sehingga perlu ulama (guru) agar kalau berdakwah bukan provokatif.

“Kami tidak mau menghabisi Gus Nur, tapi justru mau meluruskan. Sebab, Ansor sayang dengan Gus Nur. Masalahnya hanya takhafadul lisan, mari kita sama-sama menjaga umat Islam supaya tetap rukun dan aman,” imbuhnya.

Penolakan NU, Ansor, dan Banser terhadap pengajian Ustaz Felix Siau lantaran ada indikasi kuat bahwa dakwahnya dapat membahayakan keutuhan umat, bangsa, dan negara. Sebab, Felix enggan mengakui Pancasila sebagai dasar negara.

“Sekarang ini banyak pihak yang ingin merongrong bangsa Indonesia, salah satunya melalui isu agama dan yang dijadikan sasaran adalah NU. Kami khawatir Gus Nur sengaja dijadikan sebagai alat propaganda untuk melemahkan NU,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua PC GP Ansor Kota Surabaya HM Farid Afif  menegaskan, forum tabayun ini adalah silaturrahim sekaligus ingin mengerti arah berikir ustad Sugik. “Kami jug ingin klarifikasi beliau terkait video-videonya yang diunggah di YouTube dan media sosial terkait menghina-hina NU, Ansor, dan Banser,” ujarnya.

Farid menyatakan, yang dilakukan adalah saling minta maaf. “Mudah-mudahan itu juga dilakukan oleh Ustaz Sugik. Walaupun dalam forum tabayyun ini tidak ada titik temu yang jelas. Sebab, pembahasan melebar dan tidak bisa fokus terhadap persoalan di Kota Surabaya,” jelas Afif. (duta.co)

Tonton cuplikan video pernyataan Gus Nur dalam forum tabayyun berikut ini:

0 Response to "Tabayyun Antara Gusnur Dengan GP Ansor Tidak Ada Titik Temu Yang Jelas"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel