Membedar Syair Burdah (2)

Oleh: Kuswaidi Syafiie


ﻓﻤﺎ ﻟﻌﻴﻨﻴﻚ ﺇﻥ ﻗﻠﺖ ﺍﻛﻔﻔﺎ ﻫﻤﺘﺎ
ﻭﻣﺎ ﻟﻘﻠﺒﻚ ﺇﻥ ﻗﻠﺖ ﺍﺳﺘﻔﻖ ﻳﻬﻢ

"Ada apa dengan kedua matamu? Jika kau katakan pada keduanya, 'Tahanlah'. Ternyata ambrol jua itu airmata. Dan apa yang terjadi pada hatimu? Jika kau bilang padanya, 'Sadarlah'. Ternyata tetap saja bergejolak ia"




Apa yang sesungguhnya menjadikan seorang pecinta atau salik menangis sehingga airmatanya bercampur dengan darah? Ingatan pada tetangga yang ada di Dzi Salam? Hembusan angin dari kota Kazhimah? Kilat yang menyambar dari gunung Idhami di malam yang kelam? Atau ada alasan yang lain lagi?

Ah, itu semua hanyalah sarana yang telah bermetamorfosis menjadi kendaraan-kendaraan cinta. Andaikan tak ada gejolak cinta, tentu kendaraan-kendaraan itu akan teronggok begitu saja, menggigil kesepian dan tak terhiraukan.

Andaikan hanya karena persoalan tentang kendaraan-kendaraan itu, tentu hal tersebut tidak akan pernah menjadikan seseorang menangis dengan ratapan yang begitu dalam dan mengiris hati. Terlampau bodoh dan cengeng dia yang membuang airmatanya hanya karena perkara yang terlampau sepele itu.

Pasti karena ada alasan yang lain. Itulah rindu dan cinta yang memiliki kekuatan sangat tangguh untuk menumpahkan airmata, menjadikan hati bergejolak dan membara, merubah rute nasib menjadi tak tentu rimbanya.
Dan tatkala kiblat dari rindu dan cinta itu tak lain merupakan asal-usul segala sesuatu, akhir perjalanan semua yang ada, Allah Ta'ala, maka berbahagialah siapa pun yang sudah dikalahkan dan bahkan dikoyak-moyak oleh rindu dan cinta yang senantiasa membahana dan selalu siap menelan korbannya.

ﺍﻳﺤﺴﺐ ﺍﻟﺼﺐ ﺍﻥ ﺍﻟﺤﺐ ﻣﻨﻜﺘﻢ
ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﻣﻨﺴﺠﻢ ﻣﻨﻪ ﻭ ﻣﻀﻄﺮﻡ
"Adakah seorang pecinta itu mengira bahwa cintanya bisa tersembunyi di antara derai airmata dan hati yang membara?"


Idiom "ash-shabbu" sebenarnya secara leterlek bermakna "al-iraqah" atau menuang. Tapi dalam konteks bait Burdah di atas, kata itu berarti seorang pecinta yang sempurna. Kenapa terjadi migrasi makna? Karena atas nama gejolak dan getar cinta dia senantiasa menuangkan airmatanya.

Tentu dalam konteks cinta, airmata itu merupakan realisasi dari kebahagiaan paling puncak yang tidak terbatasi oleh apa pun, termasuk tak bisa dipagari oleh taring kepedihan. Karena dalam gorong-gorong cinta, bahkan penderitaan pun bisa dalam sekejap mata bermetamorfosis menjadi kebahagian. Pagar yang membatasi di antara keduanya telah roboh dan hanyut oleh banjir cinta.

Derai airmata dan hati yang membara: yang satu empiris, sedang yang satunya lagi abstrak. Tapi yakinlah bahwa yang empiris itu, derai airmata, bersumber dari sesuatu yang abstrak yang tidak menempati ruang mana pun di dalam jasad manusia. Silahkan dokter bedah mempreteli tubuh seorang pecinta secara detail dan teliti, pasti dia tidak akan menemukan hati yang membara itu. Yang akan ditemukan hanyalah segumpal darah, hati yang sama antara yang dimiliki seorang pecinta dengan hati yang terkandung dalam diri seseorang yang bangsat.

Karena cinta itu merupakan salah satu sifat hadiratNya, maka sangatlah wajar kalau manusia sebagai wadah yang terlampau nisbi dan temporal itu tidak memiliki kesanggupan untuk membendung dan menyembunyikannya.

Termasuk juga para pecinta Ilahi. Mereka tak sanggup menyembunyikan aura cinta yang transenden itu. Ke mana-mana mereka kemudian menyenandungkan kasih-sayangNya, dengan kata-kata atau tindakan, atas nama cinta Ilahiat.

Tentu saja kecuali para wali mastur yang memang dengan sengaja disembunyikan oleh Allah Ta'ala itu sendiri. Mereka menikmati cinta yang sangat sublim, tanpa direcoki oleh pengetahuan dan penilaian makhluk, dengan asal-usul segala cinta yang tak lain adalah hadiratNya semata. (Bersambung)

Membedar Syair Burdah (1)

0 Response to "Membedar Syair Burdah (2)"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel