Allah Tidak Sempurna?

Erhaje88

Oleh: Helmi Hidayat*


Benarkah Allah tidak sempurna?
Ketika pertanyaan ini dilontarkan oleh Bahrul Fuad dengan nada suara ditekan, sekitar 100 lebih peserta International Conference on Diversity and Disability Inclusion in Muslim Societies: Experience From Asia di Jakarta terdiam. Bahrul Fuad tak berdiri ketika ia menatap hampir semua peserta konferensi dari Indonesia dan Australia di hadapannya karena ia memang seorang difabel. Allah tak memberi lelaki ini kaki yang sempurna tapi menganugerahinya pikiran yang cerdas.

(Gambar: Helmi Hidayat/Facebook)

Kecerdasan lelaki lulusan strata dua universitas di Belanda ini tampak ketika ia menggugat diamnya peserta konferensi. Kata dia banyak orang mengalami paradoks setiap diajukan pertanyaan ini. ''Mereka tidak berani mengatakan Allah tidak sempurna, tapi berani memandang rendah ciptaan-Nya yang dianggap tidak sempurna. Allah pasti Maha Sempurna. Jika ada anak manusia lahir cacat, itu bukan karena Allah tak sempurna, tapi justru karena Tuhan Maha Sempurna.''

Duduk di samping Prof. Azyumardi Azra dan Prof. Dr. Megan, Bahrul Fuad tampil memukau sebagai pembicara dalam konferensi yang diselenggarakan atas kerjasama Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta dan Australian Catholic University dan Western Sydney University Australia ini. Lontaran pikirannya menjadi menarik karena ia juga menggugat para ahli fikih dunia Islam yang dia nilai belum peduli pada ''fiqih orang cacat''.

Mari tengok sejenak lontaran pikirannya yang merdeka:
Dalam Islam, seseorang baru bisa disebut Muslim atau pindah ke agama Islam jika ia telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Lalu, bagaimana jika ada orang bisu tak bisa mengucapkan dua kalimat syahadat? Tak masuk surgakah ia?

Dalam Islam, saat seseorang melaksanakan akad nikah ia harus melakukan ijab qabul. Bagaimana jika ia bisu? Bagaimana jika ia tuli? Sahkah pernikahan mereka?

Dalam Islam, seseorang harus bersuci dari hadas kecil dan hadas besar jika hendak salat. Bagaimana jika ada orang pincang seperti Bahrul Fuad, kakinya tak sempurna dan ujung celananya selalu tergerai ke lantai kamar mandi?
 ''Tak masuk surgakah saya karena ujung celana saya selalu kena lantai kamar mandi?''

Tak satu pun peserta konferensi yang didukung oleh ''Program Peduli The Asia Foundation'' ini menjawab pertanyaan Bahrul Fuad. Sekali lagi semua hanya bisa terdiam dan baru ''ngeh'' bahwa kajian fiqih dalam Islam tidak sesederhana yang dibayangkan selama ini.

Dalam konferensi yang berlangsung dua hari (21 - 22/11) ini di Hotel GranDhika Jakarta itu, saya tak terlalu tertarik dengan persoalan fiqih. Buat saya, manusia bisa lahir dalam kondisi bisu mulutnya tak bersuara, tapi Allah pasti mampu membaca isi hatinya. Itulah kesempurnaan Allah yang tiada tara. Orang lahir catat bukan karena Allah tak mampu menciptakan orang itu sempurna, tapii karena Allah memang menghendaki ia lahir seperti itu.

Nah, jika orang cacat fisik saja tidak boleh kita hina karena ia lahir dari kesempurnaan Allah, mengapa Anda berani meributkan hidung pesek orang lain? Sungguh, saya juga tidak bisa terima.

*Dosen IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan alumni Pondok Modern Gontor

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: