Imajinasi Kepahlawanan

Erhaje88

Oleh: Udji Kayang Aditya Supriyanto

Kepahlawanan itu keterberian. Meskipun peristiwanya sendiri masih problematis, G30S telah mencetak sepuluh orang bergelar Pahlawan Revolusi. Mereka itu Jenderal Ahmad Yani, Letjen R. Suprapto, Letjen M.T. Haryono, Letjen Siswondo Parman, Mayjen D.I. Pandjaitan, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, Kapten Pierre Tendean, Brigjen Katamso Darmokusumo, AIP K.S. Tubun, dan Kolonel R. Sugiono. Kita mengenal nama-nama itu sejak menjalani sekolah. Mereka itulah kesepuluh "pahlawan" yang mempulerkan gelar anumerta. Gelar itu diberikan pada seseorang yang telah meninggal, atas segala jasa-jasanya untuk negeri. Dalam peristiwa G30S, sepuluh orang itu sekadar diposisikan sebagai korban. Kematianlah yang menjadikan mereka pahlawan.

Film Gundala Putra Petir
(Film Gundala Putra Petir, infindonesia.blogspot.com)

Kita lalu teringat sekutip kalimat Iwan Simatupang di novel 
Ziarah (1969), "pahlawan yang sebenarnya adalah pahlawan yang sudah mati." Iwan seakan menganggap kehidupan tak cukup pantas menjadikan seseorang pahlawan. Seseorang belum saatnya menjadi pahlawan ketika ia masih hidup. Kehidupan memungkinkan seseorang berpindah haluan, dan menjauh dari laku kepahlawanan. Misalnya, yang dulunya aktivis mahasiswa penentang rezim, hari ini justru menjadi pejabat yang kontraproduktif terhadap pemberantasan korupsi. Seandainya ia meninggal saja saat jadi aktivis mahasiswa, ia pasti dikenal dan dikenang sebagai pahlawan. Namun, kehidupan sudah menganulir kepahlawanannya, dan jika ia meninggal hari ini, gelar pahlawan tidak pantas lagi ia dapatkan. "Pahlawan hanya ada di jalan-jalan raya, di hari-hari nasional."

Pandangan Iwan tak serta-merta disepakati. Ada pula yang nekat menyebut seseorang sebagai pahlawan tanpa menunggu legitimasi kematian. Andy F. Noya misalnya, amat sering menganugerahi seseorang yang masih hidup dengan gelar pahlawan. Penganugerahan itu bahkan jadi program tahunan, sejak 2009 hingga sekarang. Andy mungkin tetap canggung menyebut seseorang yang masih hidup sebagai pahlawan, karenanya ia memilih istilah yang keminggris, yakni Kick Andy Heroes. Andy menulis, "di tengah kelangkaan sikap dan sifat saling peduli di zaman ini, Kick Andy menemukan sejumlah pejuang kehidupan yang sangat inspiratif. Pejuang-pejuang yang penuh semangat kepahlawanan, berani melawan nasib, rela berkorban tanpa pamrih, untuk kepentingan orang lain."

Andy menunjuk "pejuang kehidupan" sebagai pahlawan, alih-alih mereka yang berani mengakhiri hidupnya demi orang lain, demi negeri, demi apa saja yang ia yakini. Pahlawan bagi Andy cukup dengan memenuhi beberapa kriteria: berkarya nyata di masyarakat minimal tiga tahun, karyanya merupakan pengabdian yang memberi manfaat positif pada lingkungan atau kelompok masyarakat, dan tentu saja pernah menjadi narasumber dalam program Kick Andy. Kriteria itu sebetulnya cukup sederhana, dan kepahlawanan yang hadir pun barangkali tak seheroik yang kita kira. Andy menyadari perannya sekadar untuk mengangkat ke hadapan publik pengabdian-pengabdian kecil dari berbagai daerah di Indonesia. Kick Andy Heroes tak berlagak menjadi Hadiah Nobel Perdamaian ala Indonesia. Andy paham risikonya.

Aung San Suu Kyi, penerima Hadiah Nobel Perdamaian 1991, ramai dikritik gara-gara hanya diam saja melihat krisis kemanusiaan di Rohingnya. Suu Kyi jadi contoh paling aktual ihwal risiko penganugerahan gelar kepahlawanan bagi mereka yang hidup. Sedangkan, untuk menganugerahi seseorang dalam kematiannya, dalam keutuhannya, kita pun enggan menanti. Maka, penciptaan pahlawan-pahlawan imajiner terjadi. Pelaku utamanya jelas, DC Comics, yang memperkenalkan ke kita pahlawan-pahlawan tangguh seperti Superman, Batman, The Flash, Wonder Woman, Green Arrow, Aquaman, Cyborg, Green Lantern, dan lain-lain. DC Comics tak sendirian pasca kehadiran Marvel yang mengusung Spider-Man, Captain America, Iron Man, Hulk, Thor, dan sebagainya.

Komik adalah alat imajinasi untuk mengatasi kekecewaan kita terhadap realitas hidup. Pengamat komik Hikmat Darmawan menulis, "dalam gagasan 'komik sebagai alat imajinasi', tidak heran jika orang bisa terbang, atau mengeluarkan sinar-sinar mematikan dari tangannya." Realitas tidak, atau belum, mengizinkan kita bertemu pahlawan yang menyelamatkan negeri dari kejahatan. Maka, komik menjadi alat imajinasi untuk memungkinkan kepahlawanan hadir ke kita, meski hanya dalam pikiran dan visualitas tertentu: komik, kemudian serial televisi dan film. 

Upaya menghadirkan pahlawan imajiner melalui komik bukan hanya terjadi di luar negeri. Komik-komik Indonesia juga menciptakan karakter-karakter pahlawan seperti Gundala Putra Petir, Godam, Aquanus, dan lain-lain. Gundala Putra Petir dan para pahlawan termaksud adalah produk lawas di Indonesia. Pada 23 November nanti, bioskop Indonesia akan kedatangan pahlawan imajiner bernama Valentine. Film Valentine (2017) disutradarai Agus Pestol, ditulis Beby Hasibuan, dan digarap berdasar komik terbitan Skylar Comics yang dikerjakan Sarjono Sutrisno, Aswin M.C. Siregar, dan Ian Waryanto. Kita belum sanggup membicarakan film yang belum tayang. Kita menengok saja komik Valentine yang dijadikan pendasaran film. 



(Valintine salah satu komik dari Skylar Comics. Valentine pertama kali muncul pada tanggal 25 Juni 2014)

Komik Valentine #1 diawali intro, "ditolak oleh salah seorang executive produser tidak membuat Bono menyerah. Bersama dengan kawannya, Wawan, seorang wardrobe dan make up artist, Bono berencana merampungkan idenya menciptakan seorang superhero wanita bernama Valentine dengan membuat dummy film di mana superhero tersebut membasmi kejahatan dan direkam secara candid."

Untuk ukuran komik pahlawan imajiner, Valentine cukup realistis. Valentine, bernama asli Srimaya Bumantara, hanya bermodalkan keahlian bela diri (dan kostum tentu saja) dalam membasmi kejahatan. "Gue ngga dibuang ke planet lain oleh orangtua gue karena planetnya kiamat... Tangan gue juga ngga digigit laba-laba hasil eksperimen kok... Dan gue juga bukan senjata rahasia pemerintah... Lebay itu sih! Semua ini berawal karena gue pengen banget jadi selebritis, pengen jadi bintang film yang kondang! Aneh kan? Hehehe... Ngga juga sih, kalo kalian baca petualangan gue ini sebentar lagi. Tapi yang jelas, selama ada gue, penjahat-penjahat di kota ini ngga bakal bisa tidur nyenyak! Perkenalkan nama gue... Valentine."

Kita tinggal menanti, akankah Valentinedisambut seramai film Wonder Woman(2017) atau tidak. Hanya saja, dengan mengintip latar belakang Sri menjelma Valentine, kita tahu bahwa menjadi pahlawan itu tak serta-merta direncanakan. Segala yang ada dalam damba Sri adalah menjadi bintang film, bukan pahlawan. Kita bisa bekerja keras agar bermanfaat bagi setiap orang, namun belum tentu kita sempat bergelar pahlawan. Sebaliknya, kita barangkali hanya hidup sebisanya, tak berpretensi menjadi apa dan siapa bagi orang lain, kemudian kita malah didaulat sebagai pahlawan. Pada akhirnya, kepahlawanan adalah kerja takdir, dan kita berserah pada takdir dalam memilih pahlawan: semoga bukan yang mati atau imajinasi. (Kolom Detik)

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018