Kemarahan Felix Siauw Pasca Aksi Bela Palestina di Monas

Erhaje88

Oleh: Musoffa Irfan 


Felix merasa marah, kesal, kecewa, gundah, campur aduk jadi satu.
Apa pasal? Tak lain dan tak bukan, lantaran ia gagal menyampaikan orasi di hadapan para penggemarnya yang sejak awal sudah berada di barisan paling depan.

Bagi orang yang merasa telah "menjadi besar", tak mendapatkan panggung bisa bermakna "tak dihargai", dan itu jelas mimpi buruk bagi seorang Felix.


Dalam akun Facebook-nya, Felix curhat: "Tiba-tiba Kyai Cholil Nafis, MC aksi maju dan minta panggung disterilkan, semua mundur kecuali pembaca ikrar dan pemuda, termasuk saya tetap di tempat awal", tulis Felix.

"Lalu datanglah Kyai Marsudi Suhud, meminta saya mundur disertai isyarat tangan sambil mendorong...
Saya heran".

"... Para asatidz lain yang melihat, sambil marah menghampiri saya. Mereka tak tega saya diminta mundur dengan cara seperti itu..",
tegas Felix.

Dari paragraf demi paragraf, Felix sebenarnya bermaksud merangkai sebuah kronologi, di mana telah terjadi "penzaliman" atas dirinya. Felix, tampaknya sedang melakukan konstruksi sosial, yakni membentuk opini publik sesuai citra yang ia inginkan.

Disadari atau tidak, tatkala Felix menyebut bahwa para asatidz marah atas perlakuan yang ia terima, maka Felix secara implisit ingin mengatakan, betapa tidak manusiawinya perlakuan yang ia terima.

Maka dengan begitu, kemarahan dia, secara apik disembunyikan, dan meski ia sendiri yang sebenarnya marah, namun seolah-olah dia menerima dengan lapang dada, dan justru orang lain yangg marah dan tidak terima atas apa yang menimpa dirinya.

Pertiyiinnyi: Seberapa kasarkah dorongan Kyai Marsudi Suhud terhadap felix, sehingga para ustadz yang ada di situ merasa perlu untuk marah? Apakah posisi Felix sudah pada level "dijengkak-kan" oleh Kyai Marsudi?

Terus terang, saya meragukan itu. Boleh jadi, Felix saja yang terlalu lebay dan cemen...

Pertanyaan besarnya adalah: Dalam kapasitas apa Felix naik dan berada di atas panggung? Bukankah ia tahu bahwa Aksi Bela Palestina (ABP) adalah aksi yang disponsori oleh MUI bersama ormas Islam?

Mestinya Felix sadar bahwa ia bukan representasi dari ormas manapun, karena HTI bukan lagi bagian dari ormas Islam yang diakui di bumi Nusantara.

Sebagai propagandis HTI, Felix juga harus tahu diri, dan tidak memaksakan untuk naik ke atas mimbar. Cukuplah dia berada di bawah saja bersama kerumunan massa. Itu lebih baik. Bukankah begitu kawan...???

Terlebih lagi, sudah jadi rahasia umum bahwa Felix adalah anti nasionalisme, pernah menyatakan talak tiga terhadap nasionalisme, termasuk juga nasionalisme Palestina.

Tahun 2015 Felix pernah menulis: "Berhati-hatilah dalam perjuangan, jangan sampai niat kita membantu saudara kita yang tertindas di Palestina justru menjadi sesuatu yang buruk karena kita tidak mengerti duduk permasalahan dan akhirnya malah mendukung nasionalisme Palestina".

Jadi jelas dan tegas, bahwa Felix tidak pernah mendukung kemerdekaan Palestina yang didasarkan pada ikatan nasionalisme, atau negara kebangsaan.

Jika Felix mendapatkan panggung, bisa jadi akan terjadi pembelokan materi aksi dari apa yg telah disepakati antara ormas Islam dan MUI.

Kekhawatiran ini cukup beralasan, sebab saat Ustadz Bahtiar Nasir melakukan orasi, tiba-tiba saja ia menuntut pembubaran MK. Ini jelas sudah keluar dari kesepakatan.

Tampaknya, Felix dan gerombolan HTI akan terus berusaha mencari panggung untuk bermain kuda lumping...

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

1 comment:

  1. Wkwkwwk ngarang bebas nih yang nulis. Salah banget nih mau ngarahin framing opini pembaca. Ustaz Felix tidak seperti yang digambarkan di tulisanmu, min. Salah banget dah. Asal Anda tau ya min, umat Islam zaman now udah ga mempan dibeginiin. Kami semua insyaallah kuat, solid, bersatu. Allahu Akbar!

    ReplyDelete

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com: