Jangkrik di Tubuh NU

Oleh: Nurul Huda HM*

Mengapa seorang Ulama atau Kiai Nahdliyyin bisa berbeda dengan Ulama Nahdhiyyin lainnya, padahal sanad dan marâji' dalam keilmuan agamanya sama?

Pertanyaan ini bila dijawab bisa menimbulkan fitnah, setidaknya ketersinggungan salah satu pihak. Tapi jika tak dijawab akan ada saja provokator yang memanfa'atkan kondisi ini untuk saling dibenturkan.


Secara historis sebenarnya "perbedaan" di kalangan Ulama Nahdhiyyah bukan barang baru. Ia merupakan kelanjutan dari ikhtilâf baina al-aimmah sejak lama sekali. Pesan-pesan kenabian sudah banyak mengantisipasi hal ini, lalu 'ulama membuat sebuah kaedah: al-khurûj min al-khilâf mustahab (keluar dari perbedaan itu sesuatu yang disukai). Maksudnya tentu saja bukan "terpaksa" harus mengikuti yang lain, tapi memenangkan hati dengan tidak memperuncing perbedaan itu sendiri.

Tapi provokator kerap hadir. Mereka tak nyaman menyaksikan ukhuwwah. Benang persaudaraan bagi mereka hanya bisa terpintal dalam kelompoknya saja, yaitu kelompok yang satu pendapat. Makna al-jama'ah dalam terminologi Ahli Sunnah Wal Jama'ah disempitkan hanya dalam satu jalan yang diyakini oleh mereka sebagai "paling lurus". Di luar kelompok mereka dianggap sesat, bid'ah, liberal dan bahkan kâfir.

Seharusnya bisa saja mereka membentuk kelompok sendiri, tanpa harus melabelkan istilah Ahli Sunnah wal Jama'ah, tapi sepertinya mereka sadara betul bahwa nama ahli sunnah wal jama'ah sudah menancap kuat dalam persatuan umat yang mendunia. Maka saat seminar di Chechnya belum lama ini, mereka dikeluarkan dari kesatuan ahli sunnah wal jama'ah. Mereka meradang, tidak terima. Padahal mereka sendirilah yang telah mengeluarkan sebagian besar kita (utamanya penganut asy'ariyah dan maturidiyah).

Dlam perspektif Nahdhatul 'Ulama (NU), sebagian aksi provokator semacam ini saya pikir bisa disebut sebagai "beramal nahdhiyah namun berfikroh wahabiyah". Jumlahnya tidak banyak, tapi seperti suara jangkrik yang memecah kesunyian malam, bising sekali.

Anda boleh tidak sependapat, tak mengapa, karena usia perbedaan jauh lebih tua ketimbang keberadaan kita di dunia ini. Saat belum lahir, perbedaan sudah ada. Hal utama yang harus kita lakukan dengan sadar adalah sikap menghargai perbedaan itu, bukan berteriak lantang dengan suara merendahkan dan atau menghinakan. dan pilihan saya atas sikap itu adalah diam namun kritis; diam untuk menenangkan dan tetap kritis untuk mengingatkan.

*Alumni Pesantren Al-falah, Ploso, Kediri

0 Response to "Jangkrik di Tubuh NU"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel