NU - Muhammadiyyah, Dua Gerbong Berbeda Yang Terangkai Dalam Kereta Yang Sama

Oleh: Moch Boerhan

NU dan Muhammadiyah diibaratkan gerbong kereta. Warna eksterior atau interiornya berbeda, namun konstruksi utamanya tetaplah sama dan terangkai pada lajur rel yang sama.
Ada beberapa praktek cabang ritual ibadah yang berbeda, namun pokoknya tetaplah sama. Keduanya terangkai erat dalam satu rel kebangsaan yang sama, yakni NKRI dan Pancasilanya.


Penumpang gelap yang menginta tentu saja, lazimnya sebuah gerbong kereta, terkadang ada saja penumpang gelapnya.

Jika di NU ada NU GL (garis Lurus) sebagai bumbu cerita. Ada juga kaum Asrabi (aswaja rasa wahabi) yang praktek ritualnya sama dengan NU tapi gerakan politiknya mendukung Wahabi ISIS atau Khilafah HTI).

Di Muhammadiyah pun sama, ada infiltrasi yang masif dari ex HTI maupun kaum Salafi Wahabi yang mencoba menguasai struktur kepengurusannya.

Mereka berusaha mengubah arah NU dan Muhammadiyah agar keluar dari rel NKRI dan Pancasila. Jika Daulah Islamiyah ala ISIS atau Khilafah ala HTI terlalu keras, digunakan istilah NKRI bersyariah ala FPI dan GNPF MUI yang sebetulnya beti (beda tipis) alias idem saja sebagai perongrong NKRI.

Kadang juga penumpang gelap itu mencoba membenturkannya dengan menggoreng celah perbedaan situasional. Namun mainstream NU dan Muhammadiyah tetap dijiwai fikrah aswaja, yang moderat dan toleran dengan kebhinnekaan, meneguhkan semangat kebangsaan. (Karna itu saya mencoba menahan diri untuk tidak reaktif terhadapnya).

Komitmen NU dan Muhammadiyah terhadap kebangsaan (nasionalisme/ cinta tanah air) tercermin pada Banser dan Kokam saat Presiden Joko Widodo bertanya:

"SAYA INGIN BERTANYA KEPADA SAUDARA-SAUDARA SEMUANYA, TOLONG DIJAWAB. ADAKAH SEMANGAT KEBANGSAAN DI HATIMU? ADAKAH JIWA KEINDONESIAAN DI HATIMU? ADAKAH KEKOKOHAN NKRI DI JIWAMU?"

Mereka kompak menjawab dengan tegas tanpa ragu :

“SEMANGAT KEBANGSAAN , JIWA KE INDONESIAAN DAN KEKOKOHAN NKRI ADA DI HATI DAN JIWA KAMI”

Banser dan Kokam mewarisi pendahulunya yg berandil besar melahirkan NKRI. Kini mereka menegaskan komitmennya untuk menjaga warisan itu agar tetap lestari bagi generasi selanjutnya.

Baca berita dibawah ini:
http://nasional.kompas.com/read/2017/12/16/20105421/hadiri-apel-kebangsaan-jokowi-minta-banser-dan-kokam-rawat-kebhinekaan

0 Response to "NU - Muhammadiyyah, Dua Gerbong Berbeda Yang Terangkai Dalam Kereta Yang Sama"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel