Kembali Kepada al-Qur'an - al-Hadits Atau Kepada Mazhab?

Erhaje88

Oleh: Buya Soni

Membaca judul pertanyaan diatas, layaknya kita memahami pertanyaan semacam ini:
"Kalau sakit, pergi ke dokter atau langsung buka buku kesehatan?"
"Naik bis, percaya dengan sopir atau 'cerewet' dengan bermodal peta?"

Sama juga jika ada yang mengatakan
"Jangan percaya Kiai, jangan percaya Habib. Kembalilah pada al-Qur'an dan al-Hadits!. Siapapun yang berbicara, asalkan yang diomongkan adalah (dari) al-Qur'an dan al-Hadits, maka pasti benar!"

Duaaaarrr...! 😜 😆



Pernyataan semacam itu jika didengar oleh orang awam, seakan-akan itu adalah pernyataan benar. Tapi jika dipahami lebih lanjut, justru itu adalah pernyataan yang kurang ajar.
Kenapa dikatakan 'kurang ajar'? Karena pernyataan seperti diatas, itu menandakan bahwa orang yang bertanya itu menuduh bahwa apa yang dilakukan dokter tidak sesuai dengan buku kesehatan.
Menuduh bahwa sopir (angkutan) tidak hafal jalan sehingga harus ia tuntun dengan peta yang ia bawa. Dan menuduh para ulama/kiai/ustadz tersebut tidak sesuai dengan Qur-an dan Hadits. Na'udzubillah...

Lebih lanjut, pertanyaan besar adalah:
"Siapa sebenarnya yang berkecimpung dan mempelajari Qur-an dan Hadits, Ulama ataukah siapakah?">

Justru kita-kita (termasuk saya juga, dan masyarakat secara umum) yang "memahami Qur-an dan hadits" tanpa melalui "Ulama" (Para Kyai, juga termasuk didalamnya) malahan berbahaya. Sekali lagi, berbahaya!

Simak hadits Nabi saw dibawah ini:
ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ ﺳﻴﺨﺮﺝ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻗﻮﻡ ﺃﺣﺪﺍﺙ ﺍﻷﺳﻨﺎﻥ ﺳﻔﻬﺎﺀ ﺍﻷﺣﻼﻡ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻣﻦ ﺧﻴﺮ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺒﺮﻳﺔ ﻳﻘﺮﺀﻭﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻻ ﻳﺠﺎﻭﺯ ﺣﻨﺎﺟﺮﻫﻢ ﻳﻤﺮﻗﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻛﻤﺎ ﻳﻤﺮﻕ ﺍﻟﺴﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﻣﻴﺔ

“Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari dien (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dari busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan, orang yang dibahas oleh Nabi Saw dalam hadits diatas adalah orang yang membaca al Qur-an, tapi ia dianggap keluar dari agama. Siapa itu?
Secara gamblang, Baginda Nabi Muhammad SAW menyatakan mengenai orang yang "sok" memahami Qur-an dengan pikiran sendiri. Beliau saw. bersabda:

ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻘُﺮﺁﻥِ ﺑِﺮﺃﻳِﻪِ ، ﻓَﻠْﻴَﺘَﺒﻮَّﺃْ ﻣَﻘْﻌَﺪَﻩُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
"Barangsiapa yang berbicara tentang al Qur'an dengan pikirannya senfiri, maka silahkan mengambil tempatnya di neraka" (HR. Tirmidzi, Ahmad, Baihaqi, Thobroni)

ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻘُﺮﺁﻥِ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ، ﻓَﻠْﻴَﺘَﺒﻮَّﺃْ ﻣَﻘْﻌَﺪَﻩُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

"Barangsiapa berbicara tentang al-Qur'an tanpa didasari ilmu, maka silahkan mengambil tempatnya di neraka." (HR. Tirmidzi, Ahmad, Nasai)

Lihat bagaimana ancaman Nabi saw bagi orang yang langsung 'menuju' ke Qur-an dengan pikirannya sendiri tanpa didasari ilmu.

Kesimpulan
1. Siapa yang paling memahami Al Quran sebagai Kalam Allah? Tentu Nabi Muhammad SAW

ﻗُﻞْ ﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗُﺤِﺒُّﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻧِﻲ

"Katakanlah (wahai Nabi Muhammad): "Jikalau engkau mencintai Allah, maka ikutilah saya (Nabi Muhammad)"." (QS. Al Imron : 31)

2. Siapa yang paling memahami Nabi Muhammad? Tentu para Sahabat.

ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻲْ ﻭَﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳْﻦَ

"Tetaplah engkau berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah khulafaur rosyidin." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban, Al Hakim)

3. Siapa yang paling paham tentang Sahabat? Tentu Tabi'in serta Tabiut Tabi'in

ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ، ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ : ‏( ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻗَﺮْﻧِﻲ، ﺛُﻢَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﻠُﻮﻧَﻬُﻢْ، ﺛُﻢَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﻠُﻮﻧَﻬُﻢْ )

"Dari Abdullah bin Mas'ud ra. dari Nabi saw beliau bersabda : Sebaik-baik manusia adalah masaku, kemudian masa sesudah mereka, kemudian masa sesudah mereka." (HR. Bukhori Muslim)

Imam Nawawi dalam Syarh Shohih Muslim menerangkan:

" ﺍﻟﺼَّﺤِﻴﺢُ ﺃَﻥَّ ﻗَﺮْﻧَﻪُ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔُ ، ﻭَﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻲ : ﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌُﻮﻥَ ، ﻭَﺍﻟﺜَّﺎﻟِﺚُ : ﺗَﺎﺑِﻌُﻮﻫُﻢْ " ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ " ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻋﻠﻰ ﻣﺴﻠﻢ " ‏( 16/85 ) .

Yang benar bahwa urutan yang disabdakan Nabi saw adalah (masaku yang dimaksud adalah) Sahabat, yang kedua adalah Tabi'in, dan yang ketiga adalah Tabi'ut Tabi'in.

Disini sudah jelas, ternyata Nabi saw memerintahkan kita untuk belajar melalui rantai keilmuan, bukan langsung "mengotak-atik" Qur-an dan Hadits sendiri.

Bahkan Imam Bukhori yang hebatnya luar biasa, Imam Muslim yang luarbiasa hebat pun adalah seorang yang bermadzhab! Dan rasanya sangat sulit bahkan hampir mustahil para ulama setelah tahun 150 H hingga sekarang yang tidak bermadzhab.

ﻓﻜﺎﻥ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ ﺷﺎﻓﻌﻴﺎ، .... ، ﻭﻛﺬﺍﻟﻚ ﺇﺑﻦ ﺣﺰﻳﻤﺔ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ

"Imam Bukhori bermadzhab Syafi'i begitu juga Ibnu Khuzaimah dan Nasai." (Risalatu ahlissunnah wal jama'ah hal. 15. Keterangan senada juga dapat ditemukan dalam Al-Imam Asy-Syafi’i bainal madzhabihil Qadim wal Jadid)

4. Perhatikan dibawah ini:
 Imam Hanafi lahir: 80 H
 Imam Maliki lahir: 93 H
 Imam Syafie lahir: 150 H
 Imam Hambali lahir: 164 H
 Imam Bukhori lahir: 194 H
 Imam Muslim lahir : 204 H

Kemudian setelah itu, muncul pemahaman baru yang mengharamkan bermadzhab, yang jargonnya: "Ayo Kembali Kepada al Qur-an dan al Hadits". Tapi faktanya dalam agama, mereka mengikuti:
- Syeikh Ibnu Taimiyyah lahir: 661 H
- Ustadz Muhammad Abdul Wahhab (pendiri gerakan Wahhabi) lahir: 1115 H
- Ustadz Albani lahir : 1333 H (wafat tahun 1420 H atau 1999 M)
- Ustadz Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz lahir: 1330 H (wafat tahun 1420 H atau 1999 Masehi)
- Ustadz Muhammad bin Sholih sl Utsaimin lahir: 1928 M (wafat 2001 M)

Pertanyaanya: "Apakah Ulama-Ulama yang meninggal tahun 90'an dan 2000'an Masehi dapat disebut sebagai Ulama Salaf?"

Jadi masih mau dibohongi oleh paham-paham baru?
Sadarlah wahai saudaraku se-agama...

Wallahu a'lam bis showaab
Salam sadar. (buyasoni.com)

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: