Dari Qahwa, Qahve, Coffee Menjadi Kopi

Pada awal abad ke-16, nilai sipiritual kopi yang dimulai dari dunia tarekat mulai memudar dengan diperkenalkannya kedai kopi pertama di Mesir yang membuat semua orang bisa minum kapan saja. Kopi tak lagi hanya diseduh dan diminum dalam acara ritual doa di masjid, tetapi menjadi bagian kehidupan sosial masyarakat. Kedai kopi pun menawarkan kenikmatan yang lebih dalam minum kopi.







Gubernur Mesir Ahmed Pasha awalnya membangun kedai kopi sebagai proyek sosial, tetapi kemudian menuai popularitas politik. Pada pertengahan abad ke-17, dua saudagar Suriah Hakim dan Shams memperkenalkan kopi ke Istanbul dengan membuka kedai kopi pertama.

Namun, kopi sempat mengalami masa gelapnya di dunia Islam karena ditentang oleh sebagian ulama. Pada bulan Ramadhan 1539 M, kedai-kedai kopi dirazia dan ditutup untuk beberapa hari. Setelah kedai kopi memperoleh popularitas di Istanbul, Sultan Murad IV memerintahkan penutupan semua kedai kopi.

Namun, para pemilik kedai kopi sudah sempat meraih untung banyak. Setelah penikmat kopi dari kalangan terdidik dan bangsawan menentang pelarangan minum kopi, kopi kembali dijual bebas.

Setelah menjadi minuman spiritual para sufi di Timur Tengah, kopi kemudian memulai perjalanan sekulernya lebih jauh ke Eropa. Dari Mesir dan Afrika, kopi kemudian dibawa lagi sampai ke Venesia di Italia pada 1645, yang menjadi tempat pertama di Eropa yang membuka kedai kopi. Lima tahun kemudian, kopi dibawa ke Inggris oleh seorang saudagar Turki bernama Pasqua Rosee yang membuka kedai kopi di Gerorgeyard, Jalan Lombard, London.

Kata Arab qahwa untuk kopi kemudian diucapkan dengan lidah Turki menjadi kahve. Orang Italia yang mendengarnya mengucapkan caffe, disusul orang Inggris dengan coffee. Dan di Indonesia menjadi kopi. Karena itu, resmilah kopi menjadi gaya hidup orang seluruh dunia. Wilayah selatan Semenanjung Arabia memberikan iklim yang cocok untuk ta naman kopi. Pelabuhan-pelabuhan di Yaman, terutama Mocha, menjadi pintu ekspor utama kopi ke seluruh dunia.

Baca juga: Dibalik Pengaruh Budaya Dalam Secangkir Kopi

 Pada 1658 M, Rosee juga membuka kedai kopi bernama Sultaness Head di Cornhill, London. Perusahaan asuransi terkemuka Lloyd di London awalnya adalah kedai kopi bernama Edward Lloyds Coffee House.

Pada 1700 M, di London sudah berdiri 500 kedai kopi dan sekitar 3.000 kedai di seluruh Inggris. Kedai-kedai kopi di Inggris ini dikenal dengan nama universitas penny karena semua orang bisa ngobrol apa saja, termasuk mendengarkan ceramah orang-orang terkenal dan pemikir di tempat itu sambil menyeruput secangkir kopi seharga satu penny.

Cara meminum kopi di Eropa sebagian besar berdasarkan cara penyajian dari dunia Islam. Misalnya saja, diawali dengan memasak air, bubuk kopi, dan gula secara bersama-sama yang meninggalkan ampas kopi di dasar cangkir karena tak disaring. Namun, pada 1683, diperkenalkan cara baru menyajikan kopi yang kemudian menjadi favorit.

Minuman kopi jenis capuccino ditemukan oleh Marco d'Aviano, seorang pendeta dari Ordo Capuchin, yang ikut berperang melawan invasi pasukan Turki dalam pengepungan Wina pada 1683. Setelah pasukan Turki mundur akibat kekalahan yang diderita, warga Wina kemudian membuat minuman kopi dari karung-karung kopi yang ditinggalkan pasukan penyerbu itu.

Mereka menyadari bahwa minuman itu terlalu kuat dan kemudian mencampurnya dengan krim dan madu. Campuran itu membuat warna kopi berubah menjadi cokelat, seperti warna jubah yang dipakai para pendeta Ordo Capuchin. Warga Wina kemudian menamai minuman itu capuccino sebagai penghormatan atas ordo yang dianut Marco D Aviano. Sejak saat itu, capuccino dikenal sebagai jenis minuman kopi yang rasanya lembut.

Disarikan dari Mozaik Republika

0 Response to "Dari Qahwa, Qahve, Coffee Menjadi Kopi"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel