Bagaimana Sikap Kita Terhadap Wali atau Sufi Kontroversial - Nyeleneh?

Erhaje88

Kita mengenal adanya guru-guru yang pernyataan atau sebagian perkataannya tampak kontroversial seperti Abu Yazid, Al-Hallaj, sebagian tulisan Imam Al-Ghazali, Ibnul Arabi, Abdul Karim Al-Jili, Rumi, Hamzah Fansuri, Syekh Siti Jenar, Syekh Samman, Syekh Mutamakkin, atau orang-orang saleh lainnya.

Beberapa kalimat ini mungkin menjadi “masalah”, yaitu “subhâni ”, “anal haq ”, “mâ fil jubbah illallâh ”. Berikut ini adalah kutipkan syair Hamzah Fansuri:

(Habib Syaikhon bin Mustofha Al-Bahar)

"Ombaknya zahir lautnya batin
Keduanya wahid tiada berlain
Menjadi tawfan hujan dan angin
Wahid -nya juga harakat sakin,"
(Lihat edisi teks Drewes & Brakel, The Poems of Hamzah Fansoeri, 1986: 126).

" Kuntu kanzan mulanya nyata
Hakikat ombak di sana ada
Adanya itu tiada bernama
Majnun dan Layla ada di sana,"
(Lihat edisi teks Drewes & Brakel, The Poems of Hamzah Fansoeri, 1986: 128).

"Hamzah Fansuri di dalam Mekkah
Mencari Tuhan di Baitul Ka‘bah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah
Akhirnya ditemukan pada di dalam rumah.
"

Sebagai orang awam kita sebaiknya tidak perlu mengambil posisi dukungan atau berseberangan atas pernyataan “kontroversial” para sufi tersebut. Lain soal untuk kepentingan ilmiah. Kepentingan ilmiah harus terus berjalan. Untuk kepentingan ilmiah bisa saja kita mengkaji pernyataan dan ekspresi verbal mereka menurut tatacara ilmiah.

Tetapi sebagai orang yang datang kemudian, sebaiknya kita menghormati mereka sebagai guru spiritual atau sebagai manusia dengan penjelajahan luar biasa dalam “menemukan” Allah sang pencipta. Hal ini menunjukkan rasa rindu mereka terhadap Dzat hakiki.

Penghormatan terhadap mereka sebaiknya yang lebih ditonjolkan. Hal ini ditunjukkan oleh Imam An-Nawawi ketika ditanya pandangannya soal paham kontroversial Ibnul Arabi yang hidup seabad sebelumnya.

ﻭﺃﻣﺎ ﺍﺣﺘﺮﺍﻡ ﺍﻟﻤﺎﺿﻰ ﻓﺎﻟﻤﺮﺍﺩ ﻣﻦ ﺗﻘﺪﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻭﺍﻷﻭﻟﻴﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻭﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﻌﺎﻣﻠﻴﻦ ﻭﺍﺣﺘﺮﺍﻣﻬﻢ ﺃﻻ ﻳﺬﻛﺮﻭﺍ ﺇﻻ ﺑﺈﺣﺴﺎﻥ ﻭﺃﻥ ﻳﻠﺘﻤﺲ ﻟﻬﻢ ﺃﺣﺴﻦ ﺍﻟﻤﺬﺍﻫﺐ ﻭﻳﺮﺣﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻨﻮﺍﻭﻯ ﻟﻤﺎ ﺳﺌﻞ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻌﺮﺑﻰ ﺍﻟﺤﺎﺗﻤﻰ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻛﻼﻡ ﺻﻮﻓﻰ ﺗﻠﻚ ﺃﻣﺔ ﻗﺪ ﺧﻠﺖ ﻟﻬﺎ ﻣﺎ ﻛﺴﺒﺖ ﻭﻟﻜﻢ ﻣﺎ ﻛﺴﺒﺘﻢ ﻭﻻ ﺗﺴﺌﻠﻮﻥ ﻋﻤﺎ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻤﻠﻮﻥ ﻭﻣﻦ ﺍﺣﺘﺮﺍﻣﻬﻢ ﺍﻻﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻭﺍﻟﺘﺮﺿﻰ ﻋﻨﻬﻢ ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺟَﺎﺀُﻭﺍ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻫِﻢْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﻟِﺈِﺧْﻮَﺍﻧِﻨَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺳَﺒَﻘُﻮﻧَﺎ ﺑِﺎﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥِ

“Adapun bentuk penghormatan (kita) terhadap orang terdahulu–mereka yang dimaksud adalah para sahabat rasul, tabi‘in, para wali, orang-orang saleh, dan ulama–adalah hanya menyebut kebaikan mereka dan mengambil madzhab (jalan atau pandangan) terbaik dari mereka. Imam An-Nawawi–Allah yarhamuh–ketika ditanya sikapnya terhadap pandangan Ibnul Arabi (yang wafat lebih dulu) menjawab dengan bijak, ‘Perkataan (Ibnul Arabi) adalah perkataan kalangan sufi. Ia termasuk umat terdahulu. Mereka akan menerima jerih payah mereka. Begitu juga kalian. Kalian akan menerima jerih payah kalian. Kalian takkan diminta pertanggungjawaban atas jerih payah mereka.’ Salah satu bentuk penghormatan (kita) untuk mereka adalah permohonan ampunan dan ridha Allah untuk mereka. Allah berfirman, ‘Orang-orang beriman yang datang sepeninggal mereka berdoa, ‘Tuhan kami, ampunilah kami dan orang-orang beriman yang telah mendahului kami,’’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah Al-Hasani, Al-Futuhatul Ilahiyyah fi Syarhil Mabahitsil Ashliyyah, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun, halaman 263).

Kita hendaknya berhati-hati sekali dalam membahas kembali karya atau pernyataan kontroversial mereka agar kita tidak menaruh su’uzhan terhadap orang-orang mulia yang telah mendahului kita. Wallahu A'lam Bis-shawab
Semoga bermanfaat...
(nu online)

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018