Belajar Dari Kuburan

Erhaje88

Oleh: Husein Muhammad

K.H. Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus selalu tampil memukau, di manapun dan dalam momentum apapun. Dalam mauidloh-nya pada Haul Gus Dur, di Ciganjur, 22/12/2017, kemarin juga membuat hadirin seperti terhipnotis. Tak ada kata yang disampaikannya kecuali memukau sekaligus mencerahkan.

PHOTO: Sewindu Haul Gus Dur Semua Demi Bangsa dan Negara


Gus Mus selain bercerita lagi tentang pengalamannya bersama Gus Dur saat di Mesir, beliau juga berkisah tentang kegemaran Gus Dur mengunjungi kuburan, bukan hanya kuburan para wali dan ulama, namun juga kuburan orang-orang biasa. Ia tak peduli dibilang sesat, kafir, musyrik dan sejenisnya oleh mereka yang membencinya dan tak cukup mendalam pemahaman keagamaannya. Bagi Gus Dur, kata Gus Mus, mengunjungi kuburan itu mendamaikan hati. Para penghuni kuburan itu diam saja, tak suka ngomel, tak suka mencaci maki orang, tak menggunjing. "Mereka tak punya kepentingan apa-apa lagi".

Kuburan juga mengajari manusia untuk menjadi rendah hati. Sebab semua manusia akan kembali menjadi tanah sebagaimana darinya ia diciptakan.

ﻛﻠﻜﻢ ﻣﻦ ﺍﺩﻡ ﻭﺍﺩﻡ ﻣﻦ ﺗﺮﺍﺏ "Kalian semua dari Adam dan Adam diciptakan dari tanah".

Berbeda dengan Iblis. Ia angkuh dan sombong. Ia merasa lebih unggul dari Adam. Iblis diciptakan dari api. Dan api itu berkarakter panas dan menyala-nyala.

Mengunjungi kuburan juga menyadarkan akan kematian yang niscaya akan menjemput setiap yang hidup. Dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap embusan nafas, setiap gerak tubuhnya dan setiap ucapannya selama hidup. Kematian itu mengajarkan bahwa apa yang dimiliki dan dicintai manusia dalam hidupnya akan ditinggalkan dan tak berharga lagi.
Gus Mus sering mengatakan:
ﻛﻔﻰ ﺑﺎﻟﻤﻮﺕ ﻭﺍﻋﻈﺎ "Cukuplah kematian itu sebagai bahan renungan/pelajaran yang berharga".
Jika Gus Dur menjalani hidupnya dengan bersahaja, menerima apa adanya (ugahari) dan tak punya apa-apa, maka itu karena ia "belajar dari kuburan".

Gus Mus mengkritik orang yang bergembira dan tertawa-tawa saat Haul. Moment itu seyogyanya menjadi saat "muhasabah", perenungan (koreksi) diri dan memohon ampunan untuk diri dan mereka yang telah pulang. Allah mengatakan:

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺟَﺎﺀُﻭﺍ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻫِﻢْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﻟِﺈِﺧْﻮَﺍﻧِﻦَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺳَﺒَﻘُﻮﻧَﺎ ﺑِﺎﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥِ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺠْﻌَﻞْ ﻓِﻲ ﻗُﻠُﻮﺑِﻨَﺎ ﻏِﻠًّﺎ ﻟِﻠَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧَّﻚَ ﺭَﺀُﻭﻑٌ ﺭَﺣِﻴﻢٌ
"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, berdoa: "wahai Tuhan kami, berilah ampunan kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".

Crb. 23.12.17
(Dlm perjalanan pulang dari Haul Gus Dur).

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018