Abu Jahal Juga Pakai Gamis, Karl Marx Pelihara Jenggot

Oleh: Helmi Hidayat

Sebuah video beredar di banyak grup Whatsapp dan Facebook berisi rekaman seorang ustaz menjelek-jelekkan nama Pondok Modern Darussalam Gontor . Ia terlihat mengenakan kopiah hitam dan baju koko putih bergaris tengah hitam. Di ujung kanan video itu terlihat logo satu jari mengacung dengan satu kata ''Tauhid''.
Begini kata si ustaz:

-1:32

''Tapi di Gontor, mereka ... ustaznya dan santrinya mengenakan dasi pakai jas. Jadi apa, minder peradaban. Malu memakai busana rasulnya, malu memakan makanan rasulnya, Aneh kan pak? ...''

Setelah itu si ustaz berteriak-teriak lantang bahwa jas dan dasi adalah pakaian orang kafir di Amerika dan Eropa. Buat apa mengenakan pakaian orang kafir, teriaknya. Dia juga menuduh alumni Gontor mengkrtiknya lantaran dia memakai gamis -- pakaian orang Arab di banyak negara Timur Tengah -- dan memelihara jenggot.

Saya semula malas meladeni orang berwawasan sempit ini. Kejengkelan saya sudah cukup terwakili oleh kemarahan kawan saya, Ismail Barmansyah, yang di grup WA mencak-mencak mencari si ustaz ini untuk beradu argumentasi. Tapi, berhubung banyak sekali orang bertanya pada saya soal ini, maka saya tulis juga status ini; bukan untuk membabi-buta membela jas dan dasi, tapi untuk menyebarluaskan rasionalitas berpikir dan menggempur kebodohan.

Mari kita mulai dengan catatan sejarah bahwa Abu Jahal, Abu Lahab, dan banyak tokoh kafir Quraisy yang tewas dalam perang memusuhi Islam juga mengenakan gamis -- bahasa Arab yang berarti baju. Gamis kebanyakan memanjang dari leher sampai tumit, berwarna putih, biasanya berlengan panjang dan tanpa kerah. Kok bisa para kafir itu memakai gamis? Ya karena mereka orang Arab jadi wajar saja mereka memakai baju Arab. Nabi Muhammad SAW juga orang Arab. Jadi wajar juga beliau memakai gamis alias baju Arab.

Saya belum pernah menemukan hadits yang intinya Rasulullah SAW memerintahkan semua umat Islam di seluruh dunia mengenakan gamis sesuai definisi tadi. Si ustaz mungkin kurang jalan-jalan ke Qatar, Uni Emirat Arab, Lebanon, dan negara-negara Arab lainnya di Timur Tengah terutama Palestina. Di sana, orang-orang Arab yang beragama Kristen juga memakai gamis.

Tentu saja saya dan banyak sekali alumni Gontor tidak antigamis. Tidak. Abu Bakar Ba'asyir lebih sering pakai gamis. Baju panjang ini kami rasakan nikmat dipakai untuk shalat atau berkhutbah. Tapi, tentu saja kami tidak memakainya saat masuk kantor dan aktivitas lain karena baju tradisional kami bukanlah gamis itu. Saat kuliah di Inggris, saya belum pernah melihat teman-teman saya dari negara-negara Arab, termasuk Arab Saudi, mengenakan gamis saat kuliah. Mereka lebih ceria memakai celana jeans, baju kotak-kotak, dan di ajang makan malam mereka pakai jas dan dasi!

Lucunya, si ustaz tadi dalam video itu juga berceramah tidak pakai gamis, tapi pakai baju Koko -- baju tradisioal China yang kerap dipakai Jackie Chan dalam beberapa fllmnya.

Bagaimana dengan jenggot? Si ustaz ini salah besar jika menuduh alumni Gontor mengkritik dia  berjenggot. Dagu ya dagu dia, jenggot ya jenggot dia, apa urusan alumni Gontor mengkritik dia berjenggot? Terlalu banyak untuk disebutkan di sini kawan-kawan saya lulusan Gontor berjenggot panjang dan melaksanakan tradisi ''khuruj 40 hari'' sampai menembus dusun-dusun di Bangladesh dan India. Rasululah SAW berjenggot dan karena itu baik sekali jika umatnya mengikuti sunnah beliau.

Namun demikian, mengikuti sunnah Nabi hendaknya tidak membuat kita boleh mencerca atau mengkritik orang tak berjenggot. Berjenggot dan tak berjenggot, berambut gondrong atau botak, itu semua adalah hak asasi manusia yang tak boleh dihina. Apalagi jenggot juga sama sekali bukan monopoli umat Islam. Tokoh komunisme dunia Karl Marx dan Frederich Engels, atau tokoh Yahudi Theodor Herzl, serta uskup sekaligus tokoh Kristen Ortodoks Yunani Yerusalem, Atallah Hanna, juga pada memelihara jenggot panjang, bahkan lebih panjang dibanding jenggot Habib Rizieq.

Jadi, jika Allah membiarkan jenggot tumbuh lebat di dagu orang di luar Islam dan gamis juga dipakai bareng-bareng oleh saudara-saudara kita yang beragama Kristen, Yahudi, bahkan Budha di Tiongkok sana, buat apa kita meributkan gamis dan jenggot?

Jika kita merasa kekurangan bahan untuk ceramah, bacalah buku. Terlalu banyak tema dalam Islam yang harus kita sampaikan ketimbang meributkan gamis, jenggot, atau memperkarakan palang merah dan bulan sabit.

Sampaikan bagaimana sebaiknya etos kerja dalam Islam bisa memompa semangat pembangunan ekonomi di Indonesia, atau bagaimana akhlak mulia Nabi SAW bisa mempersatukan umat-umat lintas agama saat beliau memimpin Madinah. Itu akan lebih baik dibanding Anda meributkan gamis dan jenggot!

0 Response to "Abu Jahal Juga Pakai Gamis, Karl Marx Pelihara Jenggot"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel