10 September 2017

Ponpes Sidogiri Mufaroqoh Dari NU Pimpinan KH Said Aqil Siradj?

Polemik berkepanjangan antara KH Ssid Aqil Siradj dengan Ponpes Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur seakan tidak ada titik temu. Antara satu dengan yang lainnya punya dasar tersendiri yang (seakan) tidak memungkinkan untuk bersatu.
Pertemuan antara Habib Taufiq dengan Kiai Said Aqil Siradj saat istirahat shalat dan makan siang sesi seminar "Solusi Dinamika Islam Kekinian di Indonesia dan Dunia", bersama Habib Abubakar al-Adniy (Yaman), Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj (Ketua Umum PBNU), dan KH. Yahya Zainul Ma'arif (Buya Yahya), di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur, Minggu, 24 Januari 2016

 Polemik ini banyak dimanfaatkan pihak ketiga dengan agenda utama kehancuran NU. Sayangnya bagi sebagian kalangan Nahdliyyin tidak menyadarinya. Yang pro Sidogiri dikompori isu-isu negatif yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kevalidannya terkait Kiai Said Aqil. Jika anda jeli, kebanyakan web/blog atau media online yang menyebarkan isu dan digoreng sedemikian rupa adalah media media yang sejak lama tidak suka NU. Harapan mereka, para penghancur NU, adalah ketidak percayaanya kaum nahdliyyin kepada kiai alumni Lirboyo, Kediri tersebut. Sudah bisa ditebak arahnya. Karena saat ini mereka keder bila berhadapan langsung dengan pria asal Cirebon tersebut.

Yang pro Kiai Said Aqil, dikipas-kipasi supaya 'membenci' (santri) Sidogiri. Seperti diketahui, Sidogiri termasuk salahsatu basis dan kiblatnya NU Jawa Timur. Bilamana dua kubu ini 'geger', niscaya para perusak NU (biasanya mengaku-ngaku NU KH Hasyim Asy'ari, NU GL, dan semacamnya) akan mudah diobok-obok. Jika misi mereka berhasil, lambat laun NU akan dikuasai oleh orang-orang dari golongan Wahabi maupun HTI.
Ketika NU sudah dipegang oleh orang-orang yang sebetulnya tidak tahu latar-belakang dan ruh NU, mereka akan mudah menguasai Nusantara. Dengan begitu, mereka mudah menyebarkan idiologinya.

Kembali ke persoalan Sidogiri, benarkah ia mufaroqoh dari NU kepemimpinan Kiai Said Aqil Siradj? Berikut penjelasan alumni pesantren Sidogiri yang ia tulis di facebook. Penjelasan ini mungkin bisa jadi jawaban pertanyaan-pertanyaan selama ini yang mengganjal. Walaupun bukan mewakili Sidogiri atau pihak manapun, setidaknya opini ini bisa mencairkan dan 'mendamaikan' perang dingin antra kedua belah pihak.

Dwy Sadoellah:
"Ada beberapa orang yang bertanya tentang sikap Sidogiri saat ini, khususnya terkait dengan NU. Bahkan, ada yang beranggapan Sidogiri mufaraqah dari NU dan bergabung dengan FPI. Saya menulis ini tidak mewakili siapa-siapa, apalagi mewakili Sidogiri. Saya menulis menurut sudut pandang saya pribadi.
Pertama, Sidogiri adalah salah satu pendiri NU dan tidak pernah mufaraqah dari NU. Terkait dengan polemik dengan Kiai Said Aqil Siroj hal itu adalah medan ilmiah yang sudah memiliki ruang tersendiri, jangan dibawa-bawa ke dalam urusan di luar persoalan ilmiah. Sidogiri tidak pernah menolak kepemimpinan Kiai Said, bahkan saat Muktamar Jombang, Hadratussyekh KH. A. Nawawi bin Abd. Djalil termasuk salah satu anggota Ahlul Halli wal Aqdi. Bahkan, menjelang adanya aksi 212, Sidogiri mengutus beberapa orang kepada Kiai Said Aqil untuk meminta pertimbangan kepada beliau, di samping kepada Kiai Ma’ruf Amin, Kiai Maimun dan Habib Rizieq.
Yang dikritik oleh Sidogiri dari Kiai Said adalah beberapa poin pemikirannya yang dianggap tidak sesuai dengan kitab yang dipelajari oleh santri-santri di Sidogiri (tidak lebih). Kiai Said sudah dua kali diundang ke Sidogiri untuk ditabayyun mengenai pemikiran-pemikiran tersebut. Beliau datang, dan terjadi dialog ilmiah yang cukup panas tapi bermartabat.

Kedua, mengenai adanya alumni Sidogiri yang kadangkala mencela Kiai Said dengan bahasa yang kurang sopan misalnya, maka hal itu adalah kecenderungan pribadinya—seba
gaimana beberapa alumni Sidogiri yang pro Kiai Said, hal itu juga kecenderungan pribadinya. Keduanya sama-sama tidak mewakili Sidogiri. Menurut saya, alumni yang menolak kepemimpinan Kiai Said atau mencelanya dengan bahasa-bahasa yang kasar dan tidak ilmiah, hal itu sudah kebablasan—sebagaimana alumni yang mendukung pemikiran Kiai Said Aqiel secara membabi buta, hal itu juga kebablasan.

Sedangkan mengkritik pemikiran, kebijakan, dan langkah-langkah Kiai Said dalam membawa NU, dengan bahasa yang santun dan ilmiah, maka hal itu merupakan sesuatu yang sangat wajar. Hal itu merupakan bentuk dinamika sehat yang harus dirawat dalam organisasi sebesar Nahdlatul Ulama. Pendukung Kiai Said seharusnya tidak terlalu alergi dalam menyikapi polemik ilmiah dan kritik-kritik yang membangun.

Ketiga, mengenai sikap Sidogiri yang saat ini seolah-olah terlihat keras, hal itu bukan karena Sidogiri berubah, tapi karena tantangannya yang berubah. Tentu bukan suatu yang bijak, menyikapi tantangan yang berbeda dengan strategi dan cara yang sama.
"