The Orator Dan The Kiai (Tanggapan Atas Tulisan DR. Moeflich Hasbullah)

Oleh: Semar Bodronoyo

Tulisan Dr. Moeflich Hasbullah berjudul, "Ustad Abdul Somad, The Phenomenon", menarik untuk dikritisi.
Tulisan saudara Moeflich sangat tendensius, analisisnya timpang, dan tidak akurat. Bagi saya, ini adalah pemikiran yang sewenang-wenang. (Tulisannya sudah dihapus di facebook di akun miliknya, Moeflich Hart.)

Ustaz Abdul Somad (panjimas)
Okelah, memuji seseorang sampai sundul langit, itu adalah hak saudara Moeflich. Misalnya, ia menulis:

"Lengkap sudah ulama yang satu ini (Abdul Somad-pen), dan sekali lagi, bukan mustahil inilah sosok pemimpin Islam Indonesia masa depan yang selama ini sulit dicari!!!".

Memuji seseorang melampaui batas yang layak diterimanya, jelas menjerumuskan.
Tapi yang lebih parah dari itu, saudara Moeflich menulis, "Bila dikelompokkan dengan ulama NU, mungkin ia (ustad Somad) sejalan dengan KH. Hasyim Muzadi yang ketegasannya sama.. Kiai Hasyim di jajaran ulama senior, dan ustad Somad yunior".

Pertanyaan saya, darimana Dr. Moeflich bisa membuat konklusi yang kacau ini? Kiai Hasyim dan ustad Somad adalah dua sosok yang tidak bisa disebandingkan, dan bersimpang jalan dalam prinsip, baik dalam hal ketegasan, leadership, kemampuan komunikasi, ideologi politik, dan dalam banyak hal lainnya.

Ibarat bunga, ustad Somad lagi mekar, dan ia sedang menikmati dikerumuni berbagai jenis kumbang, yang boleh jadi, sekedar ingin menghisap madunya. Ustadz Somad tumbuh di halaman rumah, masih domestik.
Sementara Kiai Hasyim Muzadi, ketokohannya telah melampaui skup nasional, tapi juga diakui di level internasional. Beliau aktif di World Confrance on Religion for Peace (WCPR), dan dalam Konferensi WCPR di Kyoto Jepang, beliau terpilih sebagai presiden WCPR.

Beliau juga menjabat sebagai sekjen Internasional Confrance for Islami Scolers (ICIS). Karena itulah, pasca tragedi WTC, Kiai Hasyim memiliki tugas berat menjelaskan Islam yg benar ke dunia internasional.

Saudara Moeflich juga membuat analisis yang fatal dengan membuat kategorisasi di dalam NU. Ia menulis. "Mungkin Abdul Somad lebih mewakili NU garis lurus bersama Gus Nur.. Kematangan emosinya Somad bahkan jauh lebih unggul dibandingkan dengan Ketua PBNU sendiri, Aqil Siraj".

Dengan segala hormat, saya harus mengatakan bahwa pemikiran ini serampangan.

Jelas sekali bahwa penulisnya tidak memahami NU. Istilah NU garis lurus itu tidak ada, baik secara struktural maupun kultural. Yang ada adalah bahwa khazanah pemikiran NU memang kaya corak, tidak homogen, tapi heterogen. Dan itu justru menambah akselerasi suburnya perkembangan pemikiran di NU.
Perlu juga diluruskan, bahwa Nur Sugik bukan Gus, yang di didalamnya mengalir darah kiai. Orang yang suka misuh "diancuk" dan "picek" ini amat sangat tidak mewakili NU, dan jauh dari kultur dan tradisi di dalam NU.

Saya semakin tidak habis pikir, ketika saudara Moeflich juga menyoroti sisi emosionalitas kiai Said Aqil Siraj dengan ustad Somad, di mana dalam pandangan dia, ustad Somad dianggap lebih unggul.

Variabel apa saja yg dipakai standar ukuran oleh saudara Moeflich? Kemarahan? Menangis? Perilaku labil? Atau yang lainnya?

Sekedar untuk diketahui, Kiai Said Aqil sudah kenyang difitnah. Kenyang berdiskusi soal agama dlm forum bahsul masail.
Sementara ustad Somad, masih muda, belum kenyang asam garam kehidupan.
Sementara Kiai Said, beliau adalah tokoh sentral di NU dan nasional, dan di dunia internasional, kiai Said memainkan peran penting dalam mengkampanyekan gagasan Islam moderat, Islam yang bergerak dari manhaj ukhuwah Islamiyyah, ukhuwah Wathaniyah, dan ukhuwah insaniyyah.

Banyak negara-negara Timur Tengah yang belajar Islam moderat khas Nusantara kepada NU. Tidak mengherankan jika beliau menjadi bagian penting inisiator prakarsa Family Peace Association, sebuah organisasi kemanusiaan internasional yang didukung oleh para pemuka agama, pemimpin politik, dan militer lintas negara.

Rupanya, tidak hanya Kiai Hasyim Muzadi dan kiai Said Aqil, dai kondang Kiai Zaenuddin MZ pun tidak luput dari analisis yang timpang ini.
Menurut Dr Moeflich, bahwa ustad Somad melebihi Kiai Zaenuddin. Menurutnya jika kiai Zaenuddin hanya fasih membacakan teks-teks Arab dalam dakwahnya, maka ustad Somad mampu menyebutkan sumber kitab klasik secara lancar.

Yang tidak dimengerti oleh penulis ini, bahwa Kiai Zaenuddin adalah santri Kiai Idham Cholid, tokoh besar NU pada zamannya. Darah kearifan seorang kiai mengalir kuat dalam diri kiai Zaenuddin. Dan tentu saja, Kiai Zaenuddin sangat memahami teks-teks kitab klasik.

Pada akhirnya, Dr. Moeflich merasa perlu untuk berkhayal, bahwa andai ustad Somad memimpin NU menggantikan Kiai said, dan jika itu terjadi, kata dia, citra NU di masyarakat muslim non NU akan jauh membaik yang selama ini seolah-olah selalu menempatkan diri harus selalu berseberangan dengan gairah keislaman yang sedang berkembang.
Sungguh, cara berpikir semacam ini sangat menyesatkan dan terbalik. Bukan NU yang berseberangan, tapi justru para pengusung khilafah dan kameradnyalah yang telah keluar dari kesepakatan kebangsaan dan menjadi khawarij.

Selain itu, perlu juga dipahami, bahwa untuk menjadi nakhoda di NU, tidak sekedar alim dan pandai, sebab jika cuma itu, di NU adalah gudangnya. Tapi Itu saja tidak cukup untuk menjadi ketua PBNU.

Kearifan, keteladanan, sikap tawadlu', leadership, adalah prasyarat lain yang harus dipenuhi. Dan itu semua akan diuji secara Ketat oleh para Masyayikh NU di level Dewan Syuriyah, melalui forum ahlul halli wal aqdi. Beliau itulah yang akan mengusulkan dalam forum muktamar untuk dicalonkan sebagai ketua PBNU.

Terakhir saya ingin mengatakan, bahwa sebagai penceramah dan dai, ustad Somad adalah seorang orator yang mumpuni. Dia tetaplah terhormat pada posisinya.
Dan di luar semua itu, para kiai NU yang disebut di atas, selain penceramah, dai, seorang orator, beliau semua adalah pemimpin umat yg memiliki kearifan sebagai seorang kiai.

0 Response to "The Orator Dan The Kiai (Tanggapan Atas Tulisan DR. Moeflich Hasbullah)"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel