Mukhtar Syafaat, Sang Kiai dan Pejuang Dari Banyuwangi

Erhaje88

Oleh:  Ayunk Notonegoro

Salah satu ulama kharismatik yang pengaruhnya di Banyuwangi, Jawa Timur, masih terasa hingga kini adalah KH Mukhtar Syafaat Abdul Ghofur. Meski telah wafat lebih dari 26 tahun silam, pendiri Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari tersebut, tetap menjadi panutan.
Setidaknya hal ini bisa diukur dari pengaruh pesantrennya yang sampai saat ini terus menjadi rujukan pesantren-pesantren lain di Bumi Blambangan.


Hal tersebut tentu tidak terlepas dari kealiman, riyadlah (tirakat) dan perjuangan Kiai Syafaat semasa hidup. Putra keempat dari delapan bersaudara pasangan Kiai Abdul Ghofur dan Nyai Sangkep itu, semenjak belia dikenal sebagai pemuda yang rajin menuntut ilmu dan riyadlah. Selain itu, Kiai Syafaat yang terlahir dan tumbuh besar di masa kolonial, dikenal pula memiliki spirit progresivitas.
Ia melihat penjajahan adalah bagian dari bentuk kemungkaran. Bagian yang harus dienyahkan dari persada Nusantara.

Bagaimana sikap dan perjuangan Kiai Syafaat dalam menghadapi penjajah menjadi fragmen yang menarik untuk diteladani. Lebih-lebih pada nuansa Hari Santri Nasional (HSN) seperti saat ini. Baik zaman penjajahan Belanda, Jepang, maupun upaya Sekutu yang ingin merebut kembali kemerdekaan Republik Indonesia, Syafaat muda terus tampil sebagai pejuang.

Kiai Syafaat yang terlahir di Sumontoro, Ploso Klaten, Kediri, pada 6 Maret 1919 itu, memang dalam darahnya mengalir darah seorang pejuang. Dari pihak ayah, mengalir darah bekas pasukan Pangeran Diponegoro. Sedangkan dari jalur ibu, mengalir darah dari sisa-sisa pasukan Untung Suropati. Dua nama pahlawan yang dikenal gigih melawan penjajahan pada masanya.

Perjumpaannya dengan Hadratusysyekh KH. Hasyim Asy’ari dalam relasi guru murid, juga memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter Kiai Syafa’at yang anti penjajahan.
Kiai Hasyim yang mengedepankan politik non-kooperatif dengan Belanda, meneladankan kepada para santrinya untuk bersikap yang sama. Hampir semua santri Tebuireng di bawah asuhan Kiai Hasyim menjadi para pejuang di daerahnya masing-masing. Termasuk pada Syafaat sendiri.
Sikap anti penjajahan Kiai Syafaat di masa penjajahan Belanda, memang tidak termanifestasikan dalam perjuangan fisik dengan mengangkat senjata. Tetapi, kegigihannya dalam menuntut ilmu adalah bentuk perlawanan yang hakiki masa itu. Selain karena rentang usianya masih dalam batas waktu menuntut ilmu, masa perjuangan kala itu juga berubah.
Dari perlawanan fisik, berubah dengan perjuangan politik melalui organ-organ progresif dan nasionalisme pada paruh pertama abad 20.

Baru pada masa pendudukan Jepang, kiprah Kiai Syafaat dalam bentuk perjuangan fisik mulai terlihat. Ia yang telah pindah ke Banyuwangi dan nyantri di Pesantren Ibrahimi Jalen, mulai menekuni perjuangan fisik. Di bawah asuhan Kiai Ibrahim bin Irsyad, Syafaat muda ikut serta dalam barisan Laskar Hizbullah. Ia bersama teman-temannya, seperti Abdul Munan dan Usman Mansur, mengikuti pelatihan militer selama satu bulan penuh.

Pelatihan militer tersebut dilakukan berdasarkan kesepakatan antara penguasa militer Jepang di Besuki dengan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Pelatihan yang digelar di Awu-Awu, Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu itu, diikuti oleh eksponen PETA, Laskar Hizbullah alumni pelatihan militer di Cibarusa, Bogor dan para santri dari pesantren di Keresidenan Besuki.

Pengalaman Kiai Syafaat yang pernah menjadi Romusha (kerja paksa) selama satu minggu di Gunung Tumpang Pitu, Pesanggaran, semakin menebalkan sikap anti-kolonialisme-nya. Ia bersama para pemuda lainnya, terus saja melakukan upaya-upaya perlawanan, meski hanya bersifat klendestin.

Mengingat saat itu, kekuatan Jepang masih begitu kokoh dan dominan. Dan perlawanan bawah tanah memang paling memungkinkan.
Kiai Syafaat benar-benar berjuang mengangkat senjata, baru terlaksana tatkala perang mempertahankan kemerdekaan. Yakni pada 1946, saat pasukan Belanda dan Sekutu memasuki Banyuwangi. Syafaat ikut hadir dimedan tempur. Bekal ilmu militer yang didapatnya saat pelatihan di Temuguruh, benar-benar diaplikasikan.
Ayahanda dari Kiai Hisyam Syafaat itu, bergabung dengan pasukan Barisan Keamanan Rakyat (BKR) yang dipimpin oleh Kapten Sudarmin. Ia ikut melawan pasukan Belanda yang mulai mendarat di Pelabuhan Meneng, Ketapang. Ketika pasukan ini terdesak dan tercerai berai, Syafaat muda memilih untuk bergabung pasukan laskar yang berjuang secara gerilya. Dibawah naungan Front Kayangan Alas Purwo dan Sukomade yang dipimpin oleh Kiai Muhammad dan Kiai Musadad.

Di dalam Front Kayangan tersebut, Syafaat muda turut aktif menyerang pasukan Sekutu yang bermarkas di sekitar Pantai Lampon dan sekitarnya. Biasanya, mereka menyerang konvoi-konvoi kecil yang dilakukan oleh pasukan musuh. Mengingat persenjataan para pejuang republik yang terbatas, sedangkan pasukan musuh memiliki persenjataan yang lengkap, penyergapan adalah bentuk perlawanan yang paling masuk akal.
Perjuangan demikian, terus dilakukan oleh Syafaat hingga pasukan Sekutu benar-benar hengkang dari Indonesia pada 1949. Akan tetapi, hasrat berjuang Syafaat tak pernah padam. Setelah kondisi negara terbilang aman dari ancaman penjajahan, semangat juang ia salurkan ke medan dakwah. Dia kembali ke pesantren dan menekuni keilmuwan lagi.

Tepat 15 Januari 1951, Kiai Syafaat mulai merintis pendirian pesantren. Bermula dari musholla kecil berukuran 7 X 5 meter dengan tujuh orang santri. Lambat laun seiring dengan semakin tersohornya kealiman Kiai Syafaat, santri pun semakin bertambah. Meningkat dari puluhan hingga ribuan pada saat ini.
Bangunannya pun berkembang pesat. Dari bangunan yang tak lebih 34 meter persegi, kini telah meluas lebih dari 5 hektar. Lengkap dengan berbagai sarana pendidikan, baik salaf, formal, maupun non-formal, hingga Perguruan Tinggi.

Sebuah perjuangan yang layak dikenang dan patut untuk diteladani oleh generasi saat ini. Khususnya bagi para santri dan pemuda Banyuwangi.

*Penulis adalah penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU di Banyuwangi.

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018