Kembali ke Qur'an - Hadits Terancam Neraka

Erhaje88

Oleh: G.K. Najib

Apakah judul diatas serius? Ya, serius. Judul diatas muncul setelah melihat bagaimana cara orang yang meneriakkan kembali ke Qur'an dan Hadits memahami dua pedoman umat Islam tersebut.



Umumnya mereka memahami al Quran dan al Hadits melalui terjemahan, satu - dua hadits tanpa memandang hadits lainnya, mengeneralisir maksud ayat atau Hadits dan cara pemahaman menyesatkan lainnya. Pemahaman seperti ini cenderung mengandalkan akal (logikanya) tanpa didasari ilmu pendukung. Model memahami semacam ini telah di peringatkan oleh Nabi Muhamad saw dengan ancaman neraka.

ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﺑِﺮَﺃْﻳِﻪِ ﻓَﻠْﻴَﺘَﺒَﻮَّﺃْ ﻣَﻘْﻌَﺪَﻩُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
“ Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka”

Makanya ulama aswaja seperti NU menentang keras ajakan kembali ke Quran Hadits secara langsung. Karenanya untuk menghindari memahami al Quran Hadits seperti diatas ulama salaf telah memberikan rambu-rambu bagi siapa saja yang ingin memahami dua rujukan utama umat Islam tersebut.

Rambu-rambu tersebut adalah seperangkat ilmu yang berkaitan dengan keduanya seperti gramatikal arab, sastra arab, asbabun nuzul, asbabul wurud, ushul fiqih, mustholah hadits, dan beragam ilmu lainnya. Hal ini sangat penting agar manusia tidak memahami al Quran dan al Hadits secara ngawur sesuai akalnya.

Meski demikian bukan berarti manusia tidak boleh mennggunakan akal pikirannya dalam beragama, justru nabi sendiri menganjurkan untuk menggunakan akal pikiran dalam beragama. Namun agar akal pikiran ini tidak liar maka perlu ilmu pengetahuan untuk mengendalikannya. Dalam kaitannya dengan memahami al Quran dan al Hadits maka perlu paham dulu ilmu yg berkaitan dengan keduanya. Maka tak mengherankan jika nabi selain menganjurkan untuk menggunakan akal juga berpesan untuk selalu mengikuti ulama, karena ulama'lah yg memiliki ilmu itu.

Jadi dalam memahami al Qur'an dan al Hadits kita perlu untuk menggunakan akal kita dan ilmunya para ulama agar pemahaman kita tidak ngawur.

Hal ini dapat kita lihat dari ribuan sahabat nabi yang menyaksikan al Quran turun dan mampu membacanya bahkan menghafalnya dengan baik namun hanya sebagian yang menjadi rujukan mengenai makna al Quran seperti Ibnu Abbas.

Maka tidak mengherankan jika ulama NU menganjurkan untuk mengikuti madzhab agar tak terjebak dalam kengawuran dalam memahami Qur'an dan Hadits. Jangan sampai hanya modal 1-2 ayat atau hadits sudah berani menyimpulkan masalah agama, apalagi dari terjemahan, jika demikian neraka ancamannya.

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018